Seorang profesor fakultas kedokteran masuk ke ruangan kelas, di tengah kehebohan para mahasiswa yang tak peduli pada dosennya, selama kuliah belum dimulai. Apalagi, kuliah Modul Empati ini cukup membosankan, kata senior-senior.

Sang profesor hanya berjalan tenang, menghampiri laptop yang ada, dan memasukkan sebuah flashdisk ke dalamnya. Mendadak, sebuah film pun terbuka. Sang profesor mendekatkan mikrofon ke speaker laptop tersebut.

Seketika saja ruangan itu terdiam, menatap film yang diputar profesor tersebut. Di sana tertayang sebuah adegan film biru, lengkap dengan suaranya yang membahana di seluruh ruangan. Sebagian besar wanita, terutama yang berjilbab, langsung menunduk jengah. Beberapa mahasiswi masih bertahan menonton, bersama seluruh mahasiswa, walaupun sebagian kecil mahasiswa menundukkan kepalanya juga. Yang menonton memiliki ekspresi wajah yang berbeda-beda pula. Ada yang tersenyum simpul, ada yang tertawa cekikikan, ada pula yang tertawa jengah. Namun banyak pula yang menonton dengan tenang. Namun yang jelas, para lelaki mulai mengubah posisi duduknya berkali-kali.

Namun semuanya mulai berubah ketika adegan berubah menjadi adegan anal antara dua orang pria. Seketika itu juga, sebagian besar penonton langsung menunduk jengah, bahkan jijik. Suara maskulin yang terangsang yang masih membahana di ruangan itu seakan membisukan mereka semua.

Namun film itu tak berhenti sampai di situ. Adegan berubah menjadi hubungan seks dengan bervariasi binatang, bahkan aneka parafilia (kelainan seksual) yang pernah direkam hampir semuanya tertayangkan dalam film 30 menit itu. Dan akhirnya, ketika layar sudah menghitam, masih belum ada mahasiswa yang bersuara, semuanya masih sibuk dengan dirinya sendiri, tanpa ada yang menyadari bahwa film sudah selesai. Suara film masih terus membahana, sedangkan layar sudah menggelap. Tak ada yang menyadari.

Ketika akhirnya suara tersebut membisu, semua mahasiswa mengangkat kepalanya, menatap profesornya dengan bertanya-tanya. Bahkan, beberapa mahasiswa menatap profesor tersebut dengan tatapan sinis.

Si profesor, masih menatap tenang mahasiswa-mahasiswanya, akhirnya mengangkat mikrofon ke arah bibirnya.

“Ini cuma sebuah film. Bagaimana nanti kalau kalian sudah bertemu pasien? Jika ada tingkah laku pasien, cerita pasien, yang menurut kalian aneh, menurut kalian lucu, menurut kalian menjijikkan, menurut kalian memuakkan, apakah kalian semua akan menunduk, jengah, jijik, dan tidak mendengarkan pasien? Sibuk dengan diri kalian sendiri, sehingga ketika layar sudah padam semenit, tinggal suaranya saja yang ada, tak ada seorangpun yang menyadari?”

Tak ada yang menjawab. Tak ada yang berani. Profesor itu kembali memutar adegan film selanjutnya. Adegan tersebut adalah wawancara dengan pasien skizofrenik, dengan ceritanya yang aneh dan lucu. Namun, kali ini, tak ada yang berani tertawa.