Hari ini, sepulang dari makan malam dari Jl. Jatinegara, saya berjalan melalui gang kosan saya, masuk melalui Jl. Salemba Tengah. Di gang tersebut, tampak masih banyak anak-anak yang bermain di jalanan gang tersebut. Pemandangan yang sudah biasa. Namun, sebuah pemandangan berikut ini membuat saya tersenyum kecil di saat mengingatnya kembali.

Dalam gelap, sesosok anak kecil berambut panjang, yang dengan memicingkan mata sejenak (Ya, benar. Saya masih bisa memicingkan mata) disimpulkan bahwa begundal cilik yang satu ini berjenis kelamin wanita. Namun, yang membuat saya takjub adalah bocah ini sedang memperagakan kuda-kuda silat! Ditambah lagi, berikutnya ia menyusul dengan satu tendangan punggung dengan kaki kanan, lalu tendangan tanpa bayangan (ya iyalah, gelap gitu) dengan kaki kiri! Luar biasa! Di sebelahnya seorang bocah cilik masih berseragam pramuka yang walaupun berambut sangat pendek, namun saya sempat identifikasi sebagai wanita juga saat siang hari, juga memeragakan jurus-jurus silatnya! Ck ck ck, saya pikir, ternyata anak cewe zaman sekarang mainnya berantem-beranteman.

Ketika Roro dan Loro itu berhenti bersilat, mendekat tiga orang bocah lainnya yang mudah-mudahan saya tidak salah identifikasi, berjenis kelamin laki-laki. Sambil berjalan ala pahlawan kebenaran (satu di tengah jalan agak depan dikit, yang berdua mendampingi kiri dan kanan, agak munduran dikit), mereka bertiga mendekat ke arah kedua wanita tangguh itu, sambil berkata, “Kita bertiga aja deh! Boleh gak?”

GEDUBRAK! Ternyata emansipasi wanita telah mencapai taraf sedemikian rupanya, sehingga pertarungan melawan kedua wanita perkasa itu baru seimbang dengan tiga orang bandit cowo.

Masih takjub, saya hanya bisa berjalan melalui kelima bocah dengan permainan khayalan mereka, sambil berpikir, betapa bangganya R.A Kartini pada Roro dan Loro Paseban itu.