Sebuah tulisan Lowongan Kerja di papan pengumuman kampus benar-benar memaksa saya akhirnya, menulis tulisan ini. Tulisan pahit mengenai masa depan Kedokteran Indonesia. Sebelumnya, tulisan ini ditulis dengan pengetahuan saya yang cetek, oleh karena itu kritik dan saran sangat diharapkan.

Kedokteran Indonesia yang dibangun pada fondasi sebuah “balas budi” pemerintahan Hindia Belanda, kini telah berkembang menjadi salah satu Kedokteran yang cukup terkemuka di dunia. Namun, masa depannya kini semakin tidak dapat dipastikan. Prognosis? Dubia ad malam (meragukan, ke arah buruk).

Terpaan pahit kedokteran Indonesia tidak hanya berasal dari jalut hukum, namun juga dalam persaingan dengan negara tetangga, dalam hal pasien. Tak dapat dipungkiri, sebuah pelayanan, sealtruisitik apapun, dibangun dengan sebuah biaya. Penurunan jumlah pasien berarti penurunan kepercayaan. Padahal, menurut penelitian informal yang tidak legal, kualitas kedokteran Indonesia, dibandingkan dengan pesaingnya, baik dalam hal SDM maupun sumber daya peralatan, tidak kalah, bahkan mungkin lebih unggul. Namun, hal ini terjadi disebabkan oleh kualitas komunikasi dokter-pasien yang semakin menurun. Hal ini dibahas dalam artikel lain.

Selain hal itu, kecenderungan para calon dokter yang semakin meremehkan pelayanan primer membuat tertekannya kualitas pelayanan primer di Indonesia. Diperburuk lagi, pelayanan sekunder melonjak, namun hanya di kota-kota besar saja, lagi-lagi disebabkan jiwa altruistik yang semakin rendah. AKibatnya, ketimpangan pelayanan di Indonesia semakin hebat.

Selain itu, bidang-bidang penunjang juga semakin banyak yang kehilangan peminat. Hal ini tidak saja disebabkan oleh permintaan SDM yang semakin meningkat yang tidak diimbangi oleh pasokan SDM baru, namun juga karena peminatan yang timpang kepada bidang-bidang tertentu saja. Padahal, bidang-bidang lain yang sama, bahkan mungkin lebih penting semakin kehilangan pewarisnya.

Hal terakhir yang memperburuk prognosis kedokteran Indonesia adalah semakin minimnya yang tertarik pada kegiatan mengajar. Hal ini disebabkan oleh gaji para guru dan dosen yang masih rendah juga. Sebuah alasan klasik adalah “agar jiwa pengabdian para guru tetap murni”. Sebuah alasan yang akan membuat tertawa sinis setiap orang yang mendengar.

Namun semua masalah di atas dapat dirangkum dalam dua bagian besar; jiwa altrusitik yang kurang, dan dana pendidikan dan kesehatan dari negara yang rendah.

Jiwa altrusitik dapat dibina untuk para calon mahasiswa dengan pemperbaikian sistem pendidikan yang ada. Diperlukan sebuah sistem penyaringan yang lebih adekuat, tidak hanya sekedar ujian tulis saja. Sebuah pembinaan internal mahasiswa juga sangat diperlukan, berupa pembinaan jiwa sejak awal, berupa kewajiban akan kegiatan pengabdian masyarakat, yang tentu saja harus didukung oleh pihak legislatif kedokteran.

Dana pendidikan yang kurang menyebabkan berkurangnya minat untuk menempuh profesi sebagai pengajar, sedangkan dana kesehatan yang kurang menyebabkan ketimpangan SDM dalam dunia kesehatan itu sendiri. Sudah saatnya negara lebih memperhatikan kedua hal tersebut, karena pendidikan dan kesehatan, di luar Dunia Kedokteran, tetap merupakan vitalitas sebuah negara.