Hari ini, aku mengikuti sebuah belasungkawa kepada nenek dari salah satu sahabatku. Dan kemudian aku membaca sepenggal note milik salah seorang temanku di kampus mengenai dr. Wendyansyah Sitompul, SpOG yang meninggal di Papua sana dalam perjalanan laut. Hal itu membawaku ke ingatan beberapa bulan lalu, saat aku mengikuti persemayaman Dr. Wendy tersebut. Dan semua hal tersebut, membuat aku teringat akan satu hal yang paling menyakitkan yang mungkin dialami setiap orang; sebuah kata yang terlambat.

Kita boleh menghibur diri sendiri, bahwa setelah kematian, masih ada sebuah perjalanan. Namun, tak ada yang dapat memungkiri bahwa, ada atau tidak perjalanan itu, kita tak akan pernah lagi bisa bertemu kembali dengan orang yang meninggal tersebut. Sebuah pepatah kuno berbunyi:

Kau akan mengerti pentingnya suatu hal/seseorang ketika ia sudah tiada.

Dan saat mereka meninggal, saat itulah, kita baru menyadari, bahwa masih ada kata yang telah terlambat untuk diucapkan.

Terima Kasih untuk apapun yang kau berikan.
Maaf atas segala yang aku lakukan.
Aku menyayangimu.

Penyesalan selalu datang terlambat. Apakah kau masih akan menunda ucapan itu? Dan baru menyadarinya ketika orang itu telah tiada?

Semua tradisi menyiapkan sebuah episode dalam pemakaman untuk anda memberikan kata-kata terakhir untuk yang tiada. Bahkan, untuk orang-orang luar biasa seperti Dr. Wendy, episode itu bahkan disiapkan terpisah sebagai sebuah upacara penghormatan dan penghargaan terakhir.

Namun, apakah semua basa-basi itu sesungguhnya, bermakna?

Ucapkan sekarang, sebelum semuanya terlambat.