BAGIAN I: LAHIRNYA FORUM DOKTER MUDA INDONESIA

Karena yang bertanya sangatlah banyak, sedangkan saya capek menceritakannya berulang-ulang, maka dengan ini saya akan menuliskan pengalaman saya ketika menghadiri sebuah forum luar biasa di UAA, C*w*ng. Identitas yang saya anggap akan mempermalukan korban akan saya sembunyikan sebaik mungkin, namun kalau bocor juga ya saya tidak bisa bertanggung jawab.

Semua berawal dari kekurangajaran Fakhri Rahman, Ketua SM IKM FKUI saat ini, untuk menjebak saya agar ikut dalam sebuah forum yang sangat tidak membuat saya berselera, “Dokter Muda Tolak UKDI sebelum Sumpah Dokter”. Sangat tidak penting. Namun karena dijebak dengan alasan, “Kita kan butuh orang yang sudah jadi ko-ass Rod.”, akhirnya saya menjerumuskan Abhirama Novandra Putra dan Marinda Asiah Nuril Haya dalam neraka kebosanan yang sama. Memang karakteristik orang Indonesia, kalau dalam kesusahan yang pertama kali dilakukan adalah mencari (baca: membuat) teman sepermainan, eh seperjuangan.

Di sana jujur awalnya saya merasa inferior, disebabkan saya sudah merasa terlalu tua untuk mencampuri urusan ini (saya sudah tingkat V saat ini, angkatan 2006). Namun perkenalan sebelum forum dimulai benar-benar membuat saya merasa lebih inferior lagi.

“Perkenalkan, nama saya X, Universitas Y, angkatan 2003.”

Dan begitu seterusnya dan rata-ratanya. Sekarang hal ini membuat saya menjadi angkatan kedua termuda, setelah si Fakhri Rahman dan ajudannya si Bhayu Hanggadhi Nugroho. Namun, perkenalan terakhir benar-benar menampar kesombongan saya yang menganggap diri sudah uzur untuk mencampuri urusan ini.

“Saya A, dari Universitas B, angkatan SEMBILAN PULUH SEMBILAN.”

Sekarang saya benar-benar diturunkan pangkatnya dari angkatan yang tertua.

Cerita berlanjut ke intinya.

Forum tolol ini diawali dari selembar surat tembusan dari AIPKI (Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia, yang jelas-jelas isinya Dekan-Dekan FK seluruh Indonesia, termasuk Dekan Fakultas si Moderator Bego) yang berisikan kesepakatan seluruh FK agar UKDI dilaksanakan sebelum sumpah, agar FK tersebut masih bertanggung jawab terhadap mahasiswa tersebut sampai ia lulus UKDI. Segelintir mahasiswa UAA panik, lalu dengan sigap membentuk Forum Dokter Muda UAA untuk menolak hal ini.

Moderator (yang harusnya moderat) memulai diskusi dengan emosi dan suara yang lantang. Penuh pesona dan tegas. Ucapannya banyak, namun karena kebodohan saya, saya hanya menangkap sebagian dari kata-kata heroik tersebut.

“Dulu UKDI untuk dapet STR. Terus dapet SIP. Saya juga tidak mengerti mengapa birokrasinya harus sepanjang itu.” (Karena beda organisasi dan fungsinya Bang. UKDI buat bukti kompeten, baru bisa diregistrasi sebagai Dokter Indonesia alias dapet STR. baru kalau mau praktik, bawa-bawa tuh STR sebagai bukti kalo lu itu dokter beneran, minta izin ama Dinkes setempat alias dapet SIP. Gitu Abangku yang Begok.)

“Sekarang dimajukan sebelum sumpah! Nanti 2015 akan dilebur menjadi Ujian Nasional, yang notabene merupakan bentuk lain dari Ujian Negara! Lama-lama UKDI ini semakin menjadi-jadi saja!”

“Saya jujur tidak tahu siapa ini AIPKI.” (Yaelah dasar bego. Gak tahu berani amat menjerit-jerit?)

Terus dia membacakan visi dan misi AIPKI yang ia download dari websitenya, entah apa maksudnya.

Setelah itu, kami dari UI, dengan susah payah mencoba menjelaskan apa itu UKDI dan filosofinya, menekankan betapa pentingnya sebuah standardisasi seluruh Dokter di Indonesia, walaupun 200 soal pilihan berganda bukan pilihan yang sempurna, namun saat ini adalah pilihan yang terbaik, menjelaskan apa itu AIPKI, KKI, KDI, dan lain sebagainya, dengan berupaya sekuat tenaga agar tidak terlihat sombong layaknya anak UI versi Universitas lain.

Namun itu semua sia-sia. Yang Mulia Moderator tidak menangkap sedikitpun kata-kata yang kami sampaikan, entah masalah di indera pendengaran, jaras pendengaran, pusat bahasa, atau kemampuan memahami di korteks serebri.

Berikut ini beberapa tanggapan dari universitas lain.

UBB, yang kata Marinda Asiah Nuril Haya adalah Juara (Ralat: cuma anggota saja kata Nuril. Jadi hak untuk bego masih diperdebatkan) LKMM Nasional, “Saya memang baru mendengar adanya masalah ini. UKDI juga setahu saya masih dalam perencanaan. Namun, saya yakin, akan ada AKSI BESAR di sini!” Dan semua orang, kecuali yang memiliki otak, bertepuk tangan. (UKDI sudah TIGA BELAS KALI Mas LKMM Nasional. Bisanya aksi besar melulu. Otak dipake, jangan bisanya demo doang! yang kaya begini nih yang merusak nama mahasiswa!)

UCC, yang saya kira pada awalnya mendukung UI, “Jujur, saya setuju dengan UI kalau masalah posisi dari UKDI. Toh, dilaksanakan kapanpun juga, UKDI itu tetap harus dilaksanakan. Justru kami mempertanyakan kepentingan adanya UKDI! Kami yang sudah bersusah payah melakukan Follow Up pasien, ujian lisan, seharusnya sudah teruji kompetensinya. Siapa yang meragukan RS A (RS tempat UCC dan UI berpanitera), RSCM. Mengapa masih harus ada UKDI? Justru kalau mau distandardisasi, harus dari kurikulumnya! Oleh karena itu, kami dari UCC justru menolak adanya UKDI!” (Mas, kurikulum sih kurikulum. Tetep aja emang situ ama saya ama yang laen-laen udah pasti sama kualitasnya?”)

Wacana yang ini disambut dengan tolol oleh moderator kita tercinta.

“Betul! Kami memang tidak setuju UKDI!” (Nah kan ketahuan belangnya) “Namun, tidak mungkin kita meminta dari sesuatu yang sebesar itu. Oleh karena itu, maka kami menuntut UKDI yang dimajukan terlebih dahulu!” (Nah lho gua kaga ngerti logikanya di mana)

“UKDI menghambat pengabdian kita! Padahal saat ini Indonesia kekurangan tenaga dokter!” (Mas, kalo saya jadi pasien, mendingan saya jalan berkilo-kilo ke dokter yang emang udah jelas kompeten daripada saya ke anda yang UKDI yang katanya 200 soal aja takut)

Dan semua berlanjut, semakin memusingkan dan memuakkan, pada akhirnya kami pulang dengan alasan masih ada acara, dengan tetap mempertahankan pendapat kami bahwa UI tidak berkeberatan dengan posisi UKDI mau di manapun, namun tetap menolak berpendapat mengenai pentingnya UKDI, karena sudah di luar forum. Lalu kami pun berbuka puasa dengan angkatan masing-masing.

Beberapa minggu kemudian, tersiratlah kabar bahwa Forum Dokter Muda Indonesia, melakukan aksi ke DPR dalam rangka menolak adanya UKDI, dan diterima oleh Komisi IX yang merupakan Komisi Kesehatan, bukan Pendidikan, yang merupakan Komisi X. Konon katanya Komisi IX memang berisi alumni UAA.

Bagian Kedua
Bagian Ketiga