Nilai-nilai kualitatif adalah nilai-nilai subjektif, sehingga nilai-nilai tersebut paling dihindari oleh kaum akademisi. Berbagai usaha telah dilakukan oleh para akademisi untuk mengurangi nilai subjektivitas tersebut, bahkan membuat sebuah sistem penilaian objektif yang kuantitatif untuk nilai-nilai tersebut. Dan dua di antaranya, yang digunakan untuk menilai kualitas akademik seseorang, adalah nilai rapor 0-10 (atau 0-100) (dalam konteks perguruan tinggi digantikan dengan Indeks Prestasi, 0-4), dan untuk kualitas akademis non formal, Curriculum Vitae. Namun pertanyaannya adalah, seberapa objektifkah sistem tersebut?

Kenyataannya, subjektivitas sistem “objektifikasi” tersebut memiliki hubungan timpal-balik dengan orientasi yang salah terhadap sistem tersebut. Banyak sekali contoh di mana orientasi yang justru terpusat pada nilai “objektif” itu sendiri, dan bukan pada nilai sebenarnya di balik nilai objektif tersebut. Hubungan timpal-balik di sini adalah hubungan di mana sistem objektifikasi inilah yang menyebabkan orientasi yang salah, yang sebaliknya, menyebabkan subjektivitas pada sistem tersebut.

Tak terhitung banyaknya “kecurangan” yang terjadi dalam rangka memenuhi sebuah kualitas nilai “objektif” tersebut. Berbagai kecurangan dilakukan (menyontek, kerja sama) pada saat ujian pengambilan nilai, sehingga nilai di balik nilai objektif tersebut pun tidak tercapai. Banyak sekali kegiatan (seminar, organisasi, dsb) yang diikuti, hanya untuk mengambil sebuah sertifikat agar dapat dicantumkan pada daftar curriculum vitae, tanpa memperoleh esensi dari kegiatan tersebut.

Hidup, yang memang subjektif, akan selalu terdiri atas nilai-nilai subjektif juga. Semuanya kembali kepada kesadaran diri, apakah nilai yang sebenarnya, di balik sebuah nilai objektif, benar-benar tercapai. Dan semuanya, akan terbayar oleh sebuah nilai subjektif, dari masyarakat luas, seberapa profesionalkah anda.

PS: Walaupun artikel ini hanya membahas topik sempit mengenai nilai ujian dan CV, namun dapat diaplikasikan kepada semua sistem objektifikasi yang ada di setiap aspek kehidupan. Bahwa setiap pekerjaan, harus tetap memperhatikan nilai sebenarnya di balik sebuah nilai objektif, yang hanya bisa dinilai secara individual dengan sebuah “indra keenam” atau “hati nurani”.