Aku bermimpi
Bahwa dunia tak lagi butuh agama
Bahwa dunia tak lagi butuh sorga
Bahwa dunia tak lagi butuh neraka

Aku bermimpi
Bahwa dunia tak lagi butuh negara
Bahwa dunia tak lagi butuh hukum
Bahwa dunia tak lagi butuh penguasa

Aku bermimpi
Bahwa dunia tak lagi butuh harta
Bahwa dunia tak lagi butuh uang
Bahwa dunia tak lagi butuh kaya

Aku bermimpi
Bahwa perang takkan lagi ada
Bahwa bencana takkan lagi ada
Bahwa penyakit takkan lagi ada

Aku bermimpi
Bahwa lapar takkan lagi ada
Bahwa bodoh takkan lagi ada
Bahwa miskin takkan lagi ada
Bahwa derita takkan lagi ada

Aku bermimpi
Ego telah mati
Tidak adil telah mati
Sang “Aku” telah pergi

Aku bermimpi
Tak ada lagi kata “Maaf”
Tak ada lagi kata “Tolong”
Tak ada lagi kata “Terima Kasih”

Aku bermimpi
Bahwa sekat tak lagi mengungkungi yang sama
Bahwa beda telah menjadi sebuah bangga
Bahwa diskriminasi telah mati

Aku bermimpi
Bahwa takut hanya sebuah permainan belaka
Bahwa sedih tak lagi menyelimuti dunia
Bahwa marah hanyalah pura-pura
Bahwa benci hanya sebuah kata canda

Aku bermimpi
Bahwa dunia berdiri atas landasan kasih
Bahwa dunia berdiri dalam saling berbagi
Bahwa dunia berdiri dalam senyum dan tawa
Bahwa dunia tak lagi terbagi dalam hitam dan putih

Namun
Aku tahu aku bermimpi
Bahwa suatu saat nanti aku harus membuka mata
Bahwa beberapa detik lagi aku harus berdiri di dunia yang tak adil ini

Namun
Suatu hari nanti
Utopia akan berdiri

“Anarkisme, ateisme, dan sosialisme berdiri atas nama sebuah utopia. Namun akhirnya, mereka jatuh dalam nama yang tercoret tinta darah.”