Dengan terburu-buru karena udah telat (udah jam 6, acara mulai 6.30), w naik taksi menuju MGK (Mal Mega Glodok Kemayoran, bukan MKG-nya Gading) untuk menghadiri acara Waisaka Pujanya Mahabudhi (Majelis Mahayana Buddhis Indonesia) yang KATA KETUA KMB kita dapat kursi VIP. Ternyata? Menyusul sms dari Sang Ketua kalau VIP-nya berjumlah 2500 orang. Sama aja boong! pantes g pake tiket! Dasar penipu!

Tapi tidak apa-apa. Berikut ini adalah liputan tentang Waisaka Puja yang saya hadiri mewakili YM Ketua KMBUI XVII yang berhalangan hadir karena tugas.

Di sini kita disuguhi dengan pameran Relik, yang sangat banyak sekali. Namun, sayang sekali Relik Gigi Sang Buddha Gautama yang menjadi daya jual acara satu ini ternyata gagal didatangkan. Namun setidaknya kekecewaan terobati dengan relik-relik dari Para Arahat yang namanya tidak dapat saya sebutkan satu persatu karena saya sendiri juga g hapal :p

Relik Dilihat Dari Dekat

Selanjutnya acara utama dimulai di dalam ruangan. Di pintu masuk, saya diberikan sebuah kotak makanan gede yang bikin ge-er. Ternyata setelah dibuka, isinya snack doank. Eits, buakn sembarang snack. Entah maling dari mana, sepertinya kedua roti yang ada di dalam itu roti yang MAHAL plus sebotol AQUA BOTOL KECIL, bukan Aqua gelas seperti biasanya. Buset, royal juga ini acara ya?

Ruangannya cukup bikin syok. Sangat royal!. Bayangkan saja, ruangan itu terpasang 4 OHP digital dan lampu-lampu disko warna-warni gak jelas. Waisak atau konser? G papa. Kita lanjutkan lagi ceritanya.

Acara-acara utama adalah Puja, Ceramah, lalu yang paling bikin saya kaget, DOORPRIZE yang kupon undiannya diperoleh dari hasil BERDANA BUNGA dan PELITA. Di mana lagi makna berdana di sini? Pake doorprize segala. Masya Buddha.

Acara-acara utama diselingi dengan hiburan berupa lagu yang dibawakan oleh Linawati (yah, pasti kenal lah ya), Jude yang katanya Runner Up Cheng Sin (gak ngikutin), dan Deasy yang g tau siapa itu.

Acara pertama adalah Puja 3 aliran sekaligus, yaitu Theravada, Mahayana, dan Tantrayana. Buset, berdiri selama itu! Sepertinya ini buah karma karena g ikut Puja pas Jumat sore waktu RPH. Ampun….

Puja Theravada dipimpin oleh YM. Maha Sangharaja yang berasal dari Kamboja. Di sini terlihat sekali kurangnya kesiapan panitia dalam membimbing peserta Puja. Satu-satunya alat bantu yang disediakan hanyalah selembar slide berisi Paritta, yang terdiri dari 4 bait saja. Saya tidak memperhatikan slide ini, karena isinya sangat tidak lengkap. Yang saya lihat sekilas hanyalah keberadaan Vandana di bait pertama. Bait-bait berikutnya saya tidak perhatikan lagi.

Puja berikutnya adalah Puja Mahayana. Buku Puja yang dibagikan adalah buku yang dipakai di Vihara Bodhi Dharma Loka, salah satu pendukung acara ini. Namun, masih ada Keng yang tidak tercantum di buku itu juga. Saya yang jarang Puja Mahayana jadi cukup kelabakan.

Di sini ada satu hal yang ingin saya komentari lagi. YM Bhiksu Tadisa Paramita Sthavira yang memimpin Puja ini menjadi seperti bukan memimpin kebaktian, melainkan seperti karaoke. Hal ini disebabkan musik pengiring Keng yang sangat “Ngepop”. Ya ampun, Puja atau Karaoke? Kasihan Suhu.

Selanjutnya adalah Puja Tantrayana yang dipimpin oleh Llama dari Tibet, namun saya lupa namanya (bukannya pilih kasih. Dua Bhante di atas ada contekan namanya di iklan Waisaka Puja ini di majalah yang dibagikan). Di sini, semua peserta dengan tidak sopannya sudah duduk sepanjang Puja, mungkin karena sudah kelelahan. Di sini kesiapan panitia lebih buruk lagi. Sama sekali tidak ada teks untuk peserta mengikuti Puja. Akibatnya, Llama yang cukup kekar itu (kayanya Llama-Llama Tibet itu kekar-kekar ya? Kehidupan berat di sana) membimbing Puja hanya ditemani oleh Para Sangha Tantrayana lainnya. Sungguh tidak sopan!

Setelah itu, masuk di acara Ceramah oleh pemimpin Puja Mahayana sebelumnya, yang juga Ketua Mahabudhi, Bhiksu Tadisa. Namun, topik ceramah yang sangat tidak menarik yaitu “Meraih Sukses di Era Krisis Global” itu membuat saya memutuskan untuk pulang saja.

Eh, tak dinyana, begitu sampai kosan, ada mahasiswa Trisakti yang sms, minta ketemu, mau ngasih undangan dari KMB Binus. Buset dah. Maaf ya, anak Trisakti yang saya g tau namanya, namun dengan kurang ajarnya nama saya diubah menjadi Rudri. Dimaafkan.

Begitulah kisah pengkhianatan yang dilakukan oleh Ketua Umum KMBUI XVII. Saya berat menceritakan kebobrokan internal BPH XVII, namun terpaksa saya ceritakan agar tidak berlanjut di kemudian hari. (Maaf Mando! Hahahahaha)

Akhir kata, saya merasa kalau Waisaka Puja ini merupakan acara yang sangat membuang biaya. Entahlah kalau ternyata dana yang dikumpulkan ternyata mampu menutupi, bahkan lebih untuk renovasi Vihara Bodhi Dharma Loka yang terdapat di Jl. Pakin, Slipi, Jakut.

Pesan terakhir, bila ada kata yang salah, menyinggung perasaan, saya minta maaf. Tulisan ini hanya limpahan perasaan belaka yang ditulis karena iseng.

Foto-foto selengkapnya dapat dilihat di sini.