(Tulisan ini masih merupakan konsep kasar yang masih harus diperhalus tata bahasanya menjadi formal dan rapi)

Saat ini, masyarakat Indonesia menatap dokter dengan dua pandangan berbeda. Satu sisi memandang dokter sebagai Sang Suci dengan tablet-tabletnya. Tidak peduli sakit apa, dokter hanya perlu menatap dan menyentuh, dan bam!, keluarlah tablet-tablet sakti. Jika sudah setengah mati, berpindahlah ke rumah sakit, dengan infus (ini sudah wajib) dan jarum suntiknya, bam!, bereslah semuanya. Bagaimana jika pasien ternyata meninggal? Sudah kehendak Yang Kuasa.

Sisi yang lain menatap benci kepada dokter. Dokter hanyalah setan berjubah putih yang siap menyedot harta kekayaan tanpa peduli dengan pasien. Sombong, angkuh, dan serakah. Melihat pasien hanya selirik, lalu keluarlah berderet omong-kosong yang tidak perlu. Maka berlomba-lombalah mereka berobat ke luar negeri, dan yang terkapar pasrah di dalam negeri hanya bisa menatap benci sambil mencari pengacara.

Kedua hal ini berbuah dari satu hal yang sama; kedokteran paternalistik, setengah dewa, yang angkuh dan menganggap pasien sebagai bongkahan daging dengan penyakit-penyakitnya. Tak heran, kini kedokteran Indonesia berada dalam bencana. Dan sialnya, para dokter baru yang seharusnya melek, ternyata masih menganggap dirinya begitu anggun dan mulia, lupa menapakkan kakinya di dunia.

Kepada pihak pertama, makhluk setengah dewa pun putus asa. Mereka tak mau tahu apa, yang penting mereka sudah menunaikan sesajennya. Sekarang saatnya para dokter menyerahkan berkahnya, berupa pil dewa yang mampu menurunkan gula darah, darah tinggi, kolesterol, juga demam dan tidak enak badan. Tak peduli mereka dengan berbagai olahraga, kebersihan, pola makan, dan sebagainya. Bukan tugas mereka menjaga kesehatan. Itu tugas dokter. Maka mampuslah dokter-dokter kita yang mulia, beramai-ramai mereka menyajikan pil-pil dewa, termasuk di dalamnya pil sakti nan berkhasiat, antibiotik dan kortikosteroid.

Kepada pihak kedua, makhluk setengah dewa pun menjadi hamba. Para dokter hanya menjadi pelayan mereka, menghantarkan apa yang mereka minta. Akibatnya, omong kosong pun keluar semua. Pemeriksaan berlebihan, biaya dilebih-lebihkan, semua agar pesanan kelihatan mewah dan menawan. Ada yang puas, ada yang tidak. Sama, mampuslah para dokter kita yang mulia.

Masih banyak stereotip lainnya. Bahwa dokter layanan primer hanyalah sesuai namanya, dokter Puskesmas. Pusing, Keseleo, Masuk angin. Dokter yang bodoh istilahnya. Kalau kau punya harta, lebih baiklah langsung ke spesialis saja. Merekalah yang sebenarnya bijaksana. Tak heran layanan primer menjadi tak menarik. Para dokter berlari-lari mengambil spesialistik, dan habislah layanan primer kedokteran Indonesia.

Ada juga bahwa dokter adalah Yang Mengobati. Kalau tak sakit, tak perlulah ke mereka. Sakit sedikit, berobatlah segera. Akibatnya? Penyakit sepele pun berlimpah ruah, bercampur dengan penyakit yang sudah berat namun ditepis oleh yang sakit. Maka resmilah Puskesmas, Pusing, Keseleo, Masuk angin. Karena yang lain, tak mampu lagi dilihat dokter kita yang mulia.

Namun sekarang, semua itu sudah berlalu. Kedokteran saat ini menekankan pada prinsip pencegahan, yang berarti bahwa tombak layanan primer bukan lagi sekedar semboyan. Kini, kedokteran primer menjadi kunci layanan kesehatan. Idealnya, semua pasien harus melalui dokter keluarga mereka, dan hanya yang pentinglah yang akan dirujuk dan mencapai para dokter spesialis. Dokter keluarga bekerja tidak lagi mendulang pasien, namun berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kesehatan keluarga yang ia bina. Pencegahan kata kuncinya. Akibatnya, masyarakat dituntut untuk berpartisipasi aktif untuk menjaga kesehatan mereka. Tidak lagi hanya menunggu sampai terkena penyakit, baru berobat ke dokter.

Selain itu, para dokter dituntut untuk mengamalkan keempat etika profesinya. Beneficence, Non-maleficence, Autonomy, dan Justice. Untuk kebaikan pasien, tidak membahayakan pasien, sesuai keinginan pasien, dan kesetaraan semua pasien. Tidak ada lagi paternalistik, tidak juga hamba yang dikendalikan dengan uang.

Namun, semua ini hanya bisa terwujud jika sistem jaminan sosial sudah berjalan. Sebuah sistem di mana kesehatan tidak lagi merupakan biaya perorangan, namun menjadi biaya sebuah komunitas. Semoga.