Apa-apa yang akan disampaikan di sini bukanlah rahasia para dokter, sebuah istilah bodoh yang lahir dari orang-orang yang membenci profesi ini dengan alasan mereka masing-masing, melainkan beberapa fakta kecil mengenai obat, yang terkadang terlupakan oleh seorang dokter, ataupun tidak diketahui seorang pasien, ataupun ketidakpedulian kedua pihak. Artikel ini akan mengupas beberapa fakta kecil tersebut, dan mencoba untuk mengambil sebuah filosofi hidup di balik kisah-kisah kecil tersebut.

1. Kalau pasien datang ke seorang dokter, maka pertemuan itu akan diakhiri dengan resep, atau obat.

Fenomena ini semakin menjadi-jadi di dunia medis Indonesia, di mana baik dokter maupun pasien mendukung keberadaan hal ini. Dari sisi pasien, mereka menginginkan sebuah benda nyata yang akan mereka bawa pulang, sebuah jaminan bahwa keberadaan pertemuan ini tidaklah sia-sia. Dari sisi dokter, ada dua kemungkinan yang terjadi. Satu, para dokter yang berbahagia, yaitu para dokter yang telah melakukan perjanjian dengan setan (baca: pabrik obat), dan para dokter yang terpaksa, akibat tuntutan pasien.

Benarkah hal seperti ini? Jawabannya: Tidak. Hubungan dokter-pasien yang baik adalah di mana seorang pasien memastikan bahwa ia sehat, bukan memastikan bahwa ia sakit. Oleh karena itu, penanganan berupa obat tidaklah selalu siperlukan. Apalagi, tidak semua kasus memerlukan penanganan berupa obat. Perlu juga ditekankan di sini, bahwa definisi sehat tidak hanya sekedar bebas dari penyakit, melainkan sehat secara bio-psiko-sosial, sehingga mampu menjalankan aktivitasnya dengan baik.

Jangan hanya menatap segala hal berdasarkan apa yang dapat diraba dengan indra duniawi, pandanglah dengan hati, dan telaahlah apa-apa yang ada di baliknya.

2. Obat cuma bersifat membantu.

Obat digolongkan menjadi dua bagian besar. Simptomatik (meredakan gejala), dan terapeutik (mengobati).

Obat simptomatik bersifat mengurangi gejala saja, tujuannya untuk kenyamanan pasien, tanpa menyembuhkan penyebabnya. Obat terapeutik bersifat menyembuhkan penyebabnya, namun sekali lagi, sama seperti judul di atas, hanya bersifat membantu efek dari tubuh itu sendiri. Oleh karena itu, penggunaan obat CUMA SAAT DIBUTUHKAN. Obat-obatan batuk yang dijual bebas, obat penurun demam, semuanya hanyalah obat simptomatik yang bersifat meredakan gejala, agar pasien merasa nyaman. Oleh karena itu, penggunaan obat ini SEBAIKNYA jika pasien merasa sangat terganggu oleh gejala penyakitnya tersebut. Hal ini dikarenakan obat sendiri merupakan zat asing, yang penggunaan berlebihan malah akan memperberat kerja organ ekskresi yang akan membuang obat tersebut, yaitu hati dan ginjal.

Untuk obat terapeutik sendiri, misalnya antibiotik, fungsinya juga cuma membantu fungsi sistem tubuh yang mengeliminasi penyebab penyakit, tidak sebagai kunci utama.

Kunci dari semuanya terletak pada diri sendiri. Jangan mengandalkan bantuan dari luar, apakah dari teman maupun Yang Kuasa. Bantuan tersebut, sesuai namanya, hanyalah membantu. Tanpa usaha diri sendiri, semuanya nol.

2. Polifarmasi

Pernah mendatangi sebuah klinik, lalu mendapatkan puyer ajaib 10 macam obat? Itulah yang kita sebut sebagai polifarmasi. Batuk? Obatnya mukolitik (pengencer dahak), antitusif (pereda batuk), ekspektoran (pengeluar dahak), antibiotik dua jenis, obat dekongestan (buat flu yang bahkan tidak ada gejala), antipiretik (obat demam, yang bahkan pasien tidak demam), dan obat dewa, kortikosteroid (anti radang kuat, akan dibahas lebih lanjut di nomor berikutnya). Apakah semua itu perlu? Tidak.

Penggunaan semua obat di atas menunjukkan inkompetensi seorang dokter, di mana ia hanya mampu mengobati penyakit berdasarkan gejala, bukan berdasarkan penyebab. Hal ini terjadi karena sistem pendanaan kesehatan negara kita yang masih bersifat out-of-pocket (pembayaran berdasarkan layanan), sehingga semakin banyak layanan yang diberikan, perlu ataupun tidak, akan meningkatkan pemasukan pula.

Oleh karena itu, berhati-hatilah dengan polifarmasi, karena seperti yang saya singgung sebelumnya, penggunaan obat yang berlebihan dapat memberatkan fungsi organ ekskresi. Bahkan, obat yang banyak berarti interaksi antar obat yang lebih banyak pula, yang dapat menyebabkan suatu hal yang tidak diharapkan.

Tidak menangani masalah berdasarkan apa yang dilihat saja, tapi cari kunci permasalahannya.

4. Penggunaan Antibiotik Berlebihan

Batuk? Antibiotik. Pilek? Antibiotik. Demam? Antibiotik. Sakit perut? Antibiotik. Kadang satu, kadang dua. Kadang spektrum luas, kadang sangat keras. Namun, apa sebenarnya fungsi sebuah antibiotik?

Semua penyakit di atas merupakan gangguan umum yang terjadi, dan juga memiliki penyebab yang beraneka rupa. Bakteri, virus, atau tidak diketahui penyebabnya (idiopatik). Dan antibiotik, hanya bersifat untuk membunuh bakteri saja. Semua gangguan di atas, jika disebabkan oleh virus, apalagi idiopatik, menyebabkan pemberian antibiotik adalah sebuah kesia-siaan, bahkan sesuatu yang berlebihan.

Pemberian antibiotik yang berlebihan juga memiliki dua efek yang buruk. Yang pertama, kembali seperti di atas, sistem ekskresi. Kedua adalah sifat resistensi terhadap antibiotik tersebut. Penggunaan obat TBC untuk flu akan menyebabkan peningkatan resistensi terhadap obat TBC, yang akibatnya, ketika yang bersangkutan menderita TBC, obat standar tidak dapat digunakan lagi.

Generalisasi hanya menyebabkan pisau anda menumpul. Gunakan pisau roti untuk memotong roti dan pisau daging untuk memotong daging. Generalisasi hanyalah sebuah kebodohan. Perhatikan secara cermat setiap masalah sebelum menyelesaikannya dengan pisau yang benar.

5. Penggunaan Kortikosteroid Berlebihan

Prednison? Dexamethason? Obat-obat inilah bersama berbagai nama obat lainnya merupakan kortikosteroid, sebuah “obat dewa”. Kortikosteroid adalah antiradang ampuh, yang menyebabkan penggunaannya langsung membuat pasien merasa nyaman, bahkan merasa sembuh. Oleh karena itu, banyak para dokter inkompeten yang meresepkan obat ini, dengan tujuan memberikan sebuah rasa sehat yang instan.

Kortikosteroid bukan tidak memiliki efek samping. Efek sampingnya begitu banyak, sehingga penggunaan berlebihan obat ini justru akan melahirkan efek samping yang banyak pula. Kenikmatan sesaat membuahkan petaka (bukan tentang narkoba). Oleh karena itu, penggunaan obat ini harus sangat diwaspadai, dan hanya dipakai jika diperlukan.

Sesuatu yang instan tidak berarti baik. Biar lambat asal selamat boleh sudah ketinggalan zaman, namun terkadang, lambat dapat membuatmu melihat masalah dan merenungkannya lebih teliti. Kenikmatan instan terkadang membutakan.

Beberapa fakta yang mungkin bisa anda petik manfaatnya, dan juga mengaplikasikannya tidak secara harafiah saja, namun juga untuk sebuah kehidupan sehari-hari, sebagai sebuah filosofi. Filosofi Obat; Fakta dan Filosofi, membunuh dua burung dengan satu batu.

Diinspirasi oleh sebuah kalimat: Setiap kejadian/hal pasti ada hikmahnya/pesan moralnya.