Sebelumnya, artikel ini tidak bermaksud untuk menghina, ataupun merendahkan golongan tertentu. Hanya sekedar menyampaikan sebuah fenomena yang memang ada di sekitar kita, di mana saya termasuk di dalamnya. Tidak memberikan pesan moral, hanya sebuah berita biasa.

Sebelum membaca artikel berikut ini, terlebih dahulu saya harus menyamakan persepsi saya dengan anda mengenai kata zona aman (safety zone) dan zona nyaman (comfort zone). Zona aman adalah sebuah zona bebas serangan pada sebuah perang, biasanya didirikan oleh sebuah organisasi atau sekumpulan orang yang independen, yang bertujuan untuk menolong para korban perang. Namun, tidak berarti zona ini benar-benar bebas dari perang. Akan ada kejadian serangan nyasar, atau bahkan serangan dari pihak kejam yang tidak menghiraukan etika sebuah perang. Zona nyaman sendiri adalah sebuah teori, di mana seseorang membangun sebuah wilayah aman di sekitarnya, di mana ia dapat beraktivitas tanpa kecemasan maupun risiko. Namun, untuk dapat lebih berkembang, seseorang harus keluar dari wilayah tersebut. Dari kedua istilah inilah saya membuat sebuah istilah baru, zona (ny)aman.

Zona (ny)aman adalah sebuah zona yang mirip dengan zona nyaman, namun berbeda dengan zona nyaman, zona (ny)aman adalah sebuah zona yang masih memiliki risiko, layaknya sebuah zona aman. Secara kasar, saya menerjemahkan istilah baru saya ini sebagai sebuah zona di mana sang penguasa benar-benar familier dengan wilayahnya, walaupun masih memiliki risiko, namun sang penguasa memiliki persiapan untuk menanggulangi bahaya itu. Zona ini kurang lebih dapat disamakan dengan sebuah kota dengan seorang lord yang berkuasa atasnya. Zona (ny)aman adalah sebuah zona di mana seseorang dapat beraktivitas sesuai yang ia inginkan, sebuah zona yang familier, sudah dipahami, dan dapat ditanggulangi jika terjadi masalah.

Jika diumpamakan bahwa hidup ini adalah sebuah sungai, maka zona ini diartikan sebagai sebuah rakit di atasnya. Di sana sang pemilik rakit dapat menghidupi dirinya sendiri, dengan makanan persediaan dia yang tiada habisnya dan kesenangan semaksimal yang ia bisa. Namun, ada makhluk-makhluk sinting seperti saya, yang mau-maunya melompat dari atas rakit tersebut ke dalam sungai, atau bahkan melangkah ke tepian, hanya untuk mengetahui seperti apa di luar rakit tersebut. Beberapa orang sukses yang seperti ini dikategorikan sebagai orang nyentrik, namun untuk yang belum menjadi orang seperti saya, maka orang tersebut dikategorikan sebagai orang gila, karena mau-maunya menghadapi daerah luar zona (ny)aman hanya untuk memuaskan keingintahuan.

Saya termasuk orang yang nekad. Bermodalkan seorang Koko di Medan, saya berani bersekolah di Medan (memang sebelumnya semua kakak saya sudah bersekolah di Medan) meninggalkan zona (ny)aman saya di Kabanjahe untuk sebuah sekolah, yang bahkan, tak seorang pun di sekitar saya mengetahuinya secara familier, hanya dari cerita-cerita saja. Saya adalah orang yang berani sendiri berangkat ke Jakarta naik pesawat, bermodalkan seorang Koko di Bandung, yang ternyata gak tahu-tahu amat jalan di Jakarta, untuk sebuah kampus yang registrasinya di sebuah kota luar Jakarta yang cuma saya dengar namanya saat dirangkaikan dalam nama Jabodetabek, dan kuliahnya di sebuah tempat aneh lainnya. Saya tipe orang yang berani-beraninya berangkat ke sebuah alamat bermodalkan sebuah paragraf pemandu jalan, sebuah kenekadan, dan tentu saja, sebuah peribahasa pedoman, malu bertanya sesat di jalan. Berani mencoba sebuah hal baru, yang mungkin cukup asing bagi saya, hanya karena keingintahuan. Rencana ke depan, saya berencana untuk PTT ke daerah sangat terpencil (dengan sedikit omelan dan cemas orang tua) dan bekerja sebagai sukarelawan di INGO (Maaf Ma, membuatmu selalu khawatir, hehehe). Mungkin masih angan-angan, namun semua itu membuat saya tak sabar menunggunya. Mengapa saya menginginkan hal tersebut? Menolong orang? Berbakti pada nusa dan bangsa? Tentu. Namun alasan utamanya adalah hal yang telah saya sebutkan di atas; melompat dari atas rakit zona (ny)aman saya, ke sebuah zona di luar itu yang saya namakan: zona adrenalin. Mungkin tidak benar-benar fight or flight, namun saya rasa nama tersebut cukup mengungkapkan alasan orang-orang seperti saya untuk melompat ke zona itu. Sebuah petualangan, sebuah ketidaktahuan.

Napa sih u mau-maunya begituan?

Banyak orang yang bertanya, tidak secara eksplisit pertanyaan tersebut, namun kurang lebih menanyakan alasan saya untuk melompat ke zona adrenalin tersebut. Jawaban rasa ingin tahu tidak akan memuaskan mereka. Jawaban tidak tahu, sebuah jawaban yang paling jujur terlebih-lebih hanya akan membuat mereka mendengus tak percaya. Maka saya punya sebuah jawaban yang lebih memuaskan mereka (mungkin):
“Angka harapan hidup manusia cuma 70 tahun. Masa u akan menghabiskan hidup u dalam 70 tahun itu cuma berputar-putar dalam lingkaran kebosanan bernama zona (ny)aman?”

PS: Tak ada yang salah dengan orang yang senang dengan zona (ny)aman. Berbeda dengan zona nyaman yang menyempitkan pola pikir orang, zona (ny)aman ini masih memberikan sebuah kesempatan luas untuk diri anda sendiri. Saya tidak pernah, sekalipun, menyalahkan orang-orang yang memilih untuk bermain dalam zona (ny)aman. Itu hak mereka, itu hidup mereka. Dan sebagian besar orang-orang di dunia ini memilih hal tersebut. Sebuah kepastian. Namun, saya, dan banyak orang lain, memilih untuk meninggalkan zona itu untuk bermain di zona adrenalin. Sebuah petualangan dalam kebutaan. Kami tolol? Mungkin, menurut para penghuni zona (ny)aman. Demikian juga sebaliknya.