Bukan. Kalau anda menyangka tulisan ini ditulis untuk mengenang kematian orang besar bernama Noordin M. Top (kayanya belum mati deh), maka dengan berat hati saya nyatakan bahwa keparat seperti dia hanya pantas ditulis di buku sejarah dan berita, sejajar dengan para pelaku genosida lainnya, yaitu di bagian bab berjudul “Sampah”. Dan mumpung saya masih berbicara tentang keparat ini, izinkan saya untuk menolak segala bentuk hukuman mati terhadap Yang Mulia ini. Hukuman paling tepat untuk dia adalah dilempari petasan berdaya ledak sedang tanpa henti. Tapi daripada saya semakin terjerumus dalam jurang yang sama dengan dia dengan berpikir jahat seperti ini, maka sebaiknya saya masuk ke topik yang sebenarnya.

Tulisan ini untuk mengenang 3 seniman dan sastrawan yang meninggal berdekatan waktu, bukan cuma seniman biasa, namun seniman-seniman luar biasa yang mengukir Indonesia, bahkan dunia, dengan seni mereka. Selamat jalan Michael “Jacko” Joseph Jackson, Urip Aryanto alias Mbah Surip, dan yang terakhir, Wahyu Sulaeman Rendra (nama lahir: Willibrordus Surendra Broto Rendra) Si Burung Merak.

Seni sebuah sastra, dan sastra sebuah seni. Seni sebagai sastra, sastra sebagai seni. Batas seni dan sastra yang semakin kabur. Keduanya hanya berbeda bahasa, namun keduanya adalah jiwa dari sang pencipta. Oleh karena itu, untuk menyamakan persepsi, dan untuk mempermudah penyebutan, definisi kata seniman dan seni setelah ini adalah mencakup kedua aspek, seni dan sastra. Yang mau protes, sayang sekali, tidak diterima.

Ketiganya adalah seniman stereotip. Sebuah gambaran yang dipakai oleh setiap orang untuk menggambarkan sebuah kehidupan seniman, sekaligus alasan setiap orang tua yang melarang anaknya untuk menjadi seorang seniman. Kehidupan eksentrik, nyentrik, dengan kehidupan unik nan berantakan. Keluarga berantakan, namun di balik semua penderitaan yang membuat mereka unik, mereka punya satu kesamaan yang lain; originalitas. Sebuah hal yang mengukir sebuah nama seniman; sebuah hal pula yang menyebabkan seseorang pantas menjadi seniman. Tanpa originalitas, sebuah karya bukan, dan takkan pernah, menjadi sebuah seni.

Pertanyaan besar yang perlu ditanyakan adalah, siapakah pengganti ketiga orang besar ini? Mereka yang berani menunjukkan sisi “aneh” mereka, atas nama sebuah originalitas. Mereka, yang tanpa pernah mengaku seniman, telah menjadi seniman itu sendiri. Siapa yang akan mewariskan nama besar mereka?

Tak ada yang tahu. Para kritikus semakin sinis dan gencar mengkritik (menghina?) para calon sastrawan yang ada. Hanya satu topik, originalitas. Kata menjiplak yang mengarah ke sebuah ilegalitas kini digantikan dengan kata meniru, mengutip, terinspirasi dari, dan lain sebagainya. Namun semua itu berarti sama, belum lahir dari hatinya yang sebenarnya. Namun, tak ada yang bisa menyalahkan para pencipta karya (pencipta seni=seniman; pencipta karya=karyawan?) tersebut. Tuntutan pasarlah sangat berperan dalam merusak hati nurani mereka. Seperti kata pepatah, mulut untuk bicara tetap saja harus disuapi.

Pasar sekarang sungguh miris. Banyak sekali konsumen seni (dan sastra, dan hibridnya) yang hanya mengerti satu kata, popularitas. Sebuah hal yang semakin mengangkat nama yang tinggi, dan menjatuhkan nama yang rendah. Hanya kaum-kaum yang mengerti sebenarnya sebuah senilah yang dengan susah payah mencoba mengangkat nama para seniman yang baru, namun adalah seorang seniman. Sebuah kata dari sahabat saya (kalau dia mau mengakuinya), Abhi:

“Alah, yang menonton Java Jazz, JGTC, berapa sih yang beneran suka, dan mengerti jazz? Banyak yang isinya anak-anak alay gitu, ikut-ikutan padahal gak ngerti apa-apa, supaya dibilang keren. Bikin penuh aja! Padahal di dalam, bisanya foto-foto narsis doank.” (kalimat terakhir w yang nambahin, hehehe. Ato u ada ngomong juga Bhi?)

Kalimat singkat di atas cukup menggambarkan suasana pasar sekarang, yang lebih mengagungkan sebuah popularitas daripada sebuah makna dari seni tersebut. Akibatnya? Originalitas semakin sulit dilahirkan, karena sesuatu yang baru menjadi hal yang hampir “tabu”.

8 Agustus 2009 (Ada Have Fun Go Med 2009!) mungkin menjadi gambaran penting bagi saya mengenai topik saya di sini. Betapa lagu daerah yang dibawakan dengan manisnya, cukup menjadi cibiran. Betapa band-band BELUM (dan bukan TIDAK) bernama dihiasi oleh penonton yang asyik berfoto-foto sendiri (dengan latar belakang yang tidak jelas pula. Nanti foto tersebut dikasih judul deh, “lagi konser nih!” Padahal latarnya aja gak jelas. Fotonya sudah penuh berisi muka mereka). Di antara para penikmat musik sejati, tetap bertebaran para trend follower yang tidak mengerti apa-apa. Namun, sebuah hasil menguping saya mungkin cukup menggambarkan penonton tak berkualitas sepertinya.

“Gua sih mau duduk aja deh. Pas Maliq ama Tompi, nah baru berdiri.”

Mungkin kalimat tersebut bermakna dua, antara dia fans sejati (perhatikan kata sejati di sini. Bukan cuma trend follower) Maliq and D’Essentials dan Tompi, ataukah yang kedua, dia hanya mengerti, bahwa artis ternama seperti Maliq and D’Essentials dan Tompilah yang pantas diperhatikan saja. Namun jika ternyata yang benar adalah yang kedua, maka saya benar-benar kecewa.

Para seniman dan sastrawan, teruslah berkarya. Ingatlah satu kata, originalitas. Ingatlah, bahwa tak ada karya yang buruk. Yang ada hanyalah kesepahaman dan ketidaksepahaman dengan konsumen. Apakah kau berkarya untuk pasar? Ataukah kau berkarya dari jiwa?

Dan untuk para konsumen sastra dan seni, para orang yang mengaku berjiwa seni dan sastra. Lirik kembali hatimu, dan carilah, apakah kau benar menghargai seni dan sastra dengan jiwamu? Ataukah kau hanya sekadar ikut-ikutan saja?

-Untukmu Jacko, Mbah Surip, dan WS Rendra, teruslah berkarya dalam jiwa para seniman baru-