Kepadamu, BPH KMBUI XVII
Kepadamu, KMBUI 2006

Sejujurnya, empat tahun yang lalu, aku hanya seorang bocah SMA yang angkuh, bodoh, namun tidak tahu diri. Sampai kemudian, aku dijebak oleh kakakku sendiri untuk masuk dalam sebuah neraka bernama KMBUI.

Sebuah neraka, karena siksa deritanya yang membuatku kehilangan waktuku untuk berhura-hura, berpesta-pesta, hanya untuk sepotong perjalanan jauh ke suatu tempat, hanya untuk bekerja, untuk sesuatu yang aku takkan pernah tahu manfaatnya.

Namun, dengan bodohnya, aku mencintai setiap detik itu. Setiap detik aku berada di KMBUI. Setiap detik aku menjerumuskan semakin dalam jengkal demi jengkal. Dan aku, tergila-gila akan hal tersebut. Sampai akhirnya aku melompat ke jurang terlarang, sebagai BPH KMBUI XVII.

Dan aku mengenal Hermando Firgus, hakim, penengah, pendamai dari setiap panas dan dingin dari BPH XVII. Orang yang paling berubah dari detik aku mengenal setiap BPH XVII. “Kembaran”, atau mungkin saingan, dalam segala hal dengan diriku sendiri. KMBUI mengubah dia menjadi lebih baik, dan ia mengubah KMBUI ke arah yang lebih baik pula.

Dan aku mengenal Jenny Yeonardy, bawel, ceria, iseng, ramah, dan setia kawan. Primadona angkatan, namun entah naif, entah pura-pura tak tahu, mengaku dirinya tak laku. Ia ada untuk “menerangi” KMBUI 2006.

Dan aku mengenal Mei Linda. Pendiam, tampang kesan pertama sama persis dengan saya, JUTEK (hahaha), rajin, tepat waktu, teliti, dan tegar di balik tubuhnya yang kurus. Profesional, disiplin, BPH XVII karena dia.

Dan aku mengenal Wahyudi. Pendiam, kalem, ramah. Jenius dalam hal komputer mengkomputer. Salah satu yang paling religius, ia menurunkan suasana terik menjadi damai kembali.

Dan aku mengenal Cindy. Sedikit telmi, ceria, dan suka bingung. Yang religius, yang pintar dalam hal Buddhisme, ialah yang memberikan warna Buddhisme dalam BPH XVII, agar tetap lurus dalam jalan Buddha Dharma.

Dan aku mengenal Ferry Hartanto. Diam pada awalnya, celetukannya langsung mengenai sasaran. Mendadak, dan menimbulkan dua efek berbeda. Antara kau akan tertawa, atau kau akan takjub, masalah selesai adanya. Ferry, salah satu pelawak kita, tendangannya sudah terkenal dalam dunia Tae-Kwon Do.

Dan aku mengenal Suria. Kalem, sipit, rajin, peduli, dan mampu merangkul semuanya. Ia ada untuk dikerjai, namun ia hanya tertawa bersama, mewarnai hidupnya BPH XVII dengan pemikirannya yang cemerlang.

Dan aku mengenal Hartono. Pelawak sejati, hidupnya ada untuk menertawai dunia dan teman-temannya. Namun di balik konyolnya, ia seorang yang sangat peduli pada adik-adik juniornya, namun sayangnya masih juga belum berpasangan.

Dan aku mengenal Indah Chandra. Ramah, rajin, pendiam, namun ia mampu menanggulangi sebuah beban yang cukup berat bagi orang lain, mungkin karena tubuhnya yang lebih perkasa.

Dan aku mengenal Cakra Putra. Orang lurus yang meluruskan kembali BPH XVII ketika sudah melenceng dari jalurnya. Disiplin, kritis, ia ada untuk sebuah KMBUI yang lebih baik.

Suka duaka kita lalui bersama. Tujuannya sama, untuk memberikan yang terbaik pada kita semua. Bersama telah kita bekerja. Bersama kita telah tertawa, menangis, marah, namun itu semua, tak ada apa-apanya ketika hari itu, aku melihat KMBUI diwariskan dalam keadaan yang lebih baik. Artinya, kerja kita tidak sia-sia. Walaupun kecil, kita berhasil mengukir sesuatu yang berbeda.

Namun bukan itu saja. Bersama kalian, aku bertambah dewasa. Bertambah memahami arti dunia. Bersama kalian, aku lebih mencintai dunia. Bersama kalian, aku siap menyongsong dunia. Bersama kalian, para sahabatku.

Malam ini, ketika aku mengenang kembali detik-detik BPH XVII, ketika beban tersebut telah kulepas, aku berbangga, karena tanggung jawab itu tak hanya diberikan begitu saja. BPH XVII telah mengukir KMBUI yang lebih baik. BPH XVII juga telah mengukir hidupku yang lebih bermakna.

I love you all. Tanpa kalian, aku hanya seorang katak dalam tempurung.