Pagi ini (uh, kemarin pagi lebih tepat?) saya sedang melewati jalan pintas (menurut Greg, tapi kayanya sama aja deh Greg) melalui gang ajaib di sebelah kosan saya yang memutar keluar ke jalan besar. Di tengah perjalanan, saya mendengar sebuah suara yang sangat familier untuk semua cowo yang pernah menginjakkan kakinya di bangku SMP/SMA (makna konotasi, oke? Ngomong-ngomong, sekolah kalian ada hukuman disetrap berdiri di atas kursi gak sih?) berbunyi kurang lebih seperti ini:

“Ret tet tet tet tet….”
“Need Backup.”
“Fire in the hole….”

Tebakan anda benar. Suara games Counter Strike yang sangat bergema di kalangan remaja masa lampau (Halah. Kalau sekarang dotA ya? Gak tahulah, udah gak gaul ama anak SMA lagi sekarang. Udah gak zaman. Sekarang maennya ama anak kuliahan lah), sebuah suara yang pasti membuat kepala cowo-cowo menoleh (cewe-cewe kalo mau narik perhatian cowo coba deh pake ringtone suara-suara CS. Pasti lebih manjur dibandingkan dandanan terbaru anda, kecuali dandanan terbaru anda meliputi belahan kerah yang rendah atau rok yang berakhir cuma belasan senti dari pangkalnya). Hal tersebut juga berlaku pada saya, yang dengan refleks yang dipelajari (apa sih bahasa kerennya?) menengok dengan cepat ke sebelah kiri. Apa yang saya lihat?

Seorang Ibu-Ibu dengan mata berjarak kurang lebih satu meter dari televisi. Hah? Segera saya melebarkan fokus dan, itu dia, persis di sebelahnya, seorang anak kecil, berjenis kelamin perempuan, memakai seragam SD, berdiri, sedang menghadap monitor PC yang bagian terbawah monitor tersebut sejajar dengan dagu anak tersebut, dengan menengadah sedikit. Jarak anak tersebut dengan ibunya kurang dari 30 cm.

______________________________________________________________________

Sebegitu tidak pedulikah orang tua zaman sekarang dengan pendidikan anaknya? Saya, salah seorang konsumen CS, dengan berat hati menyatakan bahwa game tersebut penuh dengan kekerasan (ya iyalah, bunuh-bunuhan gitu). Dan seorang ibu, yang mungkin tidak terlalu memperhatikan detil kecil seperti itu, membiarkan anaknya bermain games seperti itu.

Contoh kecil tadi (yang disampaikan dengan begitu banyak paragraf berlebihan) bukanlah satu-satunya. Berapa tayangan tidak mendidik yang berputar di stasiun televisi lokal Indonesia? Sinetron, tak terhitung jumlahnya, namun ada satu kesamaan; tidak mendidik, bahkan contoh yang buruk. Lelucon yang paling umum yang beredar di kalangan komedian Indonesia adalah yang berbau seksual. Film kartun yang dapat membuat terbahak-bahak, seperti Tom & Jerry, Looney Tunes, semua berbau kekerasan, walaupun sifatnya kartun. Film-film bajakan (di Indonesia kayanya susah deh yang punya original) beredar secara luas di segala kalangan umur, dengan batas sensor yang belum ada (sebenarnya setiap kover DVD memiliki batas rating. Tapi siapa yang membacanya?). Pornografi beredar dengan luasnya di kalangan anak-anak (pengalaman pribadi neh, walaupun gak seekstrim anak zaman sekarang). Masih banyak sekali contoh paparan tidak sehat kepada generasi muda. Apa yang harus kita lakukan untuk melindungi mereka?

Apakah dengan cara menghapus semuanya dari penjuru dunia? Biaya tinggi, tidak efektif, dan tidak efisien. Mengawasi anak setiap waktu? Perbuatan bodoh. Apa yang harus kita lakukan, kalau begitu?

Perisai dari dalam selalu lebih kuat dari perisai dari luar. Sama seperti imunisasi, imunisasi aktif (dari diri sendiri) jauh lebih kuat dibandingkan dengan imunisasi pasif (dari luar). Demikian juga dengan hal ini. Tugas utama sebagai seorang pendidik bukanlah menghalangi paparan, karena, tidak mungkin paparan dapat ditahan semuanya, namun berikan edukasi yang benar pada anak-anak itu. Utamakan edukasi, bukan prevensi paparan.

Anda boleh bertanya, berapa sih anak cowo yang terpapar pornografi sebelum usia? Mungkin hampir semuanya. Namun berapa sih yang melakukan pemerkosaan? Yang pasti cuma sepersekian. Apa yang membedakan kedua golongan di atas? Ilmu pengetahuan. Dan apa yang dapat memastikan anak-anak mendapatkan pengetahuan baik dan buruk tersebut? Sebuah edukasi dini tentunya. (bukan buah apelnya Adam dan Hawa).