Tiga tahun kurang tiga bulan kita telah bersama. Diawali sebuah acara ilegal yang memberikan dilema (OKK atau Briefing PSAU?), tak disangka kini kita akan meninggalkan tahap pertama kita menuju impian kita, Dokter Indonesia!

Aku masih ingat saat kita berlari-lari seperti orang gila, bukan dikejar siapa-siapa, melainkan mendekati makhluk-makhluk gila yang memaki-maki dan menjerit-jerit tanpa alasan yang jelas. Masih terengah-engah, kita semua langsung dipaksa duduk dengan “mandibula ketemu sternum” yang terkenal itu. Aku masih ingat, kegilaan makhluk-makhluk konyol itu menelan korban yang anehnya bukannya membuat mereka melunak, malah menjadi-jadi. Iya kan temanku, Aris? Kau sampai tak bisa mengikuti puncak penyiksaannya gara-gara itu.

Aku masih ingat makhluk-makhluk yang tak pernah aku kenal sama sekali, dicekik dan ditarik untuk menjadi kepala suku sebuah kelompok barbar yang disatukan oleh kesamaan dalam hal “Makhluk Baru (Maba)”. Aku masih ingat, ketika makhluk malang yang akhirnya harus memikul tanggung jawab mengepalai kelompok gelisah yang katanya “polos tak mengerti maknanya mahasiswa”. Deryl, aku angkat jempolku empat buah untukmu. Aku masih ingat, sebuah kata yang awalnya muncul karena sesuatu yang konyol, kini menjadi sebuah kata paling bermakna dalam sejarah kemahasiswaan kita, SOLID.

Aku masih ingat dua hari paling ajaib dalam hidup kita. Dua hari di mana kita disiksa untuk sesuatu yang masih belum dapat dicerna maknanya. Namun, siksaan itu bisa terbungkam dengan munculnya satu makhluk dewa bertubuh tambun yang akhirnya, membuat dua hari itu menjadi sedikit menyimpang dari yang seharusnya. Namun, pada hari itu juga, kita untuk pertama kalinya, bergandeng tangan dan berteriak dalam hati, inilah keluargaku yang baru! Pada hari itu, kita tahu, bahwa kita adalah satu. Bahwa kita akan melangkah bersama menuju cita-cita kita.

Aku masih ingat hari di mana kita menunjukkan gigi susu pertama kita. Walau banyak cacatnya, kita berhasil mengukir nama kita di lembah sekitar kampus dalam rupa Bakti Sosial. Memang tidak seberapa. Namun itulah taring pertama kita. Sesuatu yang mengukir senyum di setiap bibir makhluk 2006 saat mengenang hari yang indah itu.

Aku masih ingat rangkaian acara yang mengekori dua hari itu. Kadang lucu, kadang menyenangkan, kadang menyedihkan, kadang memalukan, kadang juga membosankan. Namun, aku juga ingat, hari di mana kita akhirnya diuji. Hari di mana kita dibanting. Hari di mana kita secara harafiah bersatu untuk mencapai tujuan kita. Hari di mana keringatmu semua menempel di bajuku yang sekarang entah hilang ke mana. Saat itulah, rangkaian Mabim terlama sepanjang sejarah (mungkin) menelurkan angkatan terbaik sepanjang sejarah pula.

Aku masih ingat perayaan besar kita mengakhiri Mabim kita. Hari di mana para algojo penyiksa kelihatan bulunya. Kita berteriak keras, melemparkan jakun yang sudah muak kita memakainya, walaupun sebenarnya tidak sampai setengah waktu yang diwajibkan kita memakai jaket tersebut. Yah, bolehlah berpura-pura. Hari di mana kita akan menyebar dan merajai setiap badan di kampus kita, dan menunjukkan taring kita, bahwa angkatan 2006 memang angkatan terbaik yang dimiliki kampus perjuangan ini.

Aku masih ingat, setiap tetes keringat (belum darah) yang kita habiskan untuk mengukir nama kita di kampus ini. Kita menyebar di begitu banyak badan. Kita berjuang dengan menanggung beban moral nama baik 2006. Kita mengukir nama besar kita di setiap pohon kebanggaan kampus kita. Dan kini, kitalah pewaris kampus. Apakah kita akan meninggalkan noda di jalan setapak ini? Ataukah kita akan mengukir keangkuhan dalam kemenangan?

Aku masih ingat, hari-hari di mana kita diuji ke-SOLID-annya. Hari di mana kaos ungu bisa bermakna ganda. Hari di mana akan mengarahkan kita, ke hari puncak, di mana kita akhirnya menyadari, bahwa kitalah yang harus mengubah ini semua.

Aku masih ingat, saat kita dimaki-maki, diumpat, diperkosa, dirusak kehormatannya di hadapan adik-adik kita. Aku bisa mendengar bisikan cemooh dari makhluk-makhluk yang seharusnya kita beri contoh. Semua karena apa? Karena kita telah menodai tangan kita sendiri. Tapi, apa hendak dikata.

“Saudara Pertama telah meninggalkan Saudara Keempat dalam hausnya. Ia menggelepar, sekarat, lalu mati. Saudara-saudaranya yang lain hanya bisa menatap, entah karena tega, entah karena takut pada Kakak Sulungnya.”

Aku masih ingat, janji kita bersama. Bahwa kita akan membuat jalan setapak kasar ini layak untuk pewaris kita. Bahwa cambuk bukanlah jawaban atas segalanya.

Kini kita akan melangkah ke lembar baru hidup kita. Di mana kita akan tercabik secara raga ke berbagai penjuru. Saat di mana ke-SOLID-an kita akan diuji untuk langkah terakhir kita.

Aku duduk di sini. Tersenyum sendiri seperti orang bodoh. Menatap jauh ke saat di mana dari bibir-bibir kita akan meluncur sumpah kita untuk berbakti pada negara. Saat di mana 5 tahun hidup kita akan ditanya, apakah masih akan tetap sama? Sampai maut mencuri jiwa kita?

Aku duduk di sini. Merenung. Apakah kita masih akan melangkah bersama? Sampai mati?

Kalianlah yang tahu jawabnya.

Namun aku tahu satu hal. Mungkin kita bukanlah angkatan impian, di mana kita satu pikiran, satu jalan, satu kata, satu warna. Namun, angkatan terbaik bukanlah angkatan kosong polos tak menarik dalam bentuk angkatan terdikte seperti itu. Kita adalah angkatan penuh warna, saling mengisi, saling mewarnai, dan bersama membentuk warna warni surga bernama Bianglala. Kita tak perlu menyamakan warna, karena dengan aneka warnalah pelangi itu ada.

Tulisan ini kupersembahkan untuk angkatanku tercinta, beberapa bulan sebelum kita akan memasuki masa klinik. Akan banyak sekali masalah yang akan kita hadapi, namun yakinlah, 2 tahun lagi, saat aku menulis kelanjutan dari tulisan ini, semua akan baik-baik saja. Yang lain boleh mengaku lebih baik, tapi yakinlah, FKUI 2006 adalah yang TERBAIK. Kita akan buktikan pada dunia, bahwa kita adalah yang terbaik.

2006? SOLID!