Cerita ini bukan ceritaku, ini cerita seseorang yang, yah, berkepentingan dalam hidupku. Namun ini bukan cerita tentang ia dan aku, ini cerita tentang ia dan hidupnya.

Ia adalah seorang mahasiswi tingkat semi-akhir, yang membuatnya harus mengambil magang sebagai tugas laporan akhir. Ia melamar di tiga tempat; katakanlah A, untuk Asyik, B, untuk Buruk, dan C, untuk Cukup.

Tempat ia melamar pertama adalah A. Suasananya begitu menjanjikan, begitu mendambakan. Indah nian, penuh harmoni dan janji-janji. Namun ia tak ingin berpangku tangan menghitung ayam dari telurnya. Ia pun melamar di B.

B tidaklah seindah A. Begitu keluar dari pintunya, ia sudah yakin bahwa B bukanlah pilihan yang mungkin baginya. Terlalu sulit. Namun ia tak putus asa. C pun disambutnya.

C begitu megah, begitu angkuh. Jauh lebih menjanjikan, namun jauh lebih menuntut. Ia tak berharap banyak darinya, namun semuanya runtuh begitu saja, ketika A menyatakan kata maaf. A, yang telah menjanjikan langit dan bumi untuknya, menyatakan kata maaf. Ia hanya bisa berharap pada C.

Sesudah mendaki gunung golok mengarungi lautan darah, lagi-lagi takdir menoreh hatinya. C menyatakan tidak. Hancurlah hatinya, hancurlah jiwanya. Kini ia tak mampu lagi berkata apa-apa.

Ketika tali jerat mulai menggores lehernya, ketika tangis hampir mengering rasanya, telepon pun berbunyi.

B, yang tak pernah kelihatan meyakinkan, menyatakan kata Ya.

Ia hampir tak percaya. Namun begitulah adanya, senyum di bibir tak berarti tangan terbuka, kernyit di kening tak berarti belati di baliknya.