Aku menatap sekelilingku. Aku menatap sosok-sosok bengis dengan tatapan yang terluka. Aku tak menyalahkan mereka. Putri kesayangan telah terlambat kutolong. Aku hanya menyalahkan ban bocor yang kualami saat mobil dinasku berguncang-guncang menembus hutan. Aku hanya menyalahkan duri kecil keras yang menembus banku. Aku hanya menyalahkan siapapun, atau apapun, yang menyebabkan duri kecil tersebut berada pada waktu dan tempat yang salah. Aku hanya menyalahkan diriku, yang terburu-buru, sehingga melalui jalan yang tidak familier tersebut. Dan aku menyalahkan sebatang pisau besar yang aku tak tahu namanya yang memisahkan kepalaku dari badanku sepersekian detik lalu. Sekarang leherku kedinginan.

Aku menatap bus besar yang semakin mengecil itu dengan tatapanku yang semakin kabur. Orang-orang mulai menatapku seperti menatap pertunjukan. Yah memang, inilah pertunjukan paling umum, namun paling menakjubkan sedunia. Inilah kematian. Setelah terburu-buru ke kampus setelah ketiduran siang tadi, ternyata akhirnya aku akan terlambat juga ke rapat sialan itu. Bahkan mungkin tidak bisa hadir. Karena saat ini, sosok tubuhku sedang berbaring di kasur kematiannya di aspal keras di persimpangan jalan. Mobil sialan. Lampu merahpun kau tembus. Kepalaku semakin berat. Pandanganku yang kabur semakin gelap. Napasku semakin lambat.

Aku menatap gagang kecil yang mencuat keluar dari dadaku yang berbalut jas putih kebanggaanku, yang kuperoleh dengan bangga beberapa tahun lalu, saat aku mengucap sumpahku. Dari sisi gagang itu mengalir cairan merah yang tidak berhenti. Aku mendongak, menatap wajah pucat ketakutan yang beberapa detik lalu masih berlapiskan amarah. Dan aku menatap dia berbalik dan lari secepatnya dari ruangan kecilku. Aku mencoba berteriak, namun suaraku seakan hilang. Aku hanya berteriak dalam hatiku keras-keras, berharap bahwa suara itu dapat menembus tembok yang mengelilingi ruangan kantorku menuju kepala ayah pasien tadi. “Aku dokter anestesinya, bukan dokter bedahnya. Kau salah dengar informasi sepertinya….”

Aku menatap lemah wajah cemas yang menatapku dari tepi tempat tidur. Seraut wajah yang masih menyisakan kecantikannya di masa mudanya, yang membuatku tergoda berpuluh-[uluh tahun lalu. Yang membuatku Ayah dari anak-anak dan kakek dari cucu-cucu berisik yang mengganggu istirahatku sebelum aku mengusir mereka untuk berdua saja dengan bidadariku. Napasku semakin berat. Selang yang berpuluh-puluh tahun aku pasangkan menembus mulut orang-orang masih berbayang rasanya setelah dicabut dari mulutku beberapa waktu yang lalu atas permintaanku. Aku membuka mulutku. Mencoba berbicara. Dan akhirnya membatukkan sebuah nama yang dalam cemasnya, masih mampu membuat wajah lelah di hadapanku merona merah. Dan aku mengucapkan kalimat yang selama berpuluh tahun menikah dengannya, jarang aku ucapkan, walaupun sering aku tunjukkan. “Aku mencintaimu….” Itulah kata terakhirku. Napas terakhirku.

Aku diam. Menatap tubuh diamku yang beberapa detik lalu sedang berlari ke arah seorang anak kecil yang sedang ketakutan. Angin berhembus menerpa debu-debu kecil dari tanah tempat tubuhku berbaring. Dari atas sini aku melihat sesosok anak yang berbaju tak kalah kumalnya dengan anak yang kulindungi tadi. Ia sedang menggigil, menggenggam erat sebuah senapan yang terlalu besar dan terlalu dingin kejam untuknya. Di telingaku aku masih mendengar suara ibuku dengan nada cemasnya. “Ibu punya firasat buruk mengenai misimu yang kali ini….”

___________________________________________________________________________________________

Kawanku,
Apakah kau tahu kapan nafasmu akan berhenti?
Apakah kau tahu kapan detak berontak jantungmu akan berhenti?
Apakah kau tahu kapan kejut petir kecil di dalam kepalamu akan mati?
Apakah kau tahu kapan kau akan mati?

Kawanku,
Sudah siapkah kau mati satu musim lagi?
Sudah siapkah kau mati satu purnama lagi?
Sudah siapkah kau mati beberapa tarikan napas lagi?
Sudah siapkah kau mati beberapa detak jantung lagi?
Sudah siapkah kau mati sepersekian detik lagi?
Sudah siapkah kau mati?

Kawanku,
Kalau ternyata mati adalah sebuah kata pengakhir semua cerita
Kalau ternyata mati adalah berhentinya semua waktu
Kalau ternyata mati adalah tak berujung lagi
Kalau ternyata mati adalah sebuah tanda titik
Apakah kau siap untuk mati?

Kawanku,
Apakah kau akan tersenyum puas saat kau mati?
Apakah kau akan tertawa bahagia saat kau mati?
Apakah kau akan terkencing ketakutan saat kau mati?
Apakah kau akan menangis penuh duka saat kau mati?
Apakah kau akan marah pada dunia saat kau mati?
Bagaimana nanti kau akan menghadapi Sang Mati?

Apakah kau akan memaki, atau kau akan berterima kasih?

___________________________________________________________________________________________

Seasons in The Sun
Written by Jacques Brel and Rod McKuen (Eng. ver.)
Sung by Terry Jacks (1974), Westlife (2000)

Goodbye to you, my trusted friend.
We’ve known each other since we’re nine or ten.
Together we climbed hills or trees.
Learned of love and ABC’s,
skinned our hearts and skinned our knees.

Goodbye my friend, it’s hard to die,
when all the birds are singing in the sky,
Now that the spring is in the air.
Pretty girls are everywhere.
Think of them and I’ll be there.

We had joy, we had fun, we had seasons in the sun.
But the hills that we climbed
were just seasons out of time.

Goodbye, Papa, please pray for me,
I was the black sheep of the family.
You tried to teach me right from wrong.
Too much wine and too much song,
wonder how I get along.

Goodbye, Papa, it’s hard to die
when all the birds are singing in the sky,
Now that the spring is in the air.
Little children everywhere.
When you see them I’ll be there.

We had joy, we had fun, we had seasons in the sun.
But the wine and the song,
like the seasons, all have gone.

Goodbye, Michelle, my little one.
You gave me love and helped me find the sun.
And every time that I was down
you would always come around
and get my feet back on the ground.

Goodbye, Michelle, it’s hard to die
when all the bird are singing in the sky,
Now that the spring is in the air.
With the flowers ev’rywhere.
I whish that we could both be there.

We had joy, we had fun, we had seasons in the sun.
But the stars we could reach
were just starfishs on the beach (Westlife ver. omitted it)

Original English Ver.

Good-bye, my wife, I loved you well
Good-bye, my wife, I loved you well, you know,
But I’m taking the train for the Good Lord,
I’m taking the train before yours
But you take whatever train you can;

Goodbye, my wife, I’m going to die,
It’s hard to die in springtime, you know,
But I’m leaving for the flowers with my eyes closed, my wife,
Because I closed them so often,
I know you will take care of my soul.