Damnatio memoriae secara harafiah berarti penghapusan dari memori. Hal ini merupakan salah satu bentuk hukuman  di zaman Romawi kuno, di mana seseorang dihapus keberadaannya dari sejarah, seakan-akan orang tersebut tak pernah terlahir. Hal ini mungkin merupakan hukuman terberat di zaman itu, di mana nama merupakan salah satu hal yang paling penting dari seseorang. Di sini dapat dilihat bahwa nama dianggap sebagai suatu hal yang sangat penting dalam hidup.

Pentingnya nama itu sendiri juga dapat terlihat pada Herostratus, seorang pemuda yang membakar Kuil Artemis di Ephesus pada 20 Juli 356 SM. Mengapa? Hanya agar namanya dikenang sepanjang sejarah. Dan kini, nama Herostratus bahkan lebih terkenal dari pendiri kuil itu sendiri, dan digunakan sebagai idiom berbagai bahasa di dunia.

Di Indonesia sendiri, ada sebuah peribahasa lama yang masih dipakai sampai sekarang, yaitu:
“gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.”
Di sini terlihat bahwa nama, adalah suatu hal yang sangat krusial di kehidupan masyarakat.

Namun kenyataannya, banyak manusia yang tidak memperdulikan hal tersebut. Setiap harinya, tak tehitung jumlah manusia yang meninggal tanpa meninggalkan jejak apapun mengenai kehidupannya. Bahkan orang-orang terdekat dia pun tidak punya memori indah tentang dirinya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hanya karena satu hal, orang tersebut tidak mampu memaknai arti kehidupan yang sebenarnya.

Apakah hidup ini? Apakah hidup ini hanya sebuah fase sebelum kita kembali pada-Nya? Tidak ada yang tahu apa yang akan kita alami nantinya. Apakah suatu hari nanti, kita akan meninggal tanpa satu orangpun mengingat kita? Atau sebaliknya, orang-orang akan berbisik-bisik tentang keburukan kita semasa kita hidup?

Memento Mori. Ingatlah akan kematian. Sebuah frase Latin ini mengingatkan kita kembali bahwa hidup ini tidaklah kekal. Setiap agama mengajarkan kita untuk berani menghadapi yang namanya kematian. Namun, apakah penting bahwa kita siap menerima kematian dengan tabah? Bukankah hal yang lebih penting adalah, apakah kehidupan kita yang akan berakhir ini cukup bermakna? Atau kembali lagi kepada topik-topik awal:

“Apakah saya sudah cukup dalam mengukir nama saya di dunia ini?”

Mengukir nama tidaklah harus dengan menjadi selebritis. Bahkan sebaliknya, ribuan selebritis akhirnya tenggelam namanya setelah meninggal. Mengukir nama dapat dilakukan dengan sangat sederhana; melakukan apa yang kau suka dan benar-benar tekun mendalaminya. Memberikan sesuatu untuk dunia. Archimedes. Phytagoras. Thomas Alva Edison. Isaac Newton. Albert Einstein. Leonardo da Vinci. Florence Nightingale. Mother Theresa. Segelintir nama inilah orang-orang yang mengukir namanya dalam-dalam di dunia ini. Karena apa? Karena mereka memberikan yang terbaiknya mereka untuk dunia. Karena mereka, mencintai apa yang mereka lakukan.

Jutaan orang-orang di dunia ini melakukan apa yang mereka lakukan karena tuntutan masyarakat. Akhirnya, mereka hanya menjadi sebutir pasir di pantai yang tidak menunjukkan namanya. Namun, segelintir orang memilih jalannya sendiri, dan mencintainya, dan akhirnya menunjukkan pada dunia siapa mereka sebenarnya, dan mengukir namanya di dunia. Orang-orang inilah yang akhirnya akan menambahkan namanya pada deretan nama-nama pada paragraf sebelumnya. Mereka tak menginginkan nama, namun dunia memberikannya kepada mereka karena usaha mereka sendiri.

Kembali lagi padamu. Apakah kau akan menghabiskan waktumu melakukan apa yang dunia anggap seharusnya kamu lakukan dan tenggelam bersama jutaan orang lainnya yang melakukan hal yang sama? Ataukah kau akan memilih jalanmu sendiri, mencintainya, dan menjalaninya? Dunia akan mengenalmu, karena kau berbeda, dan bermakna.

“Sama akan membuatmu menjadi lilin kecil di tengah lautan lilin, di mana ketika kau padam, tak akan ada yang menyadarinya.
Berbeda akan membuatmu menjadi menjadi kembang api yang akan terus bernama.
Berbeda dan bermakna, akan membuatmu menjadi matahari, yang akan terus ada, dan akan terus bermanfaat untuk dunia.”

“Apakah kau akan memvonis damnatio memoriae pada dirimu sendiri?”

Tulisan ini murni pendapat saya pribadi. Anda diizinkan untuk menyanggah, mengkritik, mengutuk, menghujat, dan membenci tulisan ini (tapi jangan saya). Namun, izinkan saya juga untuk menolak menjawab argumen anda jika saya menganggap hal tersebut akan memicu perselisihan. Semoga anda mendapatkan sesuatu dari tulisan ini, apakah menjadi tercerahkan, atau menguatkan pendapat anda pribadi. Tak peduli apakah tulisan ini sejalan atau bertolak belakang dengan pendapat anda.