Anakku
Aku tahu perasaanmu
Aku juga pedih untukmu
Saat aku tahu
Aku harus melahirkanmu
Ke rumah tak berlayak tamu

Anakku
Dulu rumah kita indah sekali
Atapnya biru meneduhi kalbu
Namun kini ia telah mengabu
Karena Saudaramu liar bagai benalu

Anakku
Dulu kolam kita indah sekali
Warnanya biru menenangkan hati
Namun kini ia telah berdaki
Karena Saudaramu memenuhinya dengan darah dengki

Anakku
Dulu tanah kita indah sekali
Hijau asri menyejukkan jiwa
Namun kini semua telah hangus api neraka
Karena Saudaramu membakarnya untuk harta di bawahnya

Anakku
Dulu jendela kita indah sekali
Kuning bingkainya, membawa cahya pelindung nyawa
Namun kini ia malah meminta jiwa
Karena Saudaramu telah memecahkan kacanya

Anakku
Dulu satwa mewarnai dunia
Namun kini hanya tersisa dua
Manusia, yang tamak jiwanya
Dan Setan, yang menunggangi manusia

Anakku
Dulu rumah kita
Sang Bumi Tercinta
Indah seindah-indahnya
Bagai mutiara biru terangnya sorga
Namun kini semua telah tiada

Rumah kita
Yang melindungi kita
Yang menghargai kita
Yang mengayomi kita
Telah binasa karena kita

Anakku
Menangislah
Karena kau tak tahu
Apakah air mata masih mampu mengalir esok

Anakku
Apakah kau dengar?
Sayup-sayup di ujung sana
Apakah kau dengar?
Bisik angkuh Saudara Kandungmu
Yang tak peduli
Kalau ia sedang mengutuk dirinya sendiri?

Anakku
Kiamat bukan murka Yang Kuasa
Kiamat buah buatan manusia