Hari ini, duduk tenang di atas tempat tidurku, aku tersenyum, menatap telepon selularku yang baru saja kumatikan.

Aku mencintaimu.

Aku tak tahu lagi bagaimana mengungkapkannya. Aku tak tahu apakah aku bisa mengukir dirimu, perasaanku padamu, dalam ribuan kata-kata indah yang selama ini kuukir dalam puisi maupun cerita. Tidak. Aku sebenarnya tahu. Tahu, bahwa aku tak mungkin bisa mengungkapkan hal tersebut. Rasa ini benar-benar menyelimuti setiap jengkal kalbuku.

Perasaan ini bukanlah perasaan meledak-ledak yang berbahaya bagi penderitanya. Perasaan ini bukanlah perasaan menyesakkan, perasaan malu, takut. Perasaan yang membuatku tersipu di hadapanmu, atau hanya dengan memikirkanmu.

Perasaan ini bukan perasaan membabi buta yang tak berguna. Perasaan ini bukanlah perasaan yang membuatku penuh nafsu, membuatku hendak merenggutmu masuk dalam kehidupanku, dan melenyapkan dirimu dari kehidupan yang lain. Bukan. Perasaan ini bukan perasaan egois seperti itu.

Perasaan ini adalah sebuah belaian lembut, perasaan yang membuatku nyaman. Membuatku tenang, karena menyadari ada seorang yang spesial dalam hidupku yang membuatku menanti setiap hari dengan penuh harap. Perasaan ini membuatku bersyukur atas hari berikutnya, hari berikutnya lagi, dan lagi.

Aku tak tahu apa namanya. Mungkinkah perasaan ini masih disebut cinta? Karena, aku tak pernah tahu perasaan ini sebelumnya.

Aku tahu bahwa kau bukanlah wanita yang sempurna. Hanya orang yang telah kehilangan inderanya yang bisa berkata begitu. Aku tak percaya bahwa cinta itu buta. Aku tahu baik burukmu, aku tahu cahya gelapmu.

Namun aku juga tahu, bahwa aku beruntung bisa memilikimu.

Ketidaksempurnaanmu bagaikan sesuatu yang melengkapi hidupku, sama halnya dengan sisi bercahaya dari dirimu.

Kau membuatku tertawa.
Kau membuatku tak bisa marah.
Kau membuatku semakin memahami diriku sendiri.

Kau membuatku sempurna.

Ah, katamu. Bisanya cuma ngegombal aja.

Ya, kataku. Mana mungkin ada sebuah kata yang dapat menggambarkan dirimu dan perasaanku? Yang terlahir hanyalah kata-kata gombal tolol ini.

Aku gombal? Ya, kataku. Karena tak mungkin lagi ada kata yang lebih mulia yang dapat menggambarkan semua ini.

Mengapa tiba-tiba aku menulis ini?

Entahlah.

Mungkin aku hanya ingin mengatakan

Aku mencintaimu.

Jika esok hari aku tak mungkin mengatakannya padamu

Aku akan menyatakannya sekarang.

Aku mencintaimu.

Mengapa? Tanyamu.

Tak ada yang tahu.