Entah mengapa, hari itu mengingatkanku kepada masa kecilku yang manis. Perjalanan kurang dari satu jam sebuah KRL Ekonomi Jabodetabek dengan berbagai fenomenanya yang biasa, membawaku kembali tersenyum sendiri seperti orang tolol di tengah keramaian kereta, mengingat kembali masa kecilku yang sebenarnya sederhana, namun membuatku ingin kembali.
_________________________________________________________________

“Gunting, gunting, gunting….”
Aku melihat sosok pedagang gunting penjahit hitam yang cukup unik, dan langka untuk zaman sekarang.
“Tajam, gunting langka….” sahut sang penjual sambil mengguntingi potongan karton yang ia bawa.

“Mama kan sudah bilang, gunting Mama jangan dimainin,” omel Mama sambil melototiku yang menunduk, merasa bersalah. Aku memang suka mengguntingi segala bentuk kardus permen dan makanan ringan lainnya. Kardus-kardus kecil warna-warni itu banyak bertebaran di sekitar tong sampah minimarket dekat rumahku. AKu suka mengambil kardus kecil yang masih bersih, yang memiliki tokoh maskot di atasnya, lalu menggunting keluar tokoh kecil tersebut. Gunting yang menjadi korbanku? Sebuah gunting hitam berat milik Mama, sebuah gunting khas penjahit, yang memiliki besi semberani di ujungnya. Mama memang suka menjahit. Di masa mudanya, sebelum menikah, Mama memang menjadi penjahit pesanan, namun setelah menikah maka konsumen setianya menjadi keluargaku. Gunting kesayangannyalah (yang memang sukar dicari lagi, katanya sih gunting impor Eropa) yang menjadi perkakas andalanku, sekaligus juga bahan diomelnya aku. Alasannya karena gunting tersebut menjadi tidak tajam lagi setelah dipakai untuk menggunting kertas karton setebal itu.
_________________________________________________________________

Seorang anak dengan tergesa-gesa berlari menyusuri peron stasiun, menyelip di antara pintu-pintu kereta yang hanya terbuka sedikit, macet sepertinya. Lalu dengan enaknya, bergelantungan di luar gerbong kereta, dengan hanya kaki dan jari tangannya yang berada di dalam kereta. Entah apa tujuannya. Mengumbar nyawa? Entahlah. Namun, colekan seorang ibu akhirnya membuatnya menurut, menyelipkan diri ke dalam kereta, menuruti arah telunjuk sang ibu untuk kemudian duduk manis di atas hamparan koran, di sudut gerbong kereta. Tampak di balik punggungnya, sesosok ransel yang hampir sama ukurannya dengan dirinya.

“Napa sih tasmu gede banget? Pasti gak nyusun roster ya! Bukunya dibawa semua. Kaya Kokomu aja….” Aku hanya bisa diam, tak berani menyanggah, namun tak berani juga mengakui. “Ntar kamu jadi bungkuk, baru tahu,” lanjut Mama. Aku hanya bisa mengiyakan….
_________________________________________________________________

Sesosok kumal menyelip dari sela pintu macet kereta. Sekujur tubuhnya sangat kotor, berlapiskan debu. Banyak robekan di sana sini pakaiannya. Ia langsung duduk saja di pinggir pintu kereta, dan diam di sana.

“Jangan ganggu orang gila itu ya, ntar kamu dikejar.”
Aku hanya mengangguk, menatap sosok berkepala licin tak berambut, yang berjalan tanpa tujuan. Sosok itu adalah sosok yang dikatakan gila oleh seluruh kota. Sangana namanya. “Putar….” ejekan anak-anak SD kala itu. Sangana akan berputar layaknya seorang penari balet, dan anak-anak pun akan tertawa. Selesai? Tidak. Ia akan mengejar anak-anak itu kemudian. Bagaimana kalau tertangkap? Entahlah. Tak pernah terdengar siapapun yang pernah tertangkap Sangana.

Ada juga si Ngena, sesosok wanita gila. Katanya sering berjalan tanpa busana. Entah benar tidaknya, aku tak pernah melihat sosoknya. Sosok wanita yang gemar tanpa busana yang kutahu hanyalah tetanggaku, yang gemar mandi di udara terbuka di plafon rumahnya. Kini ia katanya berada di Jakarta, bersama dengan keluarganya. Ia telah diceraikan suaminya, yang tak tahan dengan tingkah lakunya. Suaminya? adalah sesosok pria sedikit gemuk botak yang berjualan bahan pangan di samping kanan rumahku. Tanah kosong di masa kecilku kini telah menjadi rumahnya. Rumah itu, setelah ditinggalkan penghuni awalnya, tak pernah lagi dihuni oleh orang yang tetap. Seorang dokter yang menyewa di sana, akhirnya menjadi seorang sales asuransi. Kini rumah itu hanya menjadi gudang.

Ada juga Simamora. Hobinya meminta-minta, kadang-kadang dengan memaksa. Sosoknya tinggi besar, menakutkan, keriting, hitam. Kata-katanya,”Seribu Bos, rokok….” telah menjadi trademarknya. Papa sering menipunya, berpura-pura ia memasuki toko yang salah.

Bicara soal minta-minta. Kota kecilku sering dipenuhi preman kecil yang sering meminta-minta dari rumah ke rumah. Ada satu sosok mantan preman yang masih ada, pincang jalannya, selalu membawa tongkat. Berbeda dengan yang lainnya, yang meminta dengan gertakan dan ancaman, ia dengan sabar, duduk diam saja tak mau pergi. Kini caranya telah ditiru banyak preman lainnya, karena ternyata gertakan dan ancaman tak berguna buat Papaku tercinta. Suatu kali ia membawa sesosok preman baru (preman aja ada magangnya). Tak sabar si preman baru, ia mengeluarkan kata ancaman,”Kita hancurkan aja deh tokonya.” Ancaman yang salah. Pamanku yang berada di sana langsung bersiap mencabut sebatang besi per mobil, siap menghantam si sosok tengik kurus itu. Terburu-buru, si pincang memaki si preman baru, lalu segera menariknya keluar. Sang preman baru masih harus belajar.
_________________________________________________________________

Kereta menerobos gelapnya terowongan kereta.

Lantai tiga rumahku. Koko menantangku untuk bergelap-gelap di sana. Memang, di atas sana, yang masih belum ada yang menempatinya, ketika malam tak ada lampu yang dinyalakan. Di sana, keringat dingin menerkamku. Aku seperti bisa melihat sosok-sosok putih di ujung mataku. Berpura berani, akhirnya Kokoku menyerah, membawaku turun kembali ke bawah. Ia telah kalah.

Lantai tiga akhirnya dibangun kamar tidur baru. Untuk kedua Kokoku. Terkadang ia mengajakku untuk tidur bersamanya. Gerah rasanya di sana. Sepi mencekam rasanya di sana. Walau di ruangan itu telah terjadi berbagai kisah lucu, di mana Koko keduaku cekikikan mengintip Koko pertamaku berganti pakaian, di mana kedua Kokoku yang lasak sanggup bergelantungan di tempat tidur, dengan hanya pantat di atasnya, tetap bertahan lelapnya, sebelum dipindahkan oleh Mamaku. Aku akhirnya tak tahan, turun kembali ke ranjangku yang nyaman.

Tak jarang aku tertidur di sofa. Tontonan TV terkadang membosankan, apalagi aku tak mengerti isinya. Kalau sudah begitu, Papalah yang bertugas menggendongku kembali ke kamar. Kadang aku mengisenginya, berpura-pura tertidur, untuk ketika ia sudah menaruhku di kasur, aku akan bangun dan tertawa.

Sofa di ruang keluarga. Aku teringat saat aku mulai membaca komik pertamaku selain komik anak-anak. Komik Kenji, 21 jilid, kuhabiskan dalam sehari. Hari pertamaku diizinkan boleh tidur lebih malam dari biasanya. Mengapa harus begitu? Komik itu harus dikembalikan keesokan harinya, pada teman Kokoku. Komik itu memang ia yang pinjam. Apa yang terjadi? Satu komik hilang, mengendap lebih dari 5 tahun lamanya, baru ditemukan pada akhirnya.

Majalah Donal Bebek adalah majalah pertamaku, majalah langgananku. Tak bosan-bosannya aku membacanya, sampai aku hapal gambar dan teksnya. Aku memang tergila-gila membaca, sampai novel remaja Kokoku kuhajar diam-diam, karena dilarang Mamaku, dengan alasan, bukan untuk seusiaku. Kadang aku meringkuk di lantai tiga, di bawah terangnya matahari sore, mengulang-ulang majalah Donal Bebek itu. Tak heran, kini miopi mataku melewati angka delapan.

Di lantai tiga itu pula markas tempat mainku. Fantasi liarku kuluapkan di sana, membangun kota dan militernya. Perang. Layaknya permainan anak lelaki pada umumnya.

_________________________________________________________________

Sesosok lelaki tua memasuki gerbong kereta. Meletakkan kedua keranjangnya yang sudah kosong dan bambu pemikulnya.

Aku menatap iri pada batang bambu yang dibawa oleh sang penjual tapai. Betapa inginnya aku memiliki tongkat itu. Jadinya aku tak perlu lagi meminjam tongkat milik sepupuku, kalau aku bermain petualangan lagi nantinya.

Petualanganku sangat luar biasa. Dari berkelana dengan sebuah kapal (dari kotak kardus besar helm), berkelana dengan kaki, menjadi mata-mata super, semuanya. Permainan itu akan terus menerus sampai suatu saat nanti, akan berhenti. Ketika Cicinya pulang. Dan mereka pun akan bertengkar. Dan aku pun pulang. Permainan sudah selesai.

“Rodri itu memang menyebalkan!” Kata-kata itu begitu menhunjam jiwa kanak-kanakku, ketika aku terlambat masuk les bahasa Inggris karena mengikuti Pramuka. Yang mengucapkan? Cici sepupuku. Sosok yang sama. Ucapan itu entah dari mana ujung pangkalnya, namun ucapan itu membuatku tak pernah lagi bertegur sapa denganya sampai beberapa tahun ke depan.
_________________________________________________________________

Sesosok pengamen masuk ke dalam gerbong, meniup harmonikanya.

Aku menatap sebal pada harmonika biru di tanganku. Tak mampu aku memainkannya seperti semua saudara dan Mamaku. Mungkin itu pertanda awal aku memang tak layak bermain musik, namun usaha itu tak memupus harapanku, sampai aku tertarik bermain gitar. Ketertarikan itu mati. Aku tak mau lagi bermain musik.
_________________________________________________________________

Aku tak bisa bermain gitar. Aku tak bisa berolahraga. Aku tak suka bermain video games bola. AKu benar-benar berbeda dengan para remaja lelaki pada umumnya. Seperti seorang alien rasanya.
_________________________________________________________________

“Bagus kok Rodri mau jadi dokter, jadi nanti kalau Suster sudah tua, sudah bungkuk, nyari Rodri buat diobati, dikasih gratis ya.” Ucapan ini diucapkan oleh Suster Kepala Sekolah TK-ku, yang melarangku melompati kelas, dengan alasan supaya aku masih bisa bermain-main dengan anak seusiaku. Ia meninggal jauh sebelum aku menginjak bangku SMP. Ia tak pernah melihatku sosokku mengenakan jas putih.
Aku menatap sosok anak SMP yang bergelantungan dengan riangnya di pintu kereta. Entah apa tujuannya. Mencari jati diri? Mungkin. Dan aku tersenyum, saat nasehat seorang penumpang tak mereka perdulikan. Dan aku teringat pada masa remajaku, masa pemberontakanku, masa pencarian jati diriku.
_________________________________________________________________

Dan kini, saat aku menatap rangkaian patah-patah hidupku kembali, masa kecilku kembali, masa laluku kembali, aku tersenyum, pada diriku sendiri, pada semua orang yang telah mengukir hidupku di sini. Terima kasih semuanya, kini inilah seorang aku.