Ketika matahari membelai bumi dengan jari-jemarinya
Membelai penuh kasih, membelai penuh sayang
Ketika matahari bercumbu dengan bumi
Adakah ia tahu, bumi pun bercumbu dengan sang bulan?
Adakah ia peduli, bumi pun bercumbu dengan sang bulan?

Ketika rembulan tersenyum pada sang bumi
Menari riang di bawah selimut malam
Ketika rembulan merayu sang bumi
Adakah ia tahu, bumi pun dirayu sang mentari?
Adakah ia peduli, bumi pun dirayu sang mentari?

Aku hanya bisa menghela napas
Penuh sesal, penuh tanya
Ketika dua belas kali aku telah dihunjam duka
Ketika dua belas kali aku telah direnggut jiwa
Masihkah aku mampu menatap langit dan mengharapkan sang bintang untuk tersenyum dalam malam?

Tetes darah tak percaya telah merubungi setiap jengkal tubuhku
Robekan luka masih menganga telah menggores tegas jiwaku
Aku tak ingin lagi dicabik makhluk kotor itu
Indah pada awalnya, namun seperti nyala api, membakar setiap tatap penuh kasih

Duka berujung luka
Luka berujung dendam
Dendam berujung murka
Murka berujung dosa
Dosa berujung duka

Aku hanya bisa menghela napas perih
Tangis seakan tak mampu lagi mengalir
Setiap gores luka tubuhku, jiwaku, tak lagi terasa pedih
Aku telah membatu, beku, di dalam dukaku

Aku sudah lelah menanggung setoreh luka baru lagi
Aku sudah terlalu kecut untuk menggandeng Sang Dewi Angkuh Berjubahkan Duri
Aku hanya bisa mengernyit, mengkerut, dan menyeret diri ketika ia menyunggingkan senyum palsunya yang licik
Aku hanya bisa meringkuk di sudut, layaknya sampah, sambil mencaci di dalam hati
Tanpa berani berucap sepotong kata

Pergilah kau makhluk laknat nan nista!
Aku tidak butuh dirimu!
Lihat! Setiap jengkal tubuhku telah terhunjam potongan durimu!
Pergi kau, pergi! Makhluk Jalang! Persetan dengan tetes manis madumu!

Aku menatap matanya marah
Matanya yang besar indah
Yang bertahta ringan di lekuk wajahnya yang menggoda
Dan aku menatap langsung diriku sendiri
Yang meringkuk seperti kotoran dan menghinakan diri sendiri

Aku merasa jijik akan diriku sendiri

Dan
Di balik senyumnya yang licik
Di balik jubahnya yang penuh bidadari
Di balik sosoknya yang mengoda namun berbisa
Aku tidak melihat jantungnya, hatinya, yang hitam bagai jelaga
Aku melihat, bidadari

Dan aku berdiri
Dan aku bangkit
Dan aku berlari
Menyongsong sang duka
Untuk menjatuhkannya, mempermalukannya
Demi jiwaku yang telah kembali

Aku telah menenggak habis isi gelasku sekali lagi