“Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat TYME, berkat karunianya, kita dapat berkumpul di ruangan ini dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun yang berarti. Yang terhormat, Prof. Dr. dr. Rodri Chen, SpAn(K), yang terhormat, Jend. Purn. Rodri Tanoto dari Angkatan Darat, Laut, dan Udara sekaligus, yang terhormat, bla bla bla….”

“Tujuan, keinginan, dan harapan, serta objektif dari acara ini, tak lain dan tak bukan, mudah-mudahan bukan sekedar impian, sekedar omong kosong, ialah, adalah, dan untuk serta bertujuan, semoga doa kami terkabulkan, yaitu, bismillahirrahmanirrahim, menjadi….”

Basa-basi dan seremoni telah menjadi bagian dari setiap acara formal. Tidak ada satupun acara formal yang tidak menyelipkan setengah jam untuk sebuah kata sambutan. Bahkan, beberapa acara non-formal pun menyelipkan hal yang sama. Pertanyaannya adalah, seberapa pentingkah sebuah seremoni dan basa-basi tersebut?

Basa-basi dan seremoni diberikan untuk sebuah penghormatan, sebuah ucapan terima kasih, sebuah salam, intinya adalah sebuah pembinaan hubungan, suatu hal yang sangat penting dalam konteks bermasyarakat. Hal inilah yang menyebabkan kedua topik ini menjadi bagian yang penting pula dalam sebuah acara, terutama acara formal yang umumnya kaku dan dingin. Tapi?

Kenyataannya, basa-basi dan seremoni menjadi sebuah bagian yang paling membosankan, terutama untuk pihak-pihak yang tidak terlibat, ataupun merasa tidak membutuhkan. Akibatnya, sebuah basa-basi dan seremoni telah menjadi sebuah omong-kosong wajib, sebuah ritual, untuk sebuah acara nonformal. Bahkan, sebuah iklan rokok “Bukan Basa Basi” telah menunjukkan paradigma sebuah basa-basi dan seremoni; sebuah omong kosong belaka. Mengapa bisa demikian?

Sederhana saja. Basa-basi dan seremoni, dengan paradigmanya yang “wajib” untuk sebuah acara formal, menjadikan keduanya sebagai suatu hal yang dilaksanakan hanya karena kewajiban belaka. Tidak ada lagi sebuah ketertarikan, baik dari sisi pelaku, maupun “korban”, dalam menanggapi pentingnya sebuah basa-basi dan seremoni.

Jadi, masih pentingkah sebuah basa-basi dan seremoni

Balik lagi ke tujuan utama dari kedua hal tersebut. Pentingkah tujuan tersebut? Apakah tujuannya sudah tercapai? Jika tidak, maka sudah saatnya kita berbalik lagi kepada pembinaan hubungan tersebut. Sudah saatnya kita, sebagai pelaku maupun calon pelaku nantinya, menghilangkan pola pikir “cuma melaksanakan kewajiban”, dan benar-benar mempresentasikan sebuah basa-basi dan seremoni dengan sebuah niat yang benar.

Sudah saatnya basa-basi dan seremoni berasal dari hati.