Ini terjadi ketika saya bertugas jaga sebagai makhluk paling rendah di sebuah rumah sakit; sebagai seorang koass. Satu pasien gawat, dengan syok sepsis, dengan tensi sangat anjlok. Keluarga pasien menolah perawatan ICU. Dan tak lama kemudian, pasien pun henti jantung. Menurut yang saya pelajari, seharusnya pasien tersebut segera diberikan tindakan ACLS.

Ternyata? Oh tidak. Perawat segera mencari mesin EKG, sambil menggumam karena mesin EKG super tua itu ngadat, untuk segera merekam irama jantung pasien. Bukan, bukan defibrilator. Cuma EKG saja. Segera ketika irama dinyatakan asistol, semua tindakan berupa pemompaan jantung dan napas bantuan dihentikan. Dan mirisnya, RJP di atas diberikan sama sekali melenceng dari tata kerja yang seharusnya. Pasien dinyatakan meninggal, tanpa pemeriksaan MBO yang lengkap.

Pemandangan yang satu ini bukanlah pemandangan yang langka. Para koass seharusnya sudah tahu, ketika ada pasien yang dinyatakan henti jantung memasuki ruangan IGD RS tertentu, maka barang pertama yang dicari adalah mesin EKG. Defibrilator hanyalah pajangan belaka, ketika ada inspeksi mendadak. Kematian dinyatakan dengan cara kuno beratus-ratus tahun yang lalu, ketika jantung sudah berhenti. Asistol hanya tempelan konfirmasi kematian belaka di lembar rekam medis.

Kasus yang lainnya. Pasien gawat di ruangan. Harus segera dinaikkan di HCU. Dokter penanggungjawab sudah datang. Barulah dengan terburu-buru monitor disiapkan, ETT disiapkan, laringoskop dicari di gudang. Bahkan sang perawat kebingungan mencari elektroda tempel untuk monitor. Setelah henti napas pasien ditangani dengan ETT menggantikan sungkup muka, barulah pasien siap dibawa ke HCU. Tunggu punya tunggu, dokter HCU pun kebingungan karena tidak ada yang datang membantu dia mengantarkan pasien segera ke HCU, padahal pasien dibiarkan bernapas dengan bantuan bagging oleh koass malang yang tangannya sudah mulai tremor, di mana pasien seharusnya segera dihubungkan dengan ventilator. Apa kata perawatnya? “Maaf Dok, lagi operan jaga.” Kurang ajar. Untunglah sang dokter masih bisa menjawab tenang, “Kalo bisa nanti aja itu Mbak. Tolong satu orang bantu saya bawa pasiennya ke atas. Ini harus langsung pasang ventilator.” Seandainya saja saya dokternya, saya sudah memaki-maki,”An****! Pasien udah mau mati, koass udah mau mati juga, kalian mentingin operan jaga?” Untunglah saya bukan dokter tersebut.

Ketika turun dari HCU dan mencuci tangan di wastafel, terdengar percakapan dua orang suster tadi:
“Iya, tadi disuruh nyari elektroda tempel. Apaan coba itu, mana saya tahu ada di mana?”
“Iya, heran deh dokter HCU itu. Seharusnya kalo turun bawa peralatan sendiri yang lengkap dong, masa kita yang nyediain?”

Ini hanyalah sebagian cerita yang saya saksikan sendiri. Masih banyak cerita lainnya yang bertema sama, baik disaksikan saya sendiri, maupun oleh sahabat-sahabat saya.

Saya hanya bisa menghela napas panjang, sambil memaki dalam hati, sedemikian rendahkah jiwa kegawatdaruratan kedokteran Indonesia? Apakah kegawatdaruratan hanya menjadi tanggung jawab segelintir dokter saja?

Sudah saatnya pelatihan kembali ACLS dan MBO digencarkan kembali dan dipantau di seluruh rumah sakit, di mana setiap pasien henti jantung harus dicatat proses resusitasinya. Hanya satu rumah sakit yang saya tahu melakukan hal ini, sungguh memalukan.

PS: Tahukah anda letak defribrilator di gedung rawat inap Rumah sakit yang anda ketahui? Saya tidak. Bahkan di rumah sakit tertentu, defibrilator di ruangan IGDnya sudah berdebu, tertutup tas-tas mahasiswa, dan entah bagaimana kualitas baterainya.

Di manakah jiwa kegawatdaruratan dunia kesehatan Indonesia?