BAGIAN III: MEMBEDAH UJIAN KOMPETENSI DOKTER INDONESIA DAN MENCABIK FORUM DOKTER MUDA INDONESIA

Salah satu hal yang diajarkan oleh salah satu senior yang paling saya hormati, adalah pentingnya esensi di balik semuanya. Oleh karena itu, saya akan mencoba menggali esensi di balik UKDI ini, dalam bahasa saya sendiri. Semua tulisan ini adalah murni pendapat penulis pribadi.

Tak perlu dipungkiri lagi, kualitas dokter di seluruh Indonesia sangatlah timpang. Hal ini tidak saja dipengaruhi oleh lahirnya fakultas kedokteran di Indonesia yang riang gembira seperti layaknya melahirkan anak khas Indonesia, banyak anak banyak rezeki, juga karena banyaknya dokter-dokter tanpa jiwa “belajar sepanjang hayat”. Untuk hal kedua jelas sudah dikawal dengan kebutuhan akan adanya SKP, namun untuk hal pertama, IDI menyiapkan sebuah Konsil Kedokteran Indonesia dengan Ujian Kompetensi Dokter Indonesia-nya.

Saat ini, dengan semakin menjamurnya institusi kedokteran, pihak yang berwajib hanya bisa mengajukan prasyarat sarana dan prasarana, sumber daya manusia, juga bentuk kurikulum kedokteran yang standar seluruh Indonesia (yang, bagi yang belum tahu, sudah ada). Namun, tidak ada jaminan bahwa keberadaan itu semua menunjang institusi tersebut untuk melahirkan dokter yang kualitasnya sesuai dengan harapan. Tentu saja, idealnya adalah pemantauan berkala proses berjalannya kurikulum di setiap institusi kedokteran. Namun hal ini adalah sesuatu yang tidak mungkin, tidak saja di Indonesia, namun sudah pasti di seluruh negara di dunia, karena pasak yang lebih besar daripada tiang, itupun kalau pasaknya bisa dibuat. Oleh karena itu, Indonesia mengikuti sebuah bentuk yang sudah dilakukan berpuluh-puluh tahun di berbagai negara seluruh dunia, sebuah ujian, sebagai batas kualitas dokter baru di Indonesia nantinya.

Bentuk ujian yang ideal adalah sebuah bentuk ujian sanggup menilai kualitas pengetahuan dan keterampilan klinis. Hal ini sudah tertuang dalam sebuah bentuk ujian OSCE (Objective Structured Clinical Examination), yang sayang sekali tidak diketahui terjemahan standarnya sampai sekarang (penulis ingin mengajukan Penilaian ter-Struktur Klinis Objektif, atau PSK Objektif, tapi penulis menganggap bahwa nama tersebut akan ditolak baik oleh IDI maupun Depdiknas). Namun, dengan segala keterbatasan biaya, tenaga, dan waktu, hal ini tidak memungkinkan untuk dilakukan oleh KKI (Konsil Kedokteran Indonesia) pada tahun-tahun pertama berjalannya UKDI, sehingga bentuk yang ada barulah ujian pilihan berganda 200 soal. Kabar terakhir menyatakan bahwa kemungkinan OSCE (bukan PSK-O) akan dilaksanakan tahun depan.

Namun, ironisnya, sebuah organisasi tidak jelas (tidak jelas, karena sampai saat ini AD/ART-nya tidak mampu dipublikasikan. Hal ini sudah ditanyakan oleh penulis pribadi kepada email yang bersangkutan, namun tidak ada tanggapan) yang menamai dirinya Forum Dokter Muda Indonesia menolak keberadaan UKDI. Keberadaan UKDI dianggap menghambat majunya seorang mahasiswa menjadi seorang dokter. Tentu saja, ketika mengacu kepada hambatan, hal ini dimaksudkan untuk para calon dokter yang tidak kompeten (atau dengan kata lain, tidak lulus UKDI). Hal ini tentu saja tidak segaris dengan kebutuhan Indonesia yang tinggi akan kebutuhan dokter, sehingga jauh lebih baik kita melepaskan dokter-dokter yang tidak jelas kualitasnya ke dalam masyarakat. Selain itu, UKDI dengan jelas dimaksudkan untuk menghina institusi kedokteran, para dosen, juga rumah sakit kedokteran yang telah bersusah payah mendidik dokter-dokter tidak kompeten tersebut. Ketidaklulusan calon didikan mereka jelas menunjukkan boroknya para institusi tersebut, sehingga alangkah baiknya jika UKDI dihilangkan agar tidak ada institusi kedokteran yang ketahuan tidak menuruti standar kurikulum yang ada. Bahkan, para pengikut FDMI yang setia menyuarakan teori konspirasi bahwa UKDI adalah aset korupsi bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya. Satu-satunya alasan mereka yang masuk akal adalah mengenai bentuk ujiannya, yang sudah dijawab pada alinea sebelumnya.

Jelas, tidak ada yang salah dalam menyatakan pendapat. Namun, hal yang membuat FDMI ini dipertanyakan adalah keberanian oknum-oknum tersebut untuk membawa nama Indonesia dalam menyelenggarakan aksi mereka, di mana notabene FDMI hanya terdiri atas segelintir institusi kedokteran di Jakarta, yang bahkan tidak mewakili suara seluruh mahasiswa dari masing-masing institusi. Hal ini jelas telah mencemarkan nama baik dokter muda seluruh Indonesia, yang berujung pada nama kedokteran Indonesia. Tuntutan penulis untuk kejelasan AD/ART dari FDMI sampai detik ini masih belum mendapat balasan. UPDATE (14/09/10): Bahkan, permintaan yang dilayangkan secara terbuka di halaman Facebook FDMI tersebut (selain via email) dihapus oleh adminnya. Sekarang pertanyaan saya, apakah ini bukti bahwa FDMI hanyalah organisasi jadi-jadian untuk sensasi belaka, atau bagaimana? Karena jelas, tuntutan sederhana seperti itu tidak dapat dijawab oleh sebuah FDMI itu sendiri, bahkan sampai dihilangkan barang buktinya. UPDATE (16/09/10): Akhirnya jawaban sudah diberikan. Namun, jawaban tersebut lebih terkesan kabur dari pertanyaan, dan selain itu, dijawab dalam keadaan emosi terhadap wall orang lain.

FDMI kemudian mengadakan aksi ke Komisi IX DPR, Komisi Kesehatan, menuntut dihapuskannya UKDI, pada tanggal 23 Agustus 2010. Tuntutan ini jelas aneh, karena UKDI dilaksanakan oleh KKI dan hubungannya dengan IDI dan KDI, sebagai bentuk pelaksanaan dari UU Praktik Kedokteran, oleh karena itu tidak ada sangkut pautnya dengan DPR. Komisi IX menerima dengan terbuka, dan akan dibawa dalam rapat kerja gabungan dengan Menko Kesra, Menteri Kesehatan dan Menteri Pendidikan Nasional. Akhir kata, Komisi IX mengajukan bahwa sebaiknya FDMI membawa hal ini dalam bentuk peninjauan kembali UU Praktik Kedokteran kepada Mahkamah Konstitusi.

Akhir kata, sampai saat ini, IDI masih tetap kokoh bahwa UKDI tetap harus ada, dan FDMI semakin tidak jelas. Semoga sosialisasi UKDI bisa lebih baik lagi, agar tidak lagi terlahir organisasi aneh seperti ini. Dengan ini, serangan saya untuk FDMI, dengan resmi ditutup.

Bagian Pertama
Bagian Kedua

LAMPIRAN

Email yang saya kirimkan (dan juga wall di halaman FDMI yang sudah mereka hapus) (5 September 2010)

Dengan hormat,
Saya selaku salah satu dokter muda Indonesia mungkin telah salah paham dengan keberadaan FDMI, yang sesuai namanya, seharusnya mewakili suara seluruh dokter muda di Indonesia. Sialnya, saya pribadi tidak pernah merasa pernah terwakilkan suara saya, khususnya dalam kegiatan FDMI baru-baru ini. Akibatnya saya merasa bahwa saya telah salah paham mengenai identitas FDMI.

Mohon agar FDMI dapat membantu saya lebih memahami organisasi ini dengan mengirimkan kepada saya Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga FDMI, khususnya di bidang Bentuk, Tujuan, Latar Belakang, Anggota dan Konstituen, Visi dan Misi, serta Program Kerja. Juga bentuk dan tujuan pertanggungjawaban dari Forum ini.

Segala informasi yang diberikan kepada saya akan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menjawab kebingungan universitas saya mengenai Forum ini. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih. Saya mohon jawabannya dapat diberikan dalam waktu seminggu, yaitu jatuh tempo 12 September 2010.

Salam Sejawat,

Rodri Tanoto
Fakultas Kedokteran Univesitas Indonesia

Email (dan comment wall) follow up (11/09/10)

Dengan hormat,
Dengan ini saya ingin mengingatkan harapan dan permintaan saya kepada FDMI atas informasi yang jelas mengenai organisasi ini. Sesuai dengan permintaan saya, 12 September 2010, yaitu esok hari. Saya rasa itu bukanlah hal yang sulit dilakukan, mengingat segala sesuatu yang saya minta merupakan sesuatu yang seharusnya sudah dibahas ketika sebuah organisasi didirikan. Jika tidak, saya rasa bebas bagi saya untuk menganggap bahwa FDMI hanyalah sesuatu yang memang didirikan demi sensasi belaka. Terima kasih.

Rodri Tanoto
Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia

Jawaban FDMI (16/09/10) (Jawaban ini diberikan atas sindiran salah satu komentar dalam halaman FB FDMI. Wall Follow up sudah dihapus)

ini bukan keanehan, kawan lilis, tapi supaya kita tau, bahwa dia boleh tidak sepakat, tapi banyak tulisan di blog dia, yang tidak menghargai pendapat kami dengan kata yang tidak etis, daripada menimbulkan emosi, karena sesuatu lain hal, kita hapus, tapi kalo dia mau berdebat langsung persoalan ini dengan forum ini, selama masih dalam etika yang baik kita akan terima, blog dia menyindir senior 2x diatasnya, kita tahu dia hadir di forum itu koq, terus ada masalah apa kalo kita tidak punya ad/art, kalo dia mau bantuin buat ad/ art silahkan bantu, tapi jangan banyak mengkritik saja. kalau tidak sepakat dengan forum ini, kami persilahkan buat forum tandingan, kita negara demokrasi koq.
jangan membangun retorika saja. Kalo menurut anda kampus anda tidak mampu mengkompetensi anda, sebagai dokter, ya silahkan anda mendukung uji kompetensi yang ada, supaya anda layak terkompentensi, meski anda katakan soal kompentesi adalah makanan sehari2x di kampus anda. kita tidak soal oriented koq. apalagi soal pilihan ganda orinted, Dokter akan selalu belajar seumur hidup, kalo menurut anda bahwa UKDI adalah jaminan seorang dokter bermutu dan berkompeten ya perjuangkanlah. Kita akan menghargai perjuangan saudara, bahwa dokter di kompetensi dengan 200 soal dan dikerjakan dalam 3 jam. kalau tidak lulus dengan soal paling mudah maka otak kosong.
kalau besok ternyata setelah di evaluasi ternyata ukdi yang berjalan selama ini meleset dari perkiraan saudara, dimana pelayanan kesehatan masyarakat Indonesia, sama saja.dan tidak ada sangkut paut nya dengan UKDI, yang bertujuan menciptakan dokter bermutu. hhhmmmmmph
bagaimana?
bila pohonnya tidak baik bagaimana bisa menghasilkan lulusan yang baik, binalah dulu sistem pendidikannya, standarisasi dulu lah pendidikan nya.silahkan saudara buat dukung UKDI. kami hormati.

Jawaban atas jawaban FDMI (16/09/10)

Hahaha, memang benar kata orang-orang, moderator halaman FB FDMI memang emosian.
Tidak apa-apa, terima kasih telah mengkonfirmasi bahwa anda tidak punya AD/ART, ini yang saya ingin tahu dari awal. Terima kasih juga untuk argumentum ad hominem anda, menyerang isi blog saya alih-alih menjawab permintaan AD/ART saya.
Hidup kebebasan berpendapat! Namun saya rasa kalau kedua pihak tetap kokoh mempertahankan ide masing-masing, tidak ada solusi dari perdebatan ini.
Terima kasih atas bimbingannya selama ini, senior-senior saya dari FDMI. Semoga anda tetap dapat menjadi panutan, sebagaimana seorang senior itu seharusnya. Kalau ada jarum yang patah, jangan disimpan di dalam peti. Kalau ada kata yang salah, jangan disimpan di dalam hati.

Wall Follow upini bukan keanehan, kawan lilis, tapi supaya kita tau, bahwa dia boleh tidak sepakat, tapi banyak tulisan di blog dia, yang tidak menghargai pendapat kami dengan kata yang tidak etis, daripada menimbulkan emosi, karena sesuatu lain hal, kita hapus, tapi kalo dia mau berdebat langsung persoalan ini dengan forum ini, selama masih dalam etika yang baik kita akan terima, blog dia menyindir senior 2x diatasnya, kita tahu dia hadir di forum itu koq, terus ada masalah apa kalo kita tidak punya ad/art, kalo dia mau bantuin buat ad/ art silahkan bantu, tapi jangan banyak mengkritik saja. kalau tidak sepakat dengan forum ini, kami persilahkan buat forum tandingan, kita negara demokrasi koq.
jangan membangun retorika saja. Kalo menurut anda kampus anda tidak mampu mengkompetensi anda, sebagai dokter, ya silahkan anda mendukung uji kompetensi yang ada, supaya anda layak terkompentensi, meski anda katakan soal kompentesi adalah makanan sehari2x di kampus anda. kita tidak soal oriented koq. apalagi soal pilihan ganda orinted, Dokter akan selalu belajar seumur hidup, kalo menurut anda bahwa UKDI adalah jaminan seorang dokter bermutu dan berkompeten ya perjuangkanlah. Kita akan menghargai perjuangan saudara, bahwa dokter di kompetensi dengan 200 soal dan dikerjakan dalam 3 jam. kalau tidak lulus dengan soal paling mudah maka otak kosong.
kalau besok ternyata setelah di evaluasi ternyata ukdi yang berjalan selama ini meleset dari perkiraan saudara, dimana pelayanan kesehatan masyarakat Indonesia, sama saja.dan tidak ada sangkut paut nya dengan UKDI, yang bertujuan menciptakan dokter bermutu. hhhmmmmmph
bagaimana?
bila pohonnya tidak baik bagaimana bisa menghasilkan lulusan yang baik, binalah dulu sistem pendidikannya, standarisasi dulu lah pendidikan nya.silahkan saudara buat dukung UKDI. kami hormati.