Penulis: Wakil Ketua I – Acara alias PU I
Nama Acara: Bakti Sosial SOLACE (Solid Action in Charity and Empathy) 2006/9
Waktu: 29-31 Juli 2009 (Advance: 27-29 Juli 2009)
Tempat: Desa Rawabogo, Kec. Ciwidey, Kab. Bandung, Jawa Barat
Keterangan: Note ini menceritakan Baksos terbaik FKUI ini dari sudut pandang seorang PU I, dengan tujuan hiburan, informatif, dan kenangan.

Hari Senin diawali dengan sebuah rapat briefing terakhir persiapan sebelum baksos. Seharusnya dimulai pukul 08.00, namun karena banyaknya yang terlambat (ya iyalah, ketuanya aja pake acara ketiduran segala), maka rapat ini baru dimulai pukul 09.00. Setelah berbusa-busa dan tenggorokan kering, maka tim advance pamit pada pukul 10.00. Tak disangka, salah seorang tim advance masih belum hadir juga. Andre! Seperti biasa, semua nomornya tidak ada yang bisa dihubungi. Akhirnya, pukul 10.30, si Andre yang sudah ditakut-takuti bahwa tim advance sudah berangkat akhirnya tiba di Parasit. Berbekal dendam untuk mencincang Andre dan mengukusnya di kukusan Siluman Tengkorak Putih, akhirnya tim advance pun berangkat dengan modal: Rp 750.000,00 dari tim konsumsi, dengan hanya tiga ratus ribu untuk makan 6 kali untuk 6 orang, tega nian si Lele, sisanya untuk membeli air mineral dus, dua juta rupiah sebagai biaya advance, termasuk biaya semua hal yang harus dipersiapkan oleh tim advance (baca: tukang gelar karpet merah), 5 panitia tim advance, yang terdiri atas Andry dan Benny dari seksi Konsumsi, Andre dari seksi Akomodasi, Abhi sebagai Wakil Ketua II – Suportif, dan saya sendiri, Wakil Ketua I – Acara. Patut diperhatikan di sini, bahwa Wakil Ketua Baksos menurut KBFKUI (Kamus Besar Fakultas Kedokteran UI) disinonimkan dengan “Pembantu Umum, Opis Boi witaut Opis”, sebuah mobil pinjeman dari Kevin yang baik hati (lupa merknya ama platnya, ada yang bisa bantu?), dan Pak Rojikin (bener gak sih nulisnya Kev?), sopir pribadi Kevin, sekaligus salah satu pahlawan nasional SOLACE. Berbekal peralatan seadanya, tim advance pun siap berperang.

Kami berhenti di rest area untuk makan siang. Apa? KFC! Dan habislah setengah dari total biaya makan di sana. Lalu kami pun melanjutkan perjalanan ke Kota Ciwidey, menunaikan tugas kami yang pertama, yaitu mengambil surat izin kegiatan di Dinkes. Setelah dipingpong ke sana kemari, dan telepon kami ke panitia inti di Jakarta direject dengan sinisnya, akhirnya keputusannya adalah suratnya tidak pernah ada di Dinkes, dan kami harus meminta tim pusat untuk mengirimkan faks ke Dinkes besok pagi, barulah kami bisa mengambil suratnya besok siang.

Setibanya di desa, kami pun mencari rumah Ibu Ucu, sebagai tempat menginap yang telah “disiapkan” oleh tim akomodasi.

“Permisi Ibu, kami dari mahasiswa FKUI. Katanya Ibu udah dikasih tahu kalau kami boleh menginap di sini Ibu?”
“Iya.”
“Bukan hari Rabu Ibu, tapi mulai hari ini. Nanti hari Rabu ganti orang lagi.”
“Iya.”
“Ibu sudah dikasih tahu soal hari ini?”
“Belum.”

Buset. Ternyata, dengan susah payah (Ibu Ucu pendiam banget. Ngomongnya dikit banget) kami berhasil mengetahui bahwa ternyata terjadi miskomunikasi, sehingga Ibu Ucu sama sekali tidak tahu bahwa tim advance bakalan menginap di sana. Akhirnya, dengan daya tipu muslihat Abhi, kami berhasil menginap di sana.

Rangkuman beberapa sms dari Jakarta, beberapa di antaranya kami tipu kalau kami bakal tidur di mobil.
“Beneran kalian nginep di mobil?”
“Iya.”
“Kasihan. Jangan lupa ya beli ini, masang anu, bla bla bla….”

Jleb. Ternyata penderitaan kami (walaupun pura-pura) tidak mengetuk pintu hati mereka. Yang mereka pikirkan hanyalah “Tenda sudah dipasang, aku sudah dibeli, dan sebagai dan sebagainya”. Sakit hati? Banget. Namun sakit hati ini tidak dapat dibandingkan dengan sakit hati pada malam hari, beberapa paragraf setelah ini.

Setelah berpesta pora menghabiskan setengah sisa dana makanan di Saung Sari dengan Stroberi gorengnya yang adiktif, kami berpesta molen nanas di kota, barulah kami pulang ke rumah untuk tidur, setelah sebelumnya menyelesaikan beberapa pekerjaan, membeli air mineral dus misalnya.

02.00 WIB. Kedinginan di ruangan tempat kami menginap, karena dari sela-sela jendela angin dingin berhembus. Dan di tengah penderitaan kami, Abhi pun mengucapkan kata-kata di bawah ini:

“Sabodo teuing dibilang MT. Gua mau pake sleeping bag gua, mau apa lu pada?”

Jleb. Jleb. Di tengah penderitaan kami, Abhi dengan sinisnya menunjukkan sisi sebenarnya dengan tidur di dalam sleeping bagnya di hadapan kami yang sedang menggigil kedinginan! Terkutuk kau Abhi!

Besok pagi disapa oleh sms dari Echi, si PJ Makrab:
“Rod, bisa tolong cariin keyboard dan pemainnya?”
Hah? Nambah kerjaan u Chi!

Akhirnya hari Selasa dihabiskan dengan mengawasi pemasangan tenda, pencarian keyboard dan pemainnya untuk makrab dengan warga, mengambil surat di Dinkes, menggambar denah tempat tinggal dan meminta izin untuk memasangnya (ternyata masih ada orang seperti Pak Atang, Kepala Dusun yang menunjukkan kami rumah-rumah yang akan ditempati, yang menolak ucapan terima kasih berupa uang. Luar biasa. Salut untukmu Pak!) dan akhirnya selesai sudah tugas kami tim advance. Namun, sebuah kata-kata terkutuk, lagi-lagi diucapkan oleh Yang Terkutuk Abhi, “Jadi kita sudah bisa santai kan?” menyebabkan kami mendapat tugas mendadak keesokan harinya.

Sarapan mie instan di warung di kota (dan ternyata warung di seberang Balai Desa jual mie instan juga. Sial!), makan siang hasil belanja tim yang ke Dinkes, makan malam kami berpesta di sebuah tempat ayam bakar kecil yang dibuka oleh sebuah rumah tangga di depan rumah mereka. Ternyata jauh-jauh ke Ciwidey cuma makan ayam bakar tidaklah mengecewakan. Rasanya luar biasa!

Rabu pagi diawali oleh kutukan Abhi; sebuah sms dari Ijun, si Pj Transportasi.

“Bhi, cariin truk buat ngangkut anak-anak. Sopir busnya gak berani ke Rawabogo. Beraninya cuma sampai kota.”

Dan kami para pembantu umum yang malang pun kembali ke kota untuk mencari truk. Akhirnya dengan nego susah payah (mana mahal lagi, miskalkulasi lagi) kami berhasil mendapatkan truk untuk mengangkut anak-anak dengan bantuan Pak Wahid, salah satu perangkat desa. Terima kasih Pak! Tapi ternyata truknya telat, super telat, dan baru tiba beberapa jam setelah busnya tiba di tempat pertemuan (walaupun busnya berangkat telat juga. Napa sih orang Indonesia suka telat?). Akhirnya acara pembukaan dibatalkan dan digabung dengan acara makrab dengan warga.

Setelah mengantarkan anak-anak ke rumah masing-masing (sempat kelewatan satu rumah), akhirnya saya pulang, mandi, dan siap utnuk acara baksos pertama, makrab dengan warga.

“Rod, lu udah bilang kan kalo pakaian penyanyinya jangan seksi-seksi?”
“Hah? Pak Kadesnya nanya mau seksi ato gak, w bilangnya seksi.”
“HAAAAH? Tanggung jawab sama Adrin lo!”

Makrab warga berlangsung dengan cukup baik, walaupun sangat telat akibat Pak Camat telat satu jam tanpa merasa bersalah. Terkutuk kau Pak! Diawali dengan Reog, semacam Lenongnya Orang Sunda (Gak ngerti. Ngomongnya pake bahasa Sunda), Angklung persembahan angkatan, dan akhirnya ditutup dengan dangdutan (Terima Kasih Windy yang berusaha ngedangdut, dan terima kasih juga untuk Sondang yang malu-malu kucing goyangnya). Ngomong-ngomong, penyanyinya pake jilbab gak niat, rambutnya masih ngekor di balik jilbabnya. Ck ck ck. Si Adrin kayanya bisa kena serangan jantung. Angkatan yang mulai kebosanan dan mulai berpulangan sendiri, juga karena kedinginan (Gue bilang juga apa? Dibilang dingin malah anggap remeh. Wajib bawa jakun, akhirnya jaketnya dikeluarkan. Alasan, berat. Rasain!). Hari itu ditutup dengan evaluasi.

Hari kedua baksos, hari keempat saya di Rawabogo, dimeriahkan dengan acara Pengobatan Massal (yang cuma mendapatkan 400an orang dari target 650. Gak papa Nip, memang katanya susah dapet segitu. Mungkin memang kerja kita yang terlalu lambat, tapi kan juga ada faktor dari luar), sirkumsisi (target 40, daftar 13, dateng 7. Katanya memang orang di sono gengsian kalo soal Khitanan Massal Dhil. Gak papalah), bazaar (walau banyak masalah, terselesaikan dengan manis kan Wanda?), Taman Bacaan (Mantep Kev, walaupun u gak bisa hadir. Untung ada Upi. Jadinya dia sakit deh, hehehe), dan Penyuluhan Anak (yang benar-benar melewati target). Hari itu juga dimeriahkan oleh pencak silat, debus, celempungan, gratis dari desa, sebuah pedagang kaki lima yang menjual kaos bergambar Manohara (astagfirullah), pedang-pedangan yang bikin ngiler (kayanya jiwa anak-anak w masih belum hilang), dan aneka jajanan khas SD (kayanya kalo bikin Festival Nostalgia Jajanan SD di FK bisa rame tuh). Banyak masalah, seperti panitia yang menghilang seakan tak peduli, orang-orang yang datang dan pergi bagaikan angin, banyaknya masalah sehari-hari sebuah baksos, namun hari itu tetaplah indah, apalagi ditutup dengan sebuah makrab penuh kejutan manis dari Tim Makrab (award ter- yang aneh-aneh, lagi-lagi w dapet yang aneh lagi, berpasangan dengan Nuril lagi, dua film yang manis, kembang api super mahal, konfeti, dan kenangan, betapa luar biasanya 2006).

Hari ketiga diawali dengan penyuluhan dewasa yang lagi-lagi, terlambat dimulai gara-gara Ibu-Ibunya telat dateng. Untunglah acara tersebut berlangsung sempurna, walaupun target tidak tercapai (50 orang), namun cukup bermanfaat. Ditutup dengan Penutupan dan Peresmian Taman Bacaan, panitia pun pulang dengan Truk (yang sempat membuat Abhi dan w bingung dan panik bagaimana nyesuaiinnya dengan Jumatan), naik bus (ada yang sempet beli Stroberi Goreng! Keterlaluan! Napa gak bilang-bilang? Kan bisa nitip!), dan akhirnya baksos SOLACE pun berakhir…. (dengan seseorang yang di-flirt mulu ama Kades. Rasain!)

Belum. Belum berakhir.

Di tengah perjalanan, saya terbangun di sebuah tempat yang asing. Terdengar pengumuman dari Ijun tercinta,
“Bagi yang mau beli oleh-oleh, ke kamar mandi, 30 menit….”
Boong banget. Ijun ngeluarin bus dari tol tanpa sepengetahuan semua orang dengan alasan semulia ini? Mustahil. Maka saya pun berkonspirasi bahwa Ijun menggunakan kekuasaannya dengan sewenang-wenang untuk membeli Ubi Bakar Cilembu buat Icha! Terkutuk kau Ijun (hahahaha)!

Dan akhirnya, sisa perjalanan dihabiskan (karena sudah gak bisa tidur lagi) dengan menonton beberapa orang karaokean, tertawa, dan bercanda, sambil tersenyum, mengenang baksos SOLACE ini, baksos terbaik se-FKUI, karena dilaksanakan oleh Angkatan 2006, angkatan terbaik se-FKUI, dan juga sambil melamun, betapa luar biasanya angkatan saya, betapa beruntungnya saya terjebak bersama mereka, dan bukan yang lain….

“2006 itu seperti permen N*no-Nan*, keras (SOLID), namun beraneka rasa, indah seperti pelangi, dengan warnanya masing-masing, bukannya membaurkan segala warna menjadi abu-abu yang, well, kelabu. Kita mungkin memiliki warna yang sekilas tidak menarik, kita mungkin memiliki warna yang hilang, namun semua itu, adalah warna 2006. Semua itu, menjadikan sebuah 2006, tetap 2006.”

Pendapat umum dari baksos ini adalah DINGIN. Namun, apakah pendapat pribadi kalian untuk SOLACE 2006/9, apa pendapat kalian tentang 2006?

PS: Ada yang nangis, gara-gara stroberi dia ketinggalan di bus. Begitu mau dikasih ama Adi, langsung sumringah. Buset dah, Ninis, kaya anak kecil aja.