Sang Dewa angkuh luar biasa
Sungguh mulia, agung, tak cacat rupa-Nya
Manusia hanyalah kutu kecil di hadapan-Nya
Murka-Nya diledakkan hanya demi kesenangan belaka
Sungguh, Dewa Murka tak berguna!

Satu pulau telah dihancurkan-Nya
Sekali sapu, luluh lantak semuanya
Untuk apa?
Hanya untuk kesenangan belaka
Hanya karena secercah dosa
Hanya karena setitik noda
Satu kapal besar, tenggelam dalam samudra

Kini, satu lautan telah dihapus-Nya
Mengapa?
Hanya karena nikmat belaka
Hanya karena satu manusia
Hanya karena Ia tak suka
Satu Samudra diraup kering
Diganti Tanah Murka Dewa

Sang Dewa angkuh nan perkasa
Manusia kecil busuk berbungkus dungu menyembah pada-Nya
Manusia kecil tegar menentang diri-Nya
Namun,
Seperti sudah diduga
Sang Dewa nan perkasa musnahkan manusia kecil tegar yang malang
Manusia kecil busuk berbungkus dungu?
Hanya untuk pijakan kaki saja

Sang Dewa angkuh luar biasa
Telah melupakan janji-Nya
Telah melupakan setiap patah kata sumpah-Nya
Kau Dewa busuk keparat!

Setiap murka-Nya
Setiap serpih kehancuran oleh-Nya
Disangkal oleh-Nya
Bahwa diri-Nya
Hanya mengemban tugas belaka
Bahwa diri-Nya
Hanya menyanjung tinggi suatu Kebenaran Semu
Yang kata-Nya
Warisan Tanah Agung

Aku?
Aku hanyalah manusia kecil dungu lemah tak berdaya
Aku hanyalah manusia durhaka keparat yang telah menodai sepatu Sang Dewa
Ketika Ia menginjak mati diri hamba yang hina
Aku
Hanya bisa menatap pedih pada langit kelam
Dan bertanya
Dalam gelap kematianku.

Dalam matiku
Aku menangis.