Ketika aku mengira langit sudah mati
Langit terbuka, dan seorang bidadari pun tersenyum
Aku hanya terpana tak bisa bicara
Dia hanya berdiri, dan terus tersenyum

Aku pun berlari mendekati
Menyeberangi Sungai Dua Belas Desa
Dia hanya berdiri, seakan menanti
Seakan berkata
Kamu bisa!

Namun
Ia berbalik
Melangkah menjauh
Aku berlari seperti gila
Namun ia hanya melangkah
Dan terus melangkah

Apakah aku harus terus berlari?
Mengejar Sang Bidadari?
Ataukah aku harus berhenti?
Dan berkata, Sampai Nanti?

Aku tak mengerti

Aku sudah lelah
Aku tak mampu lagi
Aku berhenti
Duduk
Berbaring
Menanti

Aku takkan pernah mengerti