Hari ini adalah konsekuensi dari keputusan sewenang-wenang bahwa mahasiswa FKUI 2006 secara mendadak harus mengisi IRS menggunakan SIAK NG. Berbagai masalah muncul, miskomunikasi, dan lain sebagainya.

Hari itu (tengah malam?) diawali dengan isian IRS yang bahkan belum tertera pada tanggal 11 Agustus 2009, pukul 00.00. Padahal, menurut versinya dekanat, seharusnya daftar isian sudah ada pukul 00.00. Tunggu punya tunggu, ada yang ketiduran, ada yang masa bodoh lalu tidur, ada yang begadang semalaman, akhirnya baru beredar isu bahwa IRS sudah bisa pada pukul tujuhan. Maka bertarunglah satu angkatan memilih kelompok favorit mereka. Dan masalah pun bermunculan.

  • Ada yang cuma memilih satu bagian saja.
  • Ada yang berada di daftar tunggu tanpa menyadari konsekuensinya (didepak pada akhir pendaftaran)
  • Ada yang tidak memilih mata kuliah Dasar Pemeriksaan Klinik
  • Ada yang tidak bisa di-approve oleh PA-nya
  • Ada yang mengira sudah disetujui PA-nya, padahal yang menyetujui adalah dirinya sendiri

Padahal, masalah sebenarnya adalah miskomunikasi.

  • Mahasiswa tidak mengerti tata cara mengisi IRS yang sebenarnya secara real time, bukan cuma teori. Hal ini disebabkan kedua pihak, penjelasan yang kurang dari atas, dan mahasiswa yang sotoy padahal tidak mendengarkan saat penjelasan.
  • Miskomunikasi antara fakultas dengan pusat, sehingga IRS yang seharusnya tipe persetujuan PA menjadi tipe persetujuan mahasiswa.
  • Persiapan yang kurang, dan kurang koordinasi pula antara dekanat, para PA, mahasiswa, dan Tim IT.

Akibatnya, beredar pula berbagai solusi yang ada.

  • Mencari PA-nya (yang ternyata banyak yang tidak mengerti apa-apa)
  • Mencetak lembar IRS lalu ditandatangani PA.
  • Berbingung ria di ruang TU.

Dan akhirnya?

Tak ada yang tahu.

Tapi saya yakin, bahwa masalah yang ada adalah kurang matangnya sistem. Dan yakinlah teman-temanku, mahasiswa tidak akan dipersulit. Jika seandainya data kita kacau (oleh karena sistem, bukan karena kesalahan pribadi), maka dekanat dipastikan akan menanggulangi masalah ini agar mahasiswa bisa kuliah dengan tenang. Di negara kita yang lumayan bobrok ini, budaya tolong menolong masih kuat di antara orang-orang yang baik, seperti misalnya para pejuang di bidang pendidikan, karena memang mereka adalah orang-orang yang rela berkorban.

Semua akan baik-baik saja.

Mungkin. (Just kidding, hehehe)