Takdir?
Takdir adalah wayang di tangan dalang
Ada hanya untuk pertunjukan semata
Hanya menunggu bergesernya kayon
Patet nem, patet sanga, patet manyura
Kapan ia akan berperan, kapan ia akan menghilang
Ada, hanya untuk hiburan semata
Untuk siapa?
Sang dalang sudah tahu ceritanya

Takdir?
Takdir adalah gang kecil berliku
Pasti arahnya, pasti ujungnya
Kau tak memilih untuk menjalaninya
Kau tak bisa memilih untuk berhenti
Kau tak bisa memilih untuk membalik diri
Kau tak bisa memilih jalanmu sendiri
Kau hanya tikus kecil di labirin takdir
Yang tak bercabang, yang tak berbuntu

Takdir?
Takdir adalah membaca novel picisan untuk kedua kalinya
Tak ada lagi rahasia yang belum terkuak
Tak ada lagi pertanyaan yang belum terjawab
Tak ada lagi pintu yang belum terbuka

Takdir?
Takdir adalah omong kosong manusia untuk membela kebodohannya
Untuk membela ketidakmauannya meniti hidup sebagaimana mestinya
Untuk menyalahkan Sang Kuasa saat karma menghunjam dirinya

Aku tak percaya takdir
Karena hidup bukanlah dibaca
Kau menulis hidupmu sendiri

Catatan: Kayon adalah lembar berbentuk gunungan dengan berbagai macam
fungsi, salah satunya adalah penunjuk waktu saat pertunjukan wayang.
Patet nem, sanga, dan manyura adalah nama peletakan kemiringan kayon
sebagai penunjuk waktu, meniru pergerakan matahari.
PS: Buat yang Wong Jowo, perbaikin namanya kalo w salah tulis ya! Hehehe.