Saya tidak tahu lagi apa yang harus saya katakan mengenai seorang Indonesia, yang melakukan pengeboman di tanah airnya sendiri, entah dengan alasan apa. Pastinya sebuah alasan tidak rasional, yang lahir dari sebuah kepala bodoh yang terdoktrinasi selama berpuluh-puluh tahun, dengan sebuah konsep kejahatan yang disulap menjadi sebuah keagungan, dengan sebuah landasan palsu yang memutarbalikkan fakta. Atau karena uang. Entah mana yang benar, saya tidak peduli. Saya tidak bisa, dan tidak akan pernah mencoba memahami kasus ini dari sudut pandang pelaku. Membayangkannya saja sudah membuat saya merinding, entah kalau mengetahuinya secara riil.

Saya tidak akan pernah mengerti mengapa ada orang yang begitu rendahnya, sehingga bisa melakukan pembunuhan dengan sebuah kebanggaan. Tidak hanya satu, melainkan pembunuhan tanpa pandang bulu, tanpa menghitung korban, sebuah pembunuhan dengan pengeboman, yang bertujuan murni untuk membunuh dan merusak sebanyak-banyaknya. Kerugian materi tak perlu dihitung lagi. Kerugian moril, tak perlu diragukan lagi. Korban jiwa? Sepertinya memang ini tujuan keparat ini. Untuk apa? Untuk sebuah alasan yang hanya mereka yang mengerti. Sebuah alasan yang mampu membuat ketiga terkutuk yang dihukum mati kemarin bisa menerima hukumannya dengan bangga, seakan kita telah mengaunegerahinya dengan emas permata.

Betapa inginnya saya menatap sinis dan tertawa terbahak pada wajah tak percaya ketiga laknat itu, ketika sang malaikat menaugerahi mereka jilatan api neraka, alih-alih sorga impian mereka. Dan betapa inginnya saya menatap sinis kepada mata pelaku hari ini, ketika mereka dianugerahi hukuman paling buruk yang mungkin ada. Namun sayang, tak ada yang tahu keberadaan neraka yang sebenarnya.

Apakah yang akan menimpa para pelaku ini ketika mereka ditangkap nanti? Hukuman mati? Ternyata ringan saja, dibandingkan dengan apa yang telah dilakukannya. Padahal, mungkin sebaiknya mereka direbus hidup-hidup, lalu dibubuhi cuka, sebelum akhirnya mereka mati dicincang dengan pisau tumpul. Entahlah. Saya masih merasa hukuman itu masih terlalu baik untuk mereka. Dan kelompok yang mengaku-ngaku sebagai pendukung HAM pasti akan menjerit-jerit lagi, tanpa peduli apa yang sudah dilakukan para kaum terkutuk ini. Mungkin nanti saya akan menciptakan bahan kimia yang jika disuntikkan via intrathecal, akan membuat keparat ini kesakitan luar biasa, namun tidak bisa melakukan apa-apa karena sudah disuntikkan pelumpuh otot sebelumnya. Atau mungkin nanti ada kebijakan baru agar keparat busuk ini dapat dipakai sebagai sarana belajar anatomi dan fisiologi dalam keadaan hidup-hidup, dengan cara dibedah dan dikorek-korek dalam keadaan lumpuh dengan kurare, tanpa anestesi.

Sabbe satta bhavantu sukhitatta. Kecuali pengebom keparat itu.

Sedikit tambahan. Ternyata, dengan tidak kalah busuknya, sekumpulan makhluk brengsek menggunakan rasa takut orang-orang akibat pengeboman kemarin, melakukan serangkaian ancaman pengeboman palsu. Apakah hal ini berhubungan dengan kasuis pengeboman yang sebenarnya, ataukah orang-orang ini hanyalah orang-orang keji sampah yang bercanda di atas rasa takut orang lain, terkutuk jualah mereka.