Sambil melirik kesana kemari, perlahan-lahan aku keluar dari tempat persembunyianku. Terima kasih pada Sang Kuasa, bahaya tidak pernah menengok ke arah tempat tersebut. Pelan-pelan aku melayang menembus sela pagar kawat tersebut dan masuk ke ruangan di mana kemarin aku menemukannya, sebelum racun keparat itu menginvasi saluran pernapasanku. Untung saja aku berhasil kabur.

Itu dia! Teronggok di dalam kegelapan, aku melihat sosok makhluk gemuk yang akan menjadi korbanku malam ini. Aku melayang dalam kegelapan, penuh rasa angkuh dan puas. Dengan rasa curiga aku mencoba mengendus jejak-jejak racun yang mungkin bersembunyi untuk menyergapku. Tidak ada. Saatnya berpesta!

Aku mengitari makhluk tersebut. Dengan perlahan, akhirnya aku hinggap dan menyeringai. Ingin rasanya langsung kusantap makhluk malang ini, namun sebuah perasaan tidak tenang mengusikku. Tak pernah sebelumnya firasatku menyesatkanku, dan kuharap begitu juga saat ini. Namun, saat aku menatap kembali korban yang tidak bergerak tersebut, rasa lapar meraung-raung dan menggerogoti pikiranku. Ah Persetan! Yang penting rasa laparku hilang dahulu! Segera aku menerkam mangsaku, ketika….

ARRRRGH! Mendadak semuanya menyilaukan. Aku terburu-buru melayang kembali, terbang sembarang arah dalam buta sementaraku akibat cahaya mendadak itu. Terdengar kebutan aneh yang mencurigakan, dan firasatku mengatakan bahwa apapun itu, suara tersebut kemungkinan besar berbahaya. Kali ini, aku percaya sepenuhnya pada firasatku. Aku mencoba menjauhi suara tersebut, akan tetapi….

ZZZZPP!

Firasatku benar sekali lagi. Bunyi tersebut adalah bunyi terakhir yang kudengar sebelum aku jatuh lunglai mencium tanah, seluruh tubuhku remuk rasanya. Apapun yang menyentuhku, rasanya menghancurkan tubuhku luar dan dalam. Sempat kucium bau aneh di sekitar tubuhku. Inikah bau kematian? Perlahan pandangan mataku yang silau tadi menggelap. Aku masih sempat menangkap sekilas calon, atau mungkin, mantan korbanku yang menatap marah ke arahku, sebelum akhirnya gelap menyelubungiku.

Masih terdengar makiannya sebelum aku tenggelam dalam kematian,”Nyamuk SIALAN!”