OSPEK adalah sebuah nama terkenal di kalangan calon mahasiswa dan mahasiswa baru. Tidak banyak yang ingat kepanjangannya, namun makhluk-makhluk malang tersebut pasti sudah menyiapkan hatinya akan sebuah pesta darah sebelum secara resmi diterima di kampus tercintanya masing-masing.

OSPEK dan berbagai macam variasi namanya bergantung pada institut masing-masing adalah sebuah tradisi yang ujung pangkalnya tidak jelas, yang bertujuan MURNI menganiaya mahasiswa baru, entah dengan alasan apa. Mungkin supaya jenjang senioritas tetap terjaga, karena siapapun senang dengan adanya babu-babu kecil di bawah telapak kaki mereka. Beberapa pusat pendidikan tinggi telah mencoba membentuk sebuah OSPEK yang lebih “ramah”, yang bertujuan kembali ke asas OSPEK itu sendiri, mengenalkan kampus baru mereka, namun dengan berbagai alasan OSPEK mereka akan banyak ditentang, dicibir, dan bahkan dipandang rendah.

Tibum, Komdis, Keamanan, apapun istilahnya, menjadi bidang paling populer di acara ini. Merekalah raja-rajanya dalam “mendisiplinkan” para makhluk malang. Jabatan-jabatan ini menjadi cukup populer di kalangan para mahasiswa senior, entah untuk ajang balas dendam yang salah kaprah, entah karena kesenangan menurut insting primitif manusia, homo homini lupus (walaupun saya kurang setuju dengan makna harafiah peribahasa ini. Serigala tidak membunuh untuk kesenangan, tidak seperti manusia). Popularitas jabatan-jabatan inilah yang membuat OSPEK gaya lama atau primitif masih terus subur, bahkan di OSPEK model baru itu sendiri.

Banyak institut yang telah mencoba untuk memperbaiki sistem ini agar “sedikit” bermanfaat buat mahasiswa barunya. Namun, sistem bunuh-membunuh ini masih berlaku, bahkan di sistem OSPEK yang baru ini, dengan berbagai macam alasan, dari yang masuk akal sampai menjijikkan.

Salah satu bentuk OSPEK model baru adalah di mana kekerasan fisik telah dihentikan sepenuhnya. Bentuk yang ada adalah kekerasan mental, dengan tujuan yang bervariasi. Salah satunya yang beredar adalah supaya peserta nantinya mudah dikendalikan sehingga acara berjalan sukses. Yang lain antara lain untuk menimbulkan bibit solidaritas di angkatan mereka. Alasan yang lain mengatakan untuk memaksa mereka yang berbakat untuk menunjukkan taring mereka.

Alasan idealis di atas (maksud idealis di sini artinya alasan yang bukan buat ajang balas dendam senioritas) membuat kita harus bertanya ke dalam diri kita sendiri. Apakah manusia, sebagai sesosok makhluk yang dikatakan lebih berakal dan berbudi dibandingkan makhluk lainnya, masih membutuhkan rasa primitif, takut dan benci, untuk memicu disiplin, solidaritas, dan talenta mereka? Pertanyaan ini saya kembalikan pada kalian, yang akan menjadi subjek maupun objek di rangkaian berdarah bernama “OSPEK”, karena jawaban atas pertanyaan inilah yang akan menentukan nasib OSPEK ini nantinya. Karena juga, jawaban goblok seperti ajang balas dendam adalah alasan yang tidak cukup kuat.

Semoga kita dapat menjadi makhluk yang lebih baik.