“Ngapain gua peduli? Yang lain juga gak peduli. Apa bedanya?”
“Kok gua gak boleh? Yang lain juga ngelakuin kok. Apa bedanya cuma satu orang?”
Atau yang paling sering:
“Yang lain juga ribut kok. Kok gua doang yang dimarahin?”

Kalimat di atas sering sekali saya dengar, dalam kasus apapun. Meminta tolong, menegur, apapun itu. Alasan selalu demikian; bahwa satu orang saja tidak berarti apa-apa.

Judul di atas bukannya sok bahasa Inggris atau apa, melainkan sebuah penekanan penting pada sebuah kata One dalam bahasa Inggris, yang berarti satu; juga berarti seseorang. Artinya, satu saja dapat mengakibatkan perubahan; siapapun dapat mengakibatkan perubahan. Walaupun cuma seorang.

Dikit-dikit lama-lama jadi bukit. Peribahasa ini sepertinya sudah sangat terkenal di kalangan semua orang yang pernah menginjak bangku sekolah SD. Namun, tidak banyak yang memahami artinya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Semuanya mengharapkan sesuatu yang serba instan, yang langsung kelihatan hasilnya. Mana mungkin?

Seandainya saja semua orang di dunia ini menyadari betapa pentingnya diri mereka sendiri, betapa besarnya perubahan yang dapat mereka sendiri lakukan, maka tulisan ini tidak perlu ada. Seandainya semua orang menyadari bahwa sampah harus dibuang pada tempatnya, maka tak ada lagi diperlukan tulisan peraturan “Dilarang buang sampah di sini!” Semua itu berasal dari satu hal; dari diri sendiri. Dari sebuah ketunggalan. Dari satu orang saja. Satu orang ditambah satu orang dan seterusnya akan berujung pada semua orang. Sederhana? Sederhana. Semua berawal dari satu orang saja.

Seandainya, seandainya saja, hanya satu orang yang menyadari hal tersebut. Apakah perbuatannya sia-sia? Apakah jika seseorang berhenti saja merokok satu batang perhari, bukankah ia sudah menghemat 365 batang rokok setahun? Dalam setahun dia sudah bisa membeli ponsel baru. Dan jika sesuatu yang ia perbuat adalah sebuah hal yang besar, bukankah ia akan menjadi inspirasi untuk orang lain?

Florence Nightingale hanya seorang perawat, namun ia sekarang menjadi inspirasi banyak orang dalam hal keperawatan yang sepantasnya. Mother Theresa hanya sendiri, namun kini ia menjadi panutan banyak orang, bahkan kini telah berdiri sebuah yayasan bernama Missionaries of Charity. Mahatma Gandhi, menjadi inspirasi untuk orang-orang seperti Martin Luther King, Nelson Mandela, Aung San Suu Kyi, dan sebagainya. Dan orang-orang besar itu menginspirasi orang lain, tidak dengan ucapan, namun dengan perbuatan. Apa yang mereka perbuat diawali oleh sebuah hal kecil saja. Sang Buddha pada awalny sempat berpikir untuk tidak mengajar, namun ajaran pertamanya kepada 5 orang saja menjadi awal sebuah agama terbesar di dunia. Sebagian besar langkah besar diawali oleh satu orang saja, dan satu perbuatan kecil saja.

Sebuah cerita kecil dalam bahasa Inggris, tidak diketahui pengarangnya, tidak diketahui kapan ditulis, namun semoga dapat menginspirasi.

This is a little story about four people named Everybody, Somebody, Anybody, and Nobody.

There was an important job to be done and Everybody was sure that Somebody would do it.

Anybody could have done it, but Nobody did it.

Somebody got angry about that because it was Everybody’s job.

Everybody thought that Anybody could do it, but Nobody realized that Everybody wouldn’t do it.

It ended up that Everybody blamed Somebody when Nobody did what Anybody could have done !

Seandainya saja, seseorang (Somebody) memutuskan untuk melakukan sesuatu, maka cerita di atas tidak akan pernah lahir.

Jadi? One makes a difference. Do it now!