Seorang sahabat pernah bercerita tentang sebuah “malapraktik” yang dialami oleh keluarga beliau. Di sini, kakek saudara ini didiagnosis menderita “paru-paru mengecil”. Dokter menyatakan bahwa pasien harus dilakukan “operasi pengembangan paru-paru”. Ternyata, menurut sahabat saya, pasien dilakukan “penusukan rongga dada”. Pasien hanya bisa berbaring selama beberapa hari setelah itu, dia kemudian meninggal. Kesedihan keluarga pasien diperburuk dengan pernyataan tetangga bahwa kakek sang tetangga juga menderita hal yang sama, dan pasien hanya “dikasih obat”.

Dari cerita tersebut, saya menyimpulkan bahwa pasien menderita pneumotoraks, sebuah gangguan di mana rongga dada berisi udara. Akibatnya, paru-paru menjadi menyusut karena ruang antara paru-paru dan rongga dada meluas. Untuk mengobatinya, maka rongga dada pasien harus ditusuk dengan semacam pipa, agar udara dalam rongga dada tersebut bisa keluar, sehingga paru-paru mengembang kembali. Tidak ada terapi lain yang bisa menggantikan teknik ini.

Cerita kedua. Saat saya mengikuti skrining talasemia massal yang gratis di Pusat Talasemia RSCM, dalam rangka perayaan Hari Talasemia Internasional, saya mendengar sebuah percakapan singkat antara resepsionis dengan salah seorang yang ingin mengikuti skrining gratis tersebut.

Resepsionis (R): Lho Pak, Bapak anaknya Talasemia kan?
Bapak (B): Iya.
R: Kalo gitu Bapak udah pasti positif Pak. Gak usah diperiksa lagi.
B: Oh iya ya?

Talasemia adalah kelainan darah di mana sel darah merah kurang mampu mengangkut oksigen. Talasemia  adalah penyakit genetik/keturunan.

Pada kasus pertama, keluarga mengalami duka dan benci yang mendalam kepada dokter, dengan dugaan bahwa pasien telah mengalami malapraktik, berupa sebuah tindakan yang tidak disetujui oleh keluarga. Padahal, kejadian ini murni adalah kesalahpahaman karena penjelasan yang TIDAK CUKUP dari sang dokter mengenai tindakan yang akan dilakukan. Di sini, bisa dilihat bahwa dokter tidak memberikan informasi yang jelas kepada pasien.

Kasus kedua. Anak Bapak ini adalah pasien tetap Pusat Talasemia tersebut. Namun, Bapak ini tidak mengerti tentang konsep Talasemia ini sendiri. Ini dibuktikan dengan Sang Bapak yang tidak mengerti bahwa dialah yang mewariskan sifat talasemia ini kepada anaknya. Sekali lagi, pasien tidak mendapatkan informasi yang cukup.

Saat ini, semakin banyak calon pasien Indonesia yang memilih untuk berobat ke luar negeri. Alasan utamanya bukanlah mengenai fasilitas yang kurang, melainkan bahwa DOKTER LUAR lebih menyenangkan karena memberikan penjelasan sejelas-jelasnya yang dibutuhkan pasien dan keluarga. Sebuah hal yang sederhana, memberikan perhatian yang lebih pada pasien, memberikan informasi yang memuaskan pasien, dan tidak terburu-buru untuk mengejar jumlah pasien, hal-hal inilah yang kurang dari dokter Indonesia. Apakah kalian, calon-calon dokter Indonesia, masih akan melakukan kebodohan yang sama? Keangkuhan dokter, yang menganggap bahwa pasien itu bodoh, masihkah berlaku?

Kualitas kedokteran kita dalam hal peralatan maupun SDM, walaupun masih belum bisa dibandingkan dengan negara maju seperti AS, Jepang, dan sebagainya, bisa dianggap setara, bahkan mungkin sekali lebih baik daripada negara-negara tujuan utama calon pasien Indonesia. Namun, semua ini runtuh hanya karena kesombongan tentang ilmu pengetahuan. Masihkah hal ini pantas? Saya kembalikan pada kalian, wahai mahasiswa kedokteran.

Buat sahabat-sahabatku yang non-kedokteran, mohon pengawasannya untuk kami-kami, para pewaris “tahta” dunia kedokteran nantinya. Dan juga, jangan berobat ke luar negeri mulu :p