Segera begitu aku menjejakkan kakiku di dalamnya, setelah berdesak-desakan dengan beberapa makhluk terkutuk yang sepertinya bergembira atas penderitaan orang lain, segera bau, pemandangan, suara, dan hawa yang cukup familier bagiku langsung menyergap. Bukan, bukan sebuah sergapan yang mencekik, bukan pula sergapan yang menyenangkan. Hanya sebuah keberadaan belaka. Seluruh dunia, lengkap dengan semua fenomenanya, dimampatkan dalam beberapa gerbong yang jumlahnya tak tentu. Ya, inilah dia, KRL Ekonomi Jabodetabek. Sebuah dunia miniatur yang mewakili sebuah Jakarta, kalau tidak mau dibilang berlebihan mewakili satu dunia.

Dunia kecil yang siangnya diterangi matahari, malamnya beberapa lampu TL yang menempel di atas atap, atau hanya lampu-lampu jalanan yang menerobos masuk melalui jendela dan pintu gerbong, atau malah gelap gulita layaknya malam yang seharusnya. Di dunia inilah seseorang akan mengerti sebuah dunia yang sebenarnya. Di sepanjang gerbong-gerbong inilah, seseorang akan belajar mengenai kehidupan yang sebenarnya.

Dunia ini terbagi atas tiga kompartemen dan satu jalur bebas yang kabur. Kompartemen duduk, berdiri, dan atap.

Kompartemen duduk adalah sebuah kemewahan tersendiri yang hanya bisa dimiliki oleh beberapa puncak rantai makanan. Sebagian besar dihuni oleh kaum adam, berusia remaja sampai paruh baya, usia di mana mereka seharusnya masih memiliki fisik yang membuat mereka tidak pantas berada di kompartemen ini. Namun apa daya? Dengan fisik mereka jualah mereka memperoleh posisi mereka yang sekarang, nyaman dengan pantat dan punggung melekat erat di atas kursi biru, menolak menatap yang lebih membutuhkan, menutup mata berpura-pura tidur, atau menempelkan dua bongkah plastik berbunyi nyaring di lubang telinga mereka, menutup diri dari dunia yang ada. Siapakah mereka? Para penguasa harta yang tak mengerti masih ada yang lebih membutuhkan. Para penguasa harta yang bahkan tak tahu hendak dikemanakan harta mereka. Siapakah pengisi sebagian kecil kompartemen duduk, kalau begitu? Mereka yang membutuhkan, entah berhasil berebut nyawa dengan para kaum pertama, entah karena welas asih yang seharusnya. Ibu hamil, ibu dengan anak kecil, tua renta. Mereka yang membutuhkan, mereka pula yang tak sepantasnya berdesakan di tengah dunia kejam ini. Namun, siapa yang mampu mengangkat mereka dari sana? Nasiblah yang membuat mereka menumpang sementara di ruang besi berjalan tersebut.

Kompartemen kedua, adalah kompartemen atap. Para pencari jati diri, atau hanya sekedar tak tahu diri. Mereka dengan ide cemerlangnya menolak bertarung untuk kompartemen utama, kompartemen ketiga, memilih untuk menjual nyawanya pada ular-ular petir yang bergelantungan di atap sana. Merekalah kaum yang cukup dibenci, karena menumpang secara cuma-cuma, mengganggu kinerja, dan sebenarnya membahayakan nyawa mereka. Namun mengapa harus orang lain yang memikirkan nyawa mereka? Mengapa mereka tak mampu melakukannya? Seandainya saja, setiap penghuni kompartemen atap diganjar hukuman secara tegas, niscaya mereka akan lebih mematuhi kebenaran. Merekalah kaum yang menentang peraturan tanpa mau mengerti arti di baliknya. Untuk alasan apa? Hanya sekedar menjual sebuah nama kosong belaka, yang tak ada yang mau membelinya pula. Para pencari jati diri, tak mampukah kau melindungi nyawa sendiri?

Kompartemen ketiga, kompartemen berdiri, kompartemen utama. Ada penumpang sebenarnya, ada pula penumpang berpura-pura. Siapa-siapakah saja mereka?

Penumpang sebenarnya ada; bisa karena biasa, bisa karena terpaksa. Yang biasa adalah mereka yang memang seharusnya berada di sana. Yang terpaksa ada yang karena keterbatasan waktu, keterbatasan tempat, keterbatasan dana, dan lain sebagainya. Bagaimana pula sifat mereka?

Ada yang keras kepala. Kokoh berdiri di daerah pintu, menolak bergeser ke sela bangku. Alasannya? Sederhana. Supaya bisa keluar mudah. Ada yang lebih luar biasa lagi. Bergelantungan di lubang pintu, demi ego kecil mereka, supaya tak bertarung dengan para penghuni lainnya. Mereka peroleh angin segar selalu. Namun, mereka sangat dibenci oleh para penghuni lainnya. Mengapa? Mereka mengganggu fungsi pintu sebenarnya, daerah keluar masuk. Ada juga dari mereka yang di lubang pintu, sama gilanya dengan penghuni kompartemen kedua. Selalu menunggangi kereta setelah melaju, dan turun sebelum berhenti. Entah apa tujuannya. Dilakukan selalu setiap stasiun. Mungkin niatnya mulia, hendak memfungsikan pintu sebagaimana adanya. Namun mengapa naik dan turunnya tidak pada saat yang seharusnya, pada saat kereta tak melaju?

Ada pula penghuni biasa. Berada di tempat mereka seharusnya. Ada pula para pengikut saja. Disuruh berpindah mereka pindah. Disuruh berpinggir mereka juga. Mungkin disuruh lompat dari kereta pun mereka iya saja. Ada penghuni pintar, membawa kursi lipatnya sendiri, kemewahan kompartemen duduk tanpa mencuri milik yang lebih perlu. Namun ada pula penghuni berpura-pura, yang tangannya bekerja mencari nafkah. Ke mana mencarinya? Di saku penghuni lainnya. Mereka biasa bekerja sama. Ada yang mengalihkan perhatian sang korban, ada pula yang berjuang demi sesuap nasi milik orang lain. Bervariasi cara kerja mereka, tak ada yang tahu apa saja.

Lucu-lucu ketika kau melihat para penghuni. Ketika jam padat, saat itulah keluar sifat asli mereka. Ada yang diam saja, ada yang mencuri maki, ada yang mengancam kosong, ada pula yang bercanda saja. Begitu banyak ragamnya, kau akan tertawa mendengar kebodohan manusia terbongkar semua.

Jalur bebas dikuasai oleh empat penguasa. Yang pertama, penguasa seharusnya, para kondektur. Kadang mereka ada, namun hampir selalu tidak ada. Mereka melangkah secara acak, menebak-nebak, dan meminta karcis kereta pada beberapa saja. Berbeda dengan kondektur saudara sang KRL Ekonomi, KRL Ekonomi AC dan KRL Ekspres, kondektur yang ini seakan berbasa-basi saja. Makan gaji buta istilahnya. Kalau kebetulan bertemu mangsa, si kunyuk yang tak punya karcis, maka dua helai uang seribuan cukup menghalau mereka. Apa artinya karcis denda di sakumu Bapak?

Penguasa kedua, para pedagang.

“Yang haus, yang haus, yang haus….”
Itu pedagang minuman gelas plastikan. Dibawa dalam ember yang tepinya ditinggikan dengan kardus-kardus, di atasnya sebuah es batu besar. Kadang-kadang, teriakannya:
“Aqua, Mount tea, teh kotak….”

“Aqua dingin, green tea, yang haus yang haus yang haus….”
Itu pedagang minuman botol plastikan. Dibawa dalam tumpukan entah apa yang dipasang papan beroda, di bagian atasnya diganti dengan jerigen besar yang dipotong buka, lalu diisi dengan minuman botolan tersebut, diselipi es batu.

“Ting ting ting….”
Itu adalah bunyi ketukan pembuka botol pada botol kaca minuman. pedagangnya biasa mendorong tumpukan kerat minuman, di bawahnya dipasang papan beroda, lalu di sisi tumpukan kerat minuman itu ada sebuah termos kecil tempat es batu.

“Kompas Non-Stop Tempo Media Seribu Media….”
Ini sudah pasti pedagang surat kabar. Biasanya dibawa dalam bentuk tumpukan yang dibuka menyerupai kipas, dalam pelukan tangan. Harga berbeda drastis pada pagi hari dan sorenya.

“Tarahu tarahu tarahu tarahu….”
pedagang tahu goreng. Didorong juga dalam bentuk kereta buatan sendiri,di atasnya terdapat puluhan tahu goreng, ditutup oleh sebuah kelambu plastik.

Itulah pedagang yang bersuara. Ada pula pedagang yang tak bersuara, dengan teknik yang bervariasi pula.

Ada yang membawa kereta, mirip seperti kawannya di atas. pedagang lain yang paling umum adalah pedagang buah. Buah yang dijual biasanya adalah apel, pir, anggur, kelengkeng (dalam bungkus plastik), stroberi (yang dipak dalam kotak plastik), dan paling umum, jeruk. Mirip dengan pedagang koran, harga juga berbeda drastis pada pagi hari dan sorenya. Untuk jeruk, harga berubah dari “Sepuluh ribu enam” menjadi “Lima ratus satu”.

Ada juga pedagang gendong, dengan sebuah kotak yang dipasangi tali melingkari leher, berjualan rokok dan permen-permen.

Ada juga pedagang kain pembersih mobil, pedagang permen jahe, pedagang lem korea (lem korea lima ribu lem korea….), kerupuk kulit yang dibawa dalam plastik besar, tas-tas kecil, mainan anak-anak, pisau dapur biasa dan berbagai pisau dapur unik lainnya (pisau tanpa kemasan akan dibungkus dalam kertas koran), dan pedagang kue basah dan gorengan. Tak lupa pedagang kursi buat penumpang pintar kompartemen ketiga.

Ada pedagang yang membagi-bagikan barangnya kepada pengunjung secara acak sepanjang gerbong, dengan korban biasanya penghuni kompartemen duduk. pedagang buku-buku (islami, TTS, mewarnai, kunci lagu, biasanya dibawa dalam kotak panjang dalam lipatan lengan, disandarkan di bahu, bagian terbuka di samping memanjang), dan pedagang makanan kecil dalam bungkusan yang kecil pula (yang biasanya dibawa dalam gantungan unik yang bisa diletakkan di lantai, bisa juga diangkat di atas bahu, atau hanya sekedar dijinjing).

Ada juga pedagang papan gantung. Berbekalkan selembar kardus yang bagian atasnya dikokohkan dengan batangan kayu, sepanjang permukaan kardus dihamparkan aksesoris kecil wanita, kadang-kadang berbagai barang lainnya. Di batang kayunya terdapat sebuah tali kecil berujung kait, yang dapat dikaitkan ke palang pegangan penumpang, agar tak perlu menahan papan saat penumpang tertarik pada barang dagangan. Ada pula pedagang papan gantung yang berdagang sarung ponsel, yang kalau berbahan dasar karet disebut kondom (kondom, kondom, kondom kondom hape kondom hape….).

Itulah penguasa kedua.

Penguasa ketiga dan keempat, sukar dibedakan batasnya. Tak ada yang sanggup menarik garis tegas pemisah penghibur, atau sekedar peminta-minta. Semoga aku mampu menelaahnya.

Penguasa ketiga, sang penghibur. Sang pengamen. Mereka yang mencari nafkah dengan sedikit hiburan untuk para penghuni kompartemen satu dan dua. Atau mungkin hanya basa-basi belaka, sekedar berbeda dari peminta-minta, atau malah menjengkelkan, agar segera diusir pergi dengan secarik lembaran uang. Mulai dari yang paling sederhana, bermodalkan suara saja, entah merdu entah paraunya. Kadang ditemani pula dengan sebuah botol kosong bekas minuman, berisikan sejumput pasir, gigoyang layaknya maraca, walau kadang menentang suara. Kadang ia ditemani pula, potongan kayu bergelantungan tutup botol kaca minuman, dipasakkan dengan paku longgar. Digoyang layaknya tamborin penuh kepahitan.

Kadang ia datang dalam satu loudspeaker di depan perut, kaset tersoak tanpa kata, dan mikrofon, bernyanyi layaknya karaokean pribadi. Kadang ia seorang buta (entah kalau pura-pura), kadang ia seorang ibu muda, menggendong seorang bayi, dengan pemegang kantong sedekah seorang gadis kecil dengan wajah penuh derita. Kadang pula seorang banci, meliuk-liuk tanpa berdendang di sela-sela para penghuni kompartemen dua.

Rupa pengamen pada umumnya, bermodalkan sebuah gitar belaka, ternyata hampir tidak ada. Sosok yang paling mendekati hanyalah sesosok pengamen bergitar, dengan sebuah harmonika di depan mulutnya, dipasang dengan batangan besi yang bersandar nyaman di bahunya. Kadang ia datang bersama, layaknya sebuah grup musik sebenarnya, dengan pemegang gitar, vokal, dan potongan membran yang diharapkan meniru sebuah drum. Kadang ditemani pula oleh sebuah bass, sebuah biola. Kadang ia datang dalam rupa gamelan berjalan, dengan biola pula. Kadang ia datang, dengan sebuah ukulele kecil, dan sebuah tabung yang bermembran, berharap ia menjadi sebuah drum.

Penguasa keempat, sang peminta-minta, kadang menyamar menjadi penguasa ketiga. Namun mereka yang tidak menyamar menggunakan ribuan sosoknya untuk mencuri halus beberapa lembar rupiah dari kantung para penghuni kereta.

Ada mereka yang terluka, baik kakinya, baik tangannya, baik matanya. Terluka yang membuat mereka berbeda. Namun sayangnya, digunakan untuk meminta-minta. Kadang ada yang menolak diobati, karena akan kehilangan harga. Buruknya, bahkan ada yang berpura-pura. Kadang ada menawarkan jasa, terseok-seok di atas pantat dan sandal jepit di telapak tangannya, menggunakan sebuah sapu lidi menghindarkan kotor dan sampah dari para penghuni kereta.

Kadang samarannya begitu rupa. Ia seorang pemohon dana pendiri rumah ibadah yang tak tahu di mana. Tak tahu benar adanya. Berbekalkan sebuah kotak kayu berlabel entah dari mana. Entah dari mana.

Kadang ia begitu tak tahu malunya. Badan begitu sempurna. Tak ada yang berbeda. Namun mengapa ia meminta-minta?

Sebuah pemandangan tak asing menyapa mata. Aku berdiri dari kursi lipatku, melipatnya, memasukkan dalam ransel punggungku. Perlahan aku melangkah turun dari KRL Ekonomi Jabodetabek. Menegakkan kepalaku, menatap kereta yang kembali melaju, meninggalkanku yang masih mengenang sepotong hidupku dalam dunia yang dimampatkan menjadi satu….