“Napa tertarik masuk Senat, Dek?”
“Oh, soalnya ngerasa sayang aja Kak, kalo ke kampus cuma buat kuliah.”
“Ow. kalo misalnya nih, kamu disuruh milih antara akademis atau organisasi, pilih mana?”
“Ya akademis lah kak. Soalnya itu kan amanah dari ortu.”

Salah satu poin besar yang ditekankan kepada saya ketika menginjakkan kaki di FKUI adalah “Kamu itu mahasiswa, bukan siswa lagi Dek!”. Namun, penekanan itu hanya sekedar omongan belaka, tidak ada tindak nyata selain usaha yang disebut sebagai “pola pikir dan tingkah laku yang dewasa”. Sesuatu yang menurut saya, omong kosong dan tidak berhubungan dengan posisi saya sebagai mahasiswa, dan bukan siswa lagi. Itu masalah dengan kata “dewasa”, bukan “mahasiswa”. Dan setelah bertarung dengan sekian banyak hal dalam dunia kemahasiswaan ini, saya akhirnya bisa mengambil kesimpulan yang paling sederhana dari kemahasiswaan; apa yang membuat ia berbeda dengan “siswa”.

SD, SMP, SMA, hanyalah sebuah jenjang pendidikan formal. Sama sekali berbeda dengan kuliah, yang sudah “terspesialisasi” bidangnya dan juga sudah mempersiapkan peserta didiknya untuk menginjakkan kaki di bidang kerja dan dunia “orang dewasa”. Namun, mirisnya, sistem pendidikan tinggi formal kita masihlah berbentuk seakan-akan sebuah kenaikan kelas saja dari SMA, sama sekali tidak menyiapkan seorang tunas bangsa siap kerja, baik dari segi ilmu maupun pola pikir dan tingkah laku. Atau dalam sistem pendidikan kedokteran, seorang “seven star doctor”. Pendidikan formal saat ini hanya bisa menyiapkan seorang “dokter” saja. lalu, bagaimana profesionalitas tersebut dapat kita peroleh? Banyak cara, namun universitas menawarkan sebuah sistem, yang disebut dunia kemahasiswaan.

Dunia kemahasiswaan ada bukan hanya sekedar ekstrakurikuler layaknya SMA, di mana hal tersebut hanya sekedar tambahan mengisi waktu luang. Dunia kemahasiswaan, dalam hal ini organisasi, dalam hal ini menjadi pokok penting dalam pembentukan seorang manusia siap tempur dalam lapangan kerja nantinya. Akibatnya, sungguh sebuah perbedaan besar ketika seorang mahasiswa, dalam hal ini mahasiswa kedokteran, hanya berkutat dengan buku-bukunya. Nantinya, dalam masa kepaniteraan, barulah terlihat calon-calon dokter yang hanya bisa mendekati pasien dengan otaknya saja, namun tidak dengan hatinya. Hal ini dikarenakan bahwa mahasiswa tersebut hanya terkungkung dalam buku-buku tebal kedokteran, tanpa mengenal manusia secara seutuhnya, atau istilah kerennya, holistik dan komprehensif.

Usaha Dekanat untuk menetapkan SKS pada kegiatan kemahasiswaan mungin merupakan langkah baik dalam membentuk para seven star doctor tersebut. Namun, yang paling penting adalah pembentukan pola pikir sejak dini pada mahasiswa baru, bahwa dunia kemahasiswaan bukan hanya sekedar nilai SKS dan sebaris tulisan dalam CV, namun memegang peranan penting, sejajar dengan pendidikan formal, dalam pembentukan seorang dokter yang baik. Seorang yang hanya mementingkan pendidikan formal hanya akan lahir menjadi seseorang yang mempunyai gelar dokter saja. Seseorang yang hanya mementingkan organisasi hanya akan lahir menjadi seorang pecundang. Namun, seseorang yang mampu menyeimbangkan keduanya, dalam hal ini tidak mendahului salah satunya, akan menjadi seorang dokter yang sebenarnya, atau istilah FKUI sebagai “seven star doctor”.

Pendidikan formal dan pendidikan informal harus bisa sejajar dalam pelaksanaannya sebagai seorang mahasiswa, untuk membentuk seorang yang layak kerja.

Cat: Penulis menegaskan sekali lagi bahwa pendidikan informal di sini tidak harus berbentuk dunia kemahasiswaan dan organisasinya. Masih banyak jalur di luar sana, namun kampus menyediakan yang satu ini.