“Dia selingkuh!”
“Dia udah gak perhatian sama aku lagi.”
“Kayanya dia udah berubah.”
“Dia dulu gak seperti ini….”

Kata-kata ini sering teriang-iang di telinga saya. Apakah dari curhat seseorang, reality show “Apakah Kamu Masih Mencintaiku”, maupun dari berbagai media fiksi (walaupun paling sering dari curhatan). Saya mungkin bukan seseorang yang berpengalaman dalam hubungan pacaran, apalagi pernikahan, namun dari pengamatan saya sebagai orang luar, maka masalah utama dari sebuah hubungan laki-laki dan perempuan seperti itu hanyalah sederhana, komunikasi.

Banyak sekali masalah yang terjadi di antara kedua pasangan, yang penyebabnya sederhana; wanita mengharapkan pasangannya tahu tentang sebuah masalah tanpa membicarakannya (emang cowonya cenayang apa ya), dan seperti biasa, para laki-laki tidak cukup peka untuk ngeh soal hal seperti itu. Hampir selalu seperti itu. Sang perempuan menolak bicara, berharap sang lelaki bisa menebak sendiri (Kan katanya perhatian! Gitu aja gak bisa!), dan para lelaki, seperti biasa, “no news is good news“. Walaupun terkadang yang terjadi adalah sebaliknya. Hal sesederhana inilah yang mampu menghancurkan sebuah hubungan yang sudah dibina bertahun-tahun.

Ada juga pasangan yang salah satu pihaknya, saat zaman pdkt, melakukan “jaim to the ekstreme“. Sisi yang ditunjukkan kepada pasangannya adalah sisi termanis dia, dan menutup-nutupi sisi asamnya. Namun, lambat laun, semua topeng pasti akan luntur. Demikian juga halnya dengan kasus di atas, suatu saat nanti sisi asam yang disimpan dengan rapi oleh sang jaimer akan terbongkar. Dan saat itulah semuanya akan berantakan.

Hal lain yang mungkin sederhana adalah ketidaktegaan untuk mengungkapkan ketidaksukaan akan suatu hal pada pasangannya. Biasanya terjadi pada pasangan baru, ketidaksukaan ini akan bertumpuk dan pada akhirnya, meledak suatu saat.

Masih banyak lagi permasalahan yang terjadi pada pasangan, lama maupun baru. Namun, akar permasalahannya hampir selalu sama (akar yang lain mungkin adalah ketidaksetiaan), yaitu keterbukaan, kejujuran, dan komunikasi. Ketiga kata yang sebenarnya hampir mirip maknanya (bukan arti) inilah akar masalahnya. Jadi, solusinya apa? Baik prevensi maupun kurasi masalah akibat ini adalah sama, keterbukaan, kejujuran, dan komunikasi itu sendiri. Lagi pula, apakah ketiga kata tersebut sulit untuk dilakukan? Bukankah anda sudah berkomitmen setia saat memilih seseorang? Ingat, perasaan menggebu-gebu yang dinamakan cinta hanya bertahan selama setahun. Sisanya komitmen. Dan komitmen, dibangun atas rasa percaya, dan rasa setia. Rasa percaya, dibangun atas lagi-lagi, keterbukaan, kejujuran, dan komunikasi.

“Once upon a time, we really loved each other. But as time went by, there just got to be all these things… little things, stupid things, that were left unsaid. And all these things that left unsaid piled up like the clutter in our storage room. And after awhile, there was so much that was left unsaid that we barely said anything at all.”

“Well… Why didn’t you just say ’em then, Dad?”

“I don’t know, Gabe. I kinda wish I had.”

(Adam – Little Manhattan)