Adikku sayang
Matahari sudah mulai tenggelam
Malam sudah mulai menjelang
Sekarang saatnya kita tidur

Tapi
Apakah kamu bisa lelap?
Apakah kamu bisa tidur di atas seribu tangisan perih?
Apakah kamu mampu menutup telinga, melangkah santai dalam mimpimu yang indah, tanpa PEDULI pada sesamamu yang malang?

Bangun adikku
Bangun!
Sekarang bukan waktunya kamu tidur
Sekarang bukan waktunya kamu menikmati mimpimu di atas mimpi buruk saudara-saudaramu!

Apakah kamu bisa menari indah di atas derita seribu saudaramu?
Apakah kamu bisa menutup matamu, tidak peduli, kepada makhluk malang itu?

Bangun Keparat! Bangun!
Perlukah aku menamparmu?
Perlukah aku mencekikmu?
Agar kamu tahu, secercah kecil penderitaan saudaramu?

Mereka tak butuh darahmu
Mereka tak ingin jiwamu
Mereka hanya butuh
Uluran tanganmu

Seteguk air dari tanganmu dapat menghidupkan seribu nyawa yang sekarat

Adikku
Mimpimu di dunia hanya sekejap mata
Apakah kamu akan terus bermimpi indah, dan tak peduli dengan rongrongan nyeri saudaramu?

Bila kau masih menolak
Bila kau masih tak peduli
Aku tak tahu lagi
Aku juga tak peduli
Persetan denganmu!
Semoga Setan menguburmu dalam gelap tujuh kali lipat saudara-saudaramu!

Adikku
Kau tak perlu menyumbang hidupmu
Kau tak perlu menyumbang nyawamu
Kau hanya perlu
Peduli

Belaian tanganmu mampu menguatkan seribu pikiran yang lelah

Kau tak perlu membangun negeri
Kau tak perlu megukir Sorga
Apapun yang kau beri akan mengukir senyum di wajah mereka
Karena adikku,
Kalau bukan kamu, siapa lagi?