Sore ini, saya baru pulang dari Perayaan Waisak KMBUI. Penat, lelah, masih harus menempuh beberapa puluh kilometer lagi di atas kereta api (listrik?) Depok-Cikini.

Di tengah jalan, salah satu senior KMBUI yang kebetulan ikut (Ko Hindra) mencolekku sambil ngomong, “Mau makananmu tuh,” sambil menunjuk seorang anak yang merengek penuh derita seperti babi mau disembelih (cat: pepatah ini diambil dari Dhammadesana pas Waisak tadi. Terima kasih Bhante. Maaf, saya masih melekat pada daging :p). Secara samar-samar di balik lenguh dan kuik (???) anak itu terdengar kata-kata “Mau Hoka-Hoka Bento….”

Di tangan saya ada kotak makanan berlebih bekas (uh, maksudnya sisa. Eh, gak ada istilah yang lebih sopan ya?) konsumsi Waisak tadi. Biasalah, anak kosan biasanya selalu dapat jatah yang begituan. Mungkin bentuknya yang dikemas dalam kotak styrofoam, anak setan itu (maaf atas kata-kata kasarnya, Red.) teringat pada Hokben (nama kerennya Hoka-Hoka Bento. Kasihan, nama bagus-bagus disingkat jadi aneh gitu).

Saya paling tidak tahan mendengar anak-anak menangis. Yah, memang, tampang tidak mendukung saya berwelas asih pada anak-anak, tapi itulah kenyataannya. Salah satu alasan mengapa saya tidak mau menjadi spesialis anak. Gak tahan denger anak-anak nangis mulu! Apalagi liat ICU anak-anak. Brrr….

Akhirnya, dengan berat hati saya mencolek ibu yang sedang kerepotan mendiamkan anak setan (Berarti ibunya = ibu setan???) itu sambil menyodorkan kotak makanan itu.

“Kalau anaknya mau Ibu, gak papa deh.”
“Gak usah!” Ibu tersebut menjawab ketus.

W kaget. Syok. Untuk pertama kalinya memahami sepenuhnya apa arti kata harga diri. Walaupun diletakkan pada waktu yang salah.

Buat Ibu Setan (karena anaknya anak setan), Maaf kalau dikira menghina. Saya bukan menghina Ibu gak mampu beli Hoka-Hoka Bento buat anak Ibu yang kaya kurang gizi itu, tapi gak tahan denger anak Ibu menjerit, melenguh, menguik, dan mengeluarkan berbagai dengus ratap lainnya. Gak tega hati ini Ibu. Gak nyangka, pengen berbuat baik malah dianggap menghina.

Semoga Anak Setan itu memperoleh damai di hatinya. Entah karena akhirnya dapet Hokben, entah karena capek menguik, entah karena leleh di bawah tatapan Ibunya.

PS: Dari jeritan anak itu dan ketidakmampuan Ibu itu mendiamkan anaknya, kayanya emang anak yang terbiasa dimanja.