Hari ini kita gores nasib kita
Lima tahun ini
Akankah kita berjaya
Lima tahun ini
Akankah kita disiksa
Lima tahun ini
Akankah kita dibela
Lima tahun ini
Akankah kita dianiaya

Hari ini saksi kita
Akankah ksatria berkuda putih menepati janjinya
Ketika ia kan menduduki tahta
Akankah pangeran mengangkat kita di atas dirinya

Siapa yang akan kau pilih, Saudara?
Pangeran Pertama, di bawah bayangan Sang Raja?
Pangeran Kedua, yang digerakkan kasim berbisa?
Pangeran Ketiga, Pangeran kembar yang saling menusuk dan curiga?
Pangeran Keempat, yang tertatih disapu langit murka?
Pangeran Kelima, yang janjinya penuh dusta?
Pangeran Keenam, yang tak jelas keberadaan dan kebenarannya?
Pangeran Ketujuh, yang hanya angkuhkan dirinya dan sombongkan nafsunya?
Pangeran Kedelapan, yang malah menganggap ini lelucon belaka?
Pangeran Kesembilan, yang tak pernah meraih wibawa?
Pangeran lainnya, yang tak pernah mampu mengalahkan Sang Sembilan Nama?
Pangeran lainnya, yang bahkan tak mampu menjerit untuk dirinya?

Aku hanya mampu menatap kosong keempat puluh empat nama tak berarti di depan mataku
Aku hanya gemetar menggenggam pedang algojo penentu nasib bangsaku

Aku menutup mata lelah
Aku menghela napas lelah
Aku menggulung kembali keempat puluh empat nama yang seakan tertawa sinis padaku

Andai saja nasib bangsaku tidak tertoreh di garis tanganku!
Andai saja nasib tanahku tidak tergaris di takdirku!
Namun andai takkan melegakan kalbu

Semoga goresku takkan kecewakanku dan bangsaku