Janji Kepaniteraan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

(diucapkan oleh saya, 21 Agustus 2009)

Dengan tulus saya berjanji:

Saya akan taat kepada semua ketentuan peraturan dan tata tertib yang dianut dalam penyelenggaraan program pendidikan ini.

Saya akan senantiasa berusaha untuk belajar dengan kemampuan tertinggi yang saya miliki dan senantiasa menjaga kesehatan saya.

Saya akan mempelajari, berusaha menghayati, serta mulai mengamalkan Kode Etik Kedokteran Indonesia dalam setiap kegiatan yang berhubungan dengan upaya pemeliharaan kesehatan masyarakat.

Saya akan menantiasa berusaha untuk ikut memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan penderita yang dipercayakan sebagai bahan pendidikan saya.

Saya akan senantiasa mengahyati penderitaan yang dialami orang sakit sehingga saya dapat memeberikan pertolongan sebagaimana mestinya.

Saya akan senantiasa merahasiakan segala sesuatu yang diketahui tentang penderita yang dipercaya sebagai bahan pendidikan sebagaimana diatur dalam peraturan pemerintah tentang kewajiban simpan rahasia kedokteran.

Saya tidak akan melakukan atas tanggung jawab sendiri kegiatan pengobatan, pemberian keterangan, ataupun menerima imbalan dalam hubungan dengan penderita karena pada hakekatnya memang saya belum mepunyai wewenang dan kemampuan untuk hal tersebut selama menjalani program pendidikan ini.

Saya akan selalu menghormati staf pengajar sebagai guru saya, kakak saya, ataupun orang tua saya atas pengorbanan yang diberikannya demi kemajuan dan keberhasilan saya dalam program pendidikan ini.

Janji ini saya ikrarkan dengan kesadaran penuh untuk memenuhi persyaratan mengikuti kepaniteraan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Didasarkan pada Sumpah Kedokteran, yang berbasis pada Hippocratic Oath. Sumpah Hippokrates kini tidak digunakan lagi, direvisi menjadi Declaration of Geneva. Namun, beberapa negara membuat sumpah mereka sendiri, termasuk Indonesia, yaitu Sumpah Kedokteran yang tercatat dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI).

(Demi Tuhan  saya bersumpah):

  1. Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan kemanusiaan.
  2. Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang terhomat dan bersusila, sesuai  dengan martabat pekerjaan saya sebagai dokter.
  3. Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur profesi Kedokteran.
  4. Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena keprofesian saya.
  5. Saya tidak akan mempergunakan pengetahuan dokter saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan perikemanusiaan, sekalipun diancam.
  6. Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan.
  7. Saya akan selalu mengutamakan kesehatan pasien,dengan memperhatikan kepentingan masyarakat.
  8. Saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, gender, politik, kedudukan sosial dan jenis penyakit dalam menunaikan kewajiban terhadap pasien.
  9. Saya akan memberi kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya.
  10. Saya akan perlakukan teman sejawat saya seperti saudara kandung.
  11. Saya aman mentaati dan mengamalkan Kode Etik Kedokteran Indonesia.
  12. Saya ikrarkan sumpah saya ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya.

Seandainya, seandainya saja, setiap dokter mematuhi sumpahnya, masih adakah masalah? Seandainya, setiap dokter memahami inti dari sebuah Beneficence, Nonmaleficence, Autonomy, dan Justice, masih adakah kekacauan? Seandainya setiap dokter memahami Primum non nocere (Pertama, jangan menyakiti), sebuah kata yang didengung-dengungkan sejak saya baru menginjakkan kaki di fakultas kedokteran, masihkah ada masalah?

Seandainya sumpah tidak hanya sekedar di bibir saja.

Kini, pegangan saya hanyalah sebuah Janji Kepaniteraan. Sanggupkah saya menepatinya? Jika suatu hari nanti, saya mengucapkan Sumpah Dokter, akankah saya mematuhinya?

Oath of Asaph, Sumpah Dokter Yahudi; Vaidya’s Oath, Sumpah Dokter Hindu; 17 Peraturan Enjuin, Sebuah Sekolah Tabib Ri-Shu di Jepang; Sun Simiao, Penulis “Sumpah Hippokrates” Tiongkok; begitu banyak variasinya, namun isinya sama saja. Pengabdian penuh untuk kepentingan masyarakat. Masihkah mereka di luar sana mengingatnya dan mengamalkannya? Ataukah sumpah hanya sekedar kata sumpah?