“Bapak itu bilang kalian boleh meriksa dia sesuka kalian. Dia ikhlas, biar kalian bisa jadi dokter yang hebat nantinya.”

“Maksudnya Dok?”

“Kalian tahu tinggal berapa lama lagi waktu Bapak itu? Angka harapan hidup untuk stadium seperti itu adalah 6 bulan.”

“Bapak itu sudah tahu. Dan sekarang sudah mau pulang. Jadi baik-baiklah kalian kepada semua pasien. Kalian berhutang banyak pada mereka.”

Cerita ini adalah kisah nyata. Penulis adalah salah seorang ko-ass baru salah satu fakultas kedokteran di Indonesia.

Guru utama seorang dokter, adalah pasien tidak mampu, yang merelakan dirinya dijadikan bahan percobaan sekian belas ko-ass yang bahkan belum belajar dari rumah. Jika kau memberikan biaya dokter gratis untuk 100 orang pasien tidak mampu, hal tersebut belum membayar jasa satu orang pasien yang kau pegang-pegang.

Jika ada seorang dokter yang merendahkan pasiennya, ia bukan seorang dokter. Ia cuma seorang sampah. Pasien mampu mungkin sumber pendapatannya, namun pasien tidak mampu sumber pengetahuannya. Tanpa mereka, ia takkan pernah menjadi seorang dokter.

Juga oleh lifetalks, oleh salah satu sahabatku, Juno.