Altruisme berarti memberikan kebahagiaan kepada orang lain, tanpa mengharapkan imbalan. Hal ini telah diadopsi menjadi etik altruisme, di mana seseorang secara kewajiban moral memberikan kebahagiaan pada orang lain, jika perlu mengorbankan diri sendiri. Salah satu contoh paling terkenal adalah cerita Jataka, di mana salah satu bentuk kelahiran Sang Buddha, seekor kelinci, melompat ke dalam api untuk memberi makan seorang yang sedang kelaparan. Altruisme merupakan ideologi yang bertabrakan dengan konsep Darwinisme sosial, survival of the fittest. Altruisme menjadi salah satu cita-cita kaum idealis, di antaranya termasuk para agamawan.

Namun kenyataannya, saat ini altruisme menjadi salah satu hal terbodoh yang mungkin terpikirkan manusia. Banyak sekali manusia yang mencibir pada konsep ini, dan secara tidak langsung, mempraktikkan hukum rimba “survival of the fittest”. Bahkan, kumpulan orang-orang yang mengaku altruistik ternyata menyimpan motif di belakangnya.

Ribuan umat beragama menyimpan motif Surga dan Neraka, Tuhan, dan karma. Ribuan orang lainnya menyimpan motif balas budi, entah dalam bentuk apa. Altruisme menjadi salah satu ideologi yang semakin luntur dari tatar kehidupan manusia.

Kaum pemuda yang dulunya dianggap merupakan kaum yang memiliki tingkat idealisme tinggi, kini semakin luntur nilai-nilai altrusitiknya. Entah karena paparan sosial awal, yang seharusnya menimpa mereka di fase yang lebih akhir, entah karena tuntutan hidup ala Darwinis, entah karena insting primitif manusia yang semakin menguat. OLeh karena itu, tulisan ini ditulis untuk memberikan sebuah guncangan moril kepada kalian yang masih mengaku manusia.

Masihkah kau memegang idealisme altruistikmu? Ataukah kau termasuk yang mencibir dan menyindir kaum idealis dan altruis?

Tulisan ini lebih bersifat pemicu untuk sebuah diskusi, sehingga tidak terlalu berisi informasi maupun motivasi. Jadi, datanglah dan kita berdiskusi.