Saya pribadi bukanlah orang yang benar-benar akrab dengan sosok Steven Wijata. Bukan karena saya dan dia ada sesuatu hal yang tidak menyenangkan, namun lebih karena waktu dan tempat yang berbeda. Namun, saya yakin, satu angkatan 2006 mengenal, menyayangi, dan kehilangan dirinya. Oleh karena itu, izinkan saya mencurahkan kenangan saya tentangnya, untuk meyakinkan dirinya di sana bahwa kami semua akan selalu ingat pada dirinya, salah satu dokter angkatan 2006.

Semua orang jelas mengenal sosok Steven Wijata pada awal masuk. Sosok gempal, putih, tinggi besar bukanlah sosok yang sulit dilupakan. Sosoknya persis seperti anak kelebihan gizi yang dimanja dengan lemak dan karbohidrat tinggi. Mungkin, seperti layaknya banyak anak-anak baru masuk lainnya, waktu antara SMA dan kuliah terlalu senggang baginya.

Semua orang juga, pada akhirnya, perlahan melupakan sosok Steven Wijata, digantikan oleh sosok luar biasa yang namanya dipangkas dengan hati yang bengis oleh oknum tidak bertanggung jawab menjadi satu huruf saja. W. W, yang cool, yang keren, yang peduli, yang pintar, yang rajin, yang religius, dan semua label positif lainnya.

W mungkin adalah salah satu dari segelintir pria di angkatan 2006 yang bisa dikatakan “keren abis”. Yah, semua orang tahu, dia berhasil membentuk tubuhnya dari sosok gempal seperti kelebihan gizi menjadi sosok besar dan berbadan “jadi”, alias “hup-hup”, kalau meniru istilah kaum estrogen 2006. Hal itu jelas membuat stres para kaum pria, karena sekarang para wanita seakan menjadi satelit di sekitar W.

Namun membahas W dari sekedar tubuh dan tampang jelas hanya sekedar kulit belaka. Karena kepribadiannya juga merupakan sosok Role Model bagi orang lain. Tak perlu dipungkiri lagi, W menduduki jajaran atas dalam perihal IPK dan tolak ukur penilaian akademis lainnya. Hal ini bukan saja karena didukung oleh kepintarannya, namun karena ia RAJIN. Rajin yang menggunakan huruf besar, karena yah, dia benar-benar rajin. Sudah ganteng, badan jadi, pintar, rajin pula, kurang apa lagi dia?

Di balik sosoknya yang luar biasa tersebut, tak disangka ia seorang sosok yang kalem (tidak seperti saya), ramah (juga tidak seperti saya), dan juga lembut (mana mungkin seperti saya?). Yah, ia adalah sosok impian semua wanita untuk dijadikan suami, dan sosok yang dicemburui semua pria. Karena, di balik semua hal tersebut, ia masih, dan masih sampai detik ini, mencintai Tuhan.

Hal yang membuat saya seratus persen yakin, pemberitaan media yang berat sebelah dan tidak sopan tersebut tidak benar. Hal yang juga membuat ia memiliki tangan dan hati yang peduli, peduli pada teman-temannya, peduli pada keluarganya, peduli pada sesama, peduli pada dunia. Ia adalah sosok role model angkatan kami, sosok yang akan menjadi panutan kami.

Satu hal lagi yang membuat aura W begitu bercahaya adalah semangatnya yang memang begitu berapi-api, begitu optimis, dan penuh impian. Impian yang mulia, impian yang, lagi-lagi, kembali pada hatinya yang peduli. Menyerah adalah kata-kata yang tak dapat dalam kamusnya. Semangatnya dalam berbakti, bagi sahabat, bagi pasien, bagi masyarakat, bagi orang tua, bagi keluarga, semuanya didasari akan cintanya pada Tuhan dan keluarganya.

Ya, W, adalah sosok pria yang begitu mencintai keluarganya.

Sosoknya yang luar biasa itulah yang membuat kami semua begitu berduka, begitu kehilangan.  24 September tidak akan menjadi hari yang menyenangkan bagi kami. 24 September juga tidak akan menjadi hari penuh duka. Bagi kami, 24 September, setiap tahun, adalah Remembrance day. Kita mungkin tidak akan pernah tahu, apa kata-kata terakhir W. Tapi seseorang telah membuat kita menoleh pada status BB W yang terakhir, yakni tagline dari PLD kita. Devotio non mox Promissio, Pengabdian bukan sekedar janji. Dan 24 september, setiap tahunnya, akan menjadi Remembrance Day bagi kita semua, ketika kita sudah menjadi dokter yang tenggelam dalam kekayaan yang tidak halal dan hati yang tidak peduli, akan sebuah tagline, Devotio non mox promissio, Pengabdian bukan sekedar janji, dan akan sosok yang pernah, akan, dan selalu berada di dalam hati kita semua untuk mengingatkan kita akan idealisme kita yang hampir luntur, karena memang beliau adalah sosok yang begitu ideal. Untuk seorang sahabat, untuk seorang saudara, untuk malaikat pengetuk hati kita, untuk Steven Wijata. There’ll be no Rest in Peace for you, because you will work, fight, and give with, and along, us.

Another Wonderful Memorial of W by Paul Kris Manengkei: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150386556392456