Tangan kanan w retak. Bahasa kerennya “fraktur linear longitudinal intraartikuler distal os radius”. Nganga dikit lagi, maka w harus masuk kamar operasi. Sekarang, cuma digips. Cuma? Yah yang sudah digips pasti tahu rasanya. Sekarang ini w lagi ngetik dengan tangan dibebani gips di atas laptop pinjeman, karena Athena masih diopname.

Tapi cukup tentang w. Sekarang topik kita adalah “pernikahan”. Weits, gile. Rodri baru pacaran aja udah songong ngomong pernikahan.

Tapi bukan itu. Penulis cuma merasa miris dengan harga pernikahan di mata orang-orang saat ini. Bangsa yang mengaku sangat menyakralkan pernikahan sekarang ini hanyalah menjadikan pernikahan sebagai alat untuk menghalalkan seks dan pengikat formal pasangan hidup. Menyedihkan. Di mana kita begitu menghina para kaum yang mendukung kohabitasi, atau bahasa kasarnya kumpul kebo. Padahal, mereka inilah yang menghargai sebuah pernikahan, mendasari pernikahan murni dari kesiapan hati maupun finansial. Tidak seperti di Indonesia, menikah, lalu tinggal di rumah orang tua masing-masing. Biaya masih ditanggung orang tua. Apa artinya pernikahan kalau begitu?

Apakah kau mencintai suami/istrimu?
Ataukah kau mencintai orang yang menjadi suami/istrimu?
Apakah kau mencintai dia, atau mencintai pernikahan itu sendiri?

Entahlah.