Jari jemari renta dan letih itu akhirnya bergerak. Bidak yang warnanya tak terdefinisikan itu digeser pelan dan akhirnya menabrak jatuh sebuah bidak lain yang berbeda warna. Tak terlihat wajahnya yang terselubung kegelapan, atau cahaya, atau apa namanya yang menyungkupi wajahnya sehingga tidak terlihat, namun dapat dibayangkan sebuah senyum kemenangan, atau mungkin senyum lega di bibirnya.

“Bagaimana?”

Sang lawan mendengus kesal. Ia hanya bisa menatap tak sabar ke sosok di sebelah kanan si tangan renta itu. Lama ia menatap, namun akhirnya ia menoleh kesal tak sabar kembali ke papan catur di hadapannya, papan tak berbatas sejauh pandangan.

Sosok di sebelah si tangan renta akhirnya membuka lipatan tangannya. Sebuah tangan feminin menggeser bidaknya ke arah bidak dari si tangan renta. Terdengar suara merdunya mengejek,”Katakan selamat tinggal pada pulau kecilmu….”

Sosok di sebelah kiri si tangan renta mengeluarkan suara tertahan. Dari suaranya yang samar, kemungkinan besar adalah seorang lelaki muda. Menggerutu, ia hanya bisa menatap tak berdaya ke sekeliling para pemain yang lain. Masih tersisa sang lawan yang bidaknya ditangkap oleh si tua renta untuk mencapai gilirannya membalas, atau setidaknya, menyelamatkan bidak-bidaknya dari serangan lebih lanjut. Dan ia hanya bisa menatap tajam ke arah sang lawan, yang kini berkonsentrasi mencoba membalikkan kedudukannya akibat pukulan telak si tangan renta.

Di bawah sini, sebuah hantaman air laut dahsyat menelan sebuah pulau, sedangkan badai angin topan dengan galaknya menatap pulau kecil yang lain, sisi barat laut dari bencana tsunami tersebut.

Dan di atas sana, keempat sosok itu masih terus bertanding.

Dan di bawah sini, para penghuni pulau hanya bisa menatap cemas sambil berkomat-kamit membaca apapun bacaan yang diajarkan kepada mereka.