Marilah kita tunduk sejenak, menutup diri dan membuka hati sejenak, berdoa bersama untuk sebuah Indonesia Raya.

Bersyukurnya kita akan karunia yang luar biasa. Bersyukurnya kita atas Indonesia yang kaya. Bukan hanya kaya materi saja, namun yang paling utama, kaya budaya yang luar biasa. Dari ujung barat ke ujung timur, dari puncak utara, ke dasar selatan. Melimpah ruah kekayaan bangsa. Bersyukurlah kita akan kekayaan Indonesia yang luar biasa.

Namun, tundukkan hati kita lebih dalam lagi. Menangisi kekayaan bangsa yang hampir mati. Menangisi budaya bangsa, yang kini lebih dihargai negeri lain. Menangis dan memohon ampunlah pada Ibu Pertiwi, karena telah menodai, merobek, dan merusak warisan bangsa. Masih pantaskah kita memamerkan Indonesia, ketika Putra-Putri Bangsa bahkan tak menghargai? Masih pantaskah kita mengakui diri sendiri, sebagai insan negeri? Masih pantaskah kita marah, ketika negeri seberang lebih mencintai budaya kita?

Memohon ampunlah, menangislah, dan menghambalah. Namun itu semua tak lagi berarti. Bagai anak durhaka, telah menodai perih hati Ibu Pertiwi. Nusantara, masihkah kami pantas menjadi anak-anakmu?

Tegakkan kepala. Jejakkan tekad. Kan menjunjung budaya bangsa. Kan mencintai negeri kita. Nusantara. Indonesia.

Bhinneka Tunggal Ika. Tetaplah berkibar dalam lubuk jiwa. Tetaplah jiwa menyatu dalam satu bendera. Merah Putih, jiwa Indonesia Raya. Indonesia, Sejuta warna, satu jiwa. Indonesia Raya, Indonesia Jaya. Berbeda, namun tetap satu jua. Indonesia.

Pemuda Bangsa, bergerak dalam Nasionalisme Indonesia.

(dibawakan dalam Doa Bersama Talkshow 5 UKM Agama UI, We Love You Full, 30 Oktober 2009)