Aku melihat sosok punggungnya yang lebar
Aku melihat sosok bahunya yang kekar
Aku melihat senyumnya yang hangat
Aku melihat lengannya yang kuat
Aku melihat kakinya yang kokoh
Aku melihat pangkuannya yang nyaman
Aku melihat Ayahku seorang

Aku melihat sosok punggungnya yang lebar
Yang memanggul deraian cambuk kehidupan
Yang datang mencabik
Agar tak sejentik pun menyentuh putranya yang ketakutan
Aku merasakan punggungnya yang kokoh
Yang memanggulku menghadap muara tawa

Aku melihat sosok bahunya yang kekar
Yang dalam diamnya mengangkat dari lumpur kebodohan
Walau kaki-kakinya menjejak di lumpur busuk
Biarlah ia tetap bahagia menghadap dunia
Agar putranya tak tersentuh noda
Aku merasakan bahunya yang kekar
Yang mengangkatku dari seribu air mata duka

Aku melihat senyumnya yang hangat
Yang menyinari seribu hariku
Walau senyum terkadang berkerut
Namun itu hanya karena
Kau harap senyumku di esok hari
Aku merasakan senyumnya yang lebar
Menembus jiwaku menghantarku di puncak para Dewa

Aku melihat tangannya yang kuat
Menegak, menunjuk ufuk timur di pagi hari
Memberi jalan bagiku yang buta hati
Agar ku tahu, ke mana ku kan maju
Aku merasakan tangannya yang kuat
Menggandengku meraih bintang di bawah kubah malam

Aku melihat kakinya yang kokoh
Kokoh menginjak bumi
Injakkan tapak kaki sebagai penghantar jalan
Aku mengejar
Berlari
Menelusuri petunjuk kecil hidupku sepanjang hayatku
Aku merasakan kakinya yang kokoh
Menghantarku menuju matahari tenggelam

Aku melihat pangkuannya yang nyaman
Ke mana aku kan berpulang
Ketika aku lelah akan hidup
Ketika aku salah dalam hidup
Ke sana aku kan berpulang

Aku melihat sosok punggungnya yang lebar
Aku melihat sosok bahunya yang kekar
Aku melihat senyumnya yang hangat
Aku melihat lengannya yang kuat
Aku melihat kakinya yang kokoh
Aku melihat pangkuannya yang nyaman
Aku melihat Ayahku seorang