Tak perlu dipungkiri, tidak semua dokter itu “bener”. Banyak dokter yang brengsek, seperti halnya semua profesi di dunia. Hanya saja, kebrengsekan dokter kadang didramatisir, sampai-sampai yang tidak brengsek juga menjadi ikut terseret.

Hal yang sama juga terjadi pada sebuah rumah sakit pemerintah bernama Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo. Rumah sakit yang lebih sering dikenal dengan sebutan “RSCM”, atau “Cipto” ini, jelas tak mungkin terhindar dari segala macam penjelek-jelekan nama baik. Rumah Sakit Cepat Mati, istilahnya. Apalagi, dengan jumlah staf yang begitu banyak (RSCM, jika menilik jumlah stafnya, sudah dapat dikategorikan sebagai industri besar), tidak termasuk para calon tenaga medis dan paramedis yang berkali-kali lipat banyaknya, tak heran jika RSCM menjadi sorotan. Angka kematian yang tinggi di rumah sakit ini, akibat dari posisi rumah sakit ini sebagai Pusat Rujukan Nasional yang menyebabkannya hampir selalu menerima pasien dengan kondisi lanjut, bahkan terminal, juga tidak memperbaiki keadaan.

Hal lain yang sering menjadi sorotan adalah “kekurangajaran” para calon dokter alias koass. Ketidaknyamanan pelayanan. Ketidaksopanan petugas. Dan masih banyak lagi hal-hal lain, yang pada akhirnya, dibanding-bandingkan dengan rumah sakit luar negeri, biasanya Singapura dan Malaysia. Rumah sakit, yang sayangnya, mereka lupa memiliki kondisi yang sangat jauh berbeda dengan rumah sakit yang menjadi bandingan mereka.

Saya tidak akan menyalahkan mereka yang begitu tidak sukanya dengan RSCM. Saya juga tidak akan membenarkan mereka yang tidak memberikan pelayanan semaksimal yang bisa mereka berikan. Saya hanya ingin mengingatkan, bahwa mereka juga manusia. Bisa lelah, bisa marah. Bekerja selama 8 jam, 12 jam, sampai 24 jam, tanpa henti, jelas melelahkan dan memancing emosi. Namun tidak, saya tidak akan membenarkan mereka.

Saya di sini juga tidak akan mempertanyakan apakah mereka yang mengamuk di luar sana, berteriak-teriak soal malpraktek, tahu bahwa bentuk tulisan yang benar sebenarnya adalah malapraktik. Bahwa semua kematian bukan berarti adalah malapraktik. Bahwa semua kesalahan di RSCM, begitu ketahuan, akan mendapat hukuman yang berat, diketahui ataupun tidak oleh publik. Tidak, saya tidak akan menanyakan hal tersebut.

Yang ingin saya pertanyakan adalah, mengapa hal buruk begitu cepat menyebar, tidak peduli dengan kebenarannya. Namun, hal baik tidak pernah terkabarkan sedikitpun ke dunia. Padahal, sepertinya semua agama mengajarkan bahwa mengucapkan hal yang benar adalah sesuatu yang wajib. Musavada Veramani Sikkhapadam Samadiyami. Saya bertekad untuk melatih diri untuk menghindari berucap yang tidak benar.

Tidak banyak yang tahu, FKUI-RSCM menurunkan stafnya untuk baksos, bencana, dan sebagainya. Tidak banyak yang tahu, entah berapa pasien yang tidak mampu yang diizinkan berhutang dahulu, sambil segala surat menyurat jaminan kesehatan diurus oleh keluarga. Tidak banyak yang tahu, berapa tuna wisma yang diantarkan ke RSCM, yang dibiayai seluruh biaya pengobatannya oleh rumah sakit. Tidak banyak yang tahu, entah berapa anak terlantar yang diletakkan seenaknya di ruang bayi, dan ibunya kabur entah ke mana, yang akhirnya semua biaya hidupnya ditanggung oleh RSCM sampai Depsos mampu menempatkan bayi tersebut di panti asuhan. Oh tidak, tidak banyak yang tahu.

Tidak banyak yang tahu, betapa banyak para dokter-dokter, dan calon-calon dokter, dan entah berapa berbagai petugas, perawat, dan calon perawat yang rela menghabiskan waktu mereka hanya untuk tempat pasiennya curhat. Yang akhirnya melanggar sumpah mereka sendiri dengan membiayai perawatan pasien tersebut. Yang membuang waktu di luar jam kerja mereka karena keluhan pasien, sederhana maupun kompleks. Yang berusaha sekuat tenaga mereka, berusaha menekan agar biaya yang keluar adalah biaya yang efisien, semua tindakan sesuai dengan kebutuhan dan ilmu terkini, tidak seperti rumah sakit yang terkenal di “sana”. Oh tidak, tidak banyak yang tahu.

Entah kapan mereka akan tahu. Atau mungkin, entah kapan mereka akan peduli. Tapi siapa aku, berani mendikte mereka? Aku hanya seorang koass belaka. Yang cuma memanfaatkan mereka saja.